Rabu, 17 Desember 2014

AKU

Aku ingin bingar
Aku ingin di pasar
Tidak hanya mendengar suara-suara yang menggantung di daun telinga
Enggan masuk
Aku ingin dengar yang nyata
Tak hanya menggelantung dan menggelitik di daun telinga
Enyah!
Membuat telingaku panas

Sabtu, 06 September 2014

Zona Nyaman

Pernah membayangkan gak, apa yang akan kamu lalui kelak? Hal ini benar-benar tidak pernah terbesit dalam hati. Memang benar, jangan terlena dengan hal-hal menarik yang membawamu berada di zona nyaman. Terkadang ada pula orang yang merasa nyaman dengan apa yang dimiliki dan dilakukan sekarang hingga akhirnya dia lupa untuk beranjak. Segala sesuatu tentunya akan membuatmu nyaman, akan tetapi kamu lupa bahwa diluar sana ada hal-hal menarik lainnya yang akan membawamu berada di zona nyaman berikutnya.

Senin, 14 Juli 2014

About Pooh and Friends

Dia bernama Pooh. Pooh Naenggolan. Aku membelinya sekitar 4 bulan lalu di pasar burung Jaya seharga Rp. 275.000. Pada waktu itu Pooh masihlah kecil jika dibandingkan dengan tubuhnya yang montok seperti sekarang. Dengan mata masih belum bisa melek dan kepala yang tampak lebih besar dibanding dengan tubuhnya, ku bawa dia pulang ke rumah dengan menggunakan tas kertas. Baunya khas. Entahlah, aku tak dapat menjelaskan seperti apa baunya saat itu. Yang pasti, menusuk hidung dan membuat kepalaku pusing. Tapi dia lucu. Itu yang membuatku rela untuk membelinya. ^_^
Sekarang Pooh sudah besar. Makannya lele dan minumnya susu. Selain itu Pooh sekarang sudah punya banyak fans. Yah, sebut saja begitu. Semenjak dia bisa berlari dan berenang, ayah sering kali mengajaknya ke sungai untuk bermain air atau mencari yuyu (kepiting kecil yang ada disungai). Dan dari sanalah, cerita Pooh dan “teman-temannya” bermula.

Minggu, 08 Juni 2014

Kemanakah Kau Sebenarnya Kemerdekaanku?

“Kata orang kita telah merdeka. Tapi merdeka untuk siapa? Sudah meratakah kemerdekaan itu? Ataukah hanya kemerdekaan untuk sebagian yang lain dan tak sepenuhnya”
Sudah hampir 69 tahun Indonesia merdeka. Mencoba keluar dari kebelengguan setelah sekian ratus tahun harus merasakan tekanan dibawah kuasa penjajah. Senasib sepenanggungan. Mungkin begitu awal negaraku ini dibentuk. Lantas, proklamasi telah usai dikumandangkan lalu benarkah semua rakyat benar-benar merasakan kemerdekaannya? Ataukah hanya “perpindahan tangan” penguasa saja?

Paksa

Paksa datang. Begitu saja. Tak ada angin, tak ada hujan, Paksa datang dan memaksaku untuk menerimanya sebagai teman. Dia memaksa dan mengancamku untuk menurutinya. Semua kemauannya. Tanpa harus ada pembelaan diri.
Aku dan Paksa bertemu di toilet sekolah taman kanak-kanak. Dia menyeretku dengan ancaman. Tak ada perlawanan dari tubuhku yang masih kecil saat itu. Terlalu dini bagiku untuk mengenalnya lebih jauh. Tapi apa daya, itulah awal kali aku bertemu dengan Paksa.

Jumat, 06 Juni 2014

Selipan Hidup

Masih ingat dalam ingatanku bagaimana rasa dari sentuhan tangannya, logat dari bicaranya dan sikap merayunya saat aku sudah mulai ngambek dengannya. Hilang. Itu hanya sebuah kenangan setahun yang lalu saat aku bersamanya. Akan tetapi saat ini semua berubah. Aku berada di tempat yang berbeda. Jauh dari tempatnya tinggal. Tak hanya itu aku pun jauh untuk mencium bau kota yang selama ini aku hirup. Tak ada lagi. Tak ada. Karena disinilah aku berada sekarang.

Minggu, 04 Mei 2014

Peninggalan Sejarah

Batu Kenong di situs Menhir Duplang Kamal Arjasa merupakan batu persembahan kepada arwah atau roh para leluhur.

Jumat, 21 Maret 2014

Hebat≠Salut

Aku teringat akan sesuatu malam ini. “Banyak orang yang lebih tua ingin dianggap hebat oleh orang lain karena bla bla bla. Akan tetapi saat ini gak sedikit kamu menemukan anak muda yang ingin dianggap hebat oleh orang lain.” ucapan ini pernah diutarakan oleh salah satu temanku pada saat ngopi bersama. “Hebat itu ingin dipuji dan dianggap ‘bisa’ oleh orang lain. Berbeda dengan salut.” tambahnya.

Rabu, 19 Maret 2014

Berpisah di 19.38 WIB

Lama tak bersua kawan. Rindu rasanya dapat bertemu lagi. Aku kembali membawa cerita-cerita yang pernah hadir dalam kehidupanku. Kali ini aku akan sedikit bercerita mengenai 8 jam-ku bersama Cak Lesus kemarin.
Selepas pukul 11.00 WIB, aku memacu Nancy-ku (Sepeda motor F1ZR kesayanganku) ke rumah Cak Lesus. Bukan tanpa alasan aku pergi kerumahnya. Malam sebelumnya dia memintaku untuk mengajaknya jalan-jalan. Kemana saja. Mungkin jenuh dalam kehidupannya lagi kambuh.
Saat aku datang, Cak Lesus ada di depan rumahnya bersama kedua tamunya. Tak selang berapa lama, tamu tersebut pun pamit pulang. Tinggallah aku dan dia. Untuk mencairkan suasana, Cak Lesus mengeluarkan beberapa buku untukku baca. “Islam Yang Memihak”, aku pernah melihat buku ini sewaktu bazaar buku Ecpose 2 tahun yang lalu. Akan tetapi aku belum tertarik membacanya sampai saat ini. Entah mengapa.

