Maya
adalah gadis kembang desa yang banyak disorot oleh kaum adam di desanya. Tak
hanya wajahnya yang putih dan mulus, tingkah laku dan sopan santunnya bisa
diacungi jempol. Rambutnya hitam dan tergerai sebahu. Selepas SMK (Sekolah
Menengah Kejuruan) Maya mulai bekerja di sebuah KUD (Koperasi Unit Desa) di
dekat desanya. Ia biasa melayani pelanggan yang datang untuk membeli ATK (Alat
Tulis Kantor) atau pun untuk sekedar fotokopi. Waktunya dihabiskan di KUD
sampai sore menjelang.
Suatu
hari ada pemuda bernama Sugi yang datang untuk membeli sesuatu. Sugi bekerja di
salah satu pabrik yang letaknya tak jauh dari tempat Maya bekerja. Sugi masih
baru beberapa bulan menginjakkan kakinya
di tempat ini.
“Mbak,
beli kertas A4 dan bolpoin ya?” ucap Sugi
Maya
pun menoleh ke arah asal suara. Sambil tersenyum ia pun segera mengambil barang
yang dipesan oleh Sugi.
“Ya
ampun..siapa gadis ini? Rambutnya..tergerai indah. Cantik.” batin Sugi
“Ini
mas, semuanya Rp. 4.700.” ucap Maya.
Sugi
cukup tercengang memandang Maya yang dinilainya begitu menawan. Dia pun tak
sadar bahwa Maya menunggunya untuk membayar .
“Mas, semuanya Rp. 4.700.” ulang Maya
“Mas, semuanya Rp. 4.700.” ulang Maya
Seketika
itu pun Sugi menyadari bahwa tangan Maya sudah menunggu pembayaran atas barang
yang dipesan oleh dirinya. Langsung dirogohnya uang yang ada di saku celananya.
Setelah membayarnya Sugi menyempatkan waktu untuk sebentar meliriknya sebelum
dia pergi.
“Wanita
yang cantik.” gumamnya sambil berlalu.
OoO
Wajah
Maya yang lembut dan menenangkan masih terbayang oleh Sugi.
“Bagaimana
pun aku harus bisa menjadi kekasihnya. Aku jatuh cinta padanya.” bisiknya pada
diri sendiri seakan memberi semangat untuk bisa mendapatkan Maya. Keinginannya
untuk bertemu wanita pujaannya tak dapat dibendung lagi hari itu. Segera dia mengambil
kunci motor dan segera melesat ke tempat kerja Maya dengan alasan akan membeli
sesuatu.
Sesampainya
disana, mereka pun bertemu. Singkat cerita alamat tempat tinggal Maya sudah ada
di genggamannya. Malam itu pun dia segera meluncur ke tempat Maya. Namun sakit
hati yang dia dapat karena ada seorang laki-laki yang sudah lebih dulu datang
untuk meng-apeli Maya. Dia tahu, Maya
belumlah memiliki pasangan jadi dia berani bertaruh bahwa yang datang tersebut
adalah salah satu dari pesaingnya yang sama-sama memperebutkan Maya.
“Permisi.”
kata Sugi saat berada di depan pintu rumah Maya.
Dengan
tersenyum Maya mempersilahkan Sugi untuk masuk dan memperkenalkan laki-laki
yang ada di depan kepadanya. Joko adalah teman Maya sewaktu masih di SMK. Joko
sudah lama memendam rasa kepada Maya, tapi rasa itu tak pernah terbalaskan.
“Jadikah
kita pergi malam ini?” tanya Sugi pada Maya. Ini adalah trik yang dilakukan Sugi
agar pesaingnya merasa tak enak hati lalu segera pergi. Ternyata trik ini
berhasil. Karena merasa mengganggu,akhirnya Joko pun ijin untuk pulang. Sugi
dapat berdua dengan Maya malam itu, akhirnya.
OoO
Hubungan
yang berjalan dengan lancar itu tak terasa sudah menginjak 2 tahun. Sugi
akhirnya memperistri Maya. Bahtera rumah tangga dijalaninya dengan bahagia.
Sampai pada akhirnya anak pertama pun lahir setelah setahun pernikahan mereka.
Namanya Ina, gadis mungil yang telah dinanti-nantikan oleh pasangan ini. Mereka
sangat menyayangi Ina dan mencurahkan segala perhatian untuknya.
5
tahun kemudian Ina pun memiliki adik laki-laki