Kamis, 09 Januari 2014

Tempatku Berpijak

Terlalu naïf jika ku katakan aku tak pernah merasakan kemerdekaan
Tak perlu lagi bambu runcing sebagai bentuk perlawanan bangsa
Tak ada lagi karung goni yang dijadikan pelindung tubuh
Cucuran dan pertumpahan darah telah usai
Riak-riak semangat masih ku dengar untuk dilantunkan
Kesetaraan masih terus dan tetap diperjuangkan
Terlalu naïf jika ku bilang negaraku tak lagi berkuasa
Aku masih punya ribuan pulau atas nama negaraku, Indonesia
Masih ada ratusan suku dan bahasa yang dapat disatukan atas nama Bahasa Indonesia

Mama


Mama…
Namamu ku sebut dalam sanubariku
Dalam detik hening nafas yang berhembus
Dalam lampion-lampion kasih sayang baktiku padamu
Mama…
Ku tahu peluh yang menyelimuti setiap harimu
Demi pendidikan di masa depanku
Terproyeksikan jelas dalam keringatmu

MASUKNYA ‘KUDA TROYA’ DALAM PERUSAHAAN


Ketika Odysseus memimpin tentara Yunani menggunakan sebuah kuda kayu raksasa yang kemudian dikenal dengan sebutan Kuda Troya, adalah cara yang digunakan untuk bisa masuk ke kota bangsa Troy, musuhnya, tanpa perlawanan. Cara ini dipilih untuk kemudian dapat menghancurkan bangsa Troy dari dalam. Strategi yang sama digunakan di dunia bisnis global saat ini. Bedanya, sang Kuda Troya saat ini menyerupa sistem buruh dan outsourcing yang masuk ke pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan dunia maju maupun berkembang dan disambut dengan meriah. Pastinya oleh pengusaha, tapi juga oleh buruh yang mengira itu adalah proses yang biasa dalam bisnis.

Yang Ku Kenal


Maya adalah gadis kembang desa yang banyak disorot oleh kaum adam di desanya. Tak hanya wajahnya yang putih dan mulus, tingkah laku dan sopan santunnya bisa diacungi jempol. Rambutnya hitam dan tergerai sebahu. Selepas SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Maya mulai bekerja di sebuah KUD (Koperasi Unit Desa) di dekat desanya. Ia biasa melayani pelanggan yang datang untuk membeli ATK (Alat Tulis Kantor) atau pun untuk sekedar fotokopi. Waktunya dihabiskan di KUD sampai sore menjelang.
Suatu hari ada pemuda bernama Sugi yang datang untuk membeli sesuatu. Sugi bekerja di salah satu pabrik yang letaknya tak jauh dari tempat Maya bekerja. Sugi masih baru beberapa bulan menginjakkan  kakinya di tempat ini.
“Mbak, beli kertas A4 dan bolpoin ya?” ucap Sugi
Maya pun menoleh ke arah asal suara. Sambil tersenyum ia pun segera mengambil barang yang dipesan oleh Sugi.
“Ya ampun..siapa gadis ini? Rambutnya..tergerai indah. Cantik.” batin Sugi

Perempuan Hujan


Malam.
Malam mulai merajut saat rintik-rintik hujan mulai menampakkan kehadirannya. Sofhie, begitulah biasa aku dipanggil. Seorang gadis belia berumur 17 tahun yang menghabiskan 2 tahun belakangan ini untuk setia menunggu di bawah atap genting yang mulai berlumut. 2 tahun aku sudah setia menunggu.

Rabu, 08 Januari 2014

Sepasang Mata Di Sudut Kelas


Cinta? Kalau bilang cinta pasti gak jauh-jauh dari yang namanya cinta negara, cinta agama, cinta keluarga, karir, hobi ataupun monyet? Apa? Coba ulangi. Aku bilang coba ulangi sekali lagi. Haha.. Ya, cinta monyet. Cinta monyet disini hanyalah sebuah istilah cinta anak “ingusan”. Anggap saja cinta yang dialami oleh anak yang masih remaja. Biasanya cinta monyet itu berkisar anak remaja yang baru merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Ceile..Jadi bisa dibilang pacar pertamanya.

Kandasnya Secuil Cinta yang Dibangun


Aku terus memandangi kartu nama yang ada dihadapanku.
“Iya. Tidak. Iya. Tidak. Iya. Tidak. Ah…aku bingung.”
Sebelumnya aku tak pernah tahu kalau kita sama-sama berasal dari Jember. Secara kebetulan aku dan dia dipertemukan di Bali saat itu. Pertemuan yang tak disengaja saat menonton Pagelaran Wayang Rama dan Shinta 10 hari yang lalu masih saja membekas diingatanku. Laki-laki itu.

Senyuman Di Awal Tahun

Senyuman di Awal Tahun
Dia menatap ke arah langit. Lepas. Pandangannya menyapu semua bintang yang bertebaran. Tatapannya kosong. Sudah 2 jam gadis mungil ini duduk terdiam memandangi malam yang kian larut. Entah apa yang dipikirkannya. Semenjak kecelakaan itu, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Yah, semenjak kecelakaan bulan Agustus lalu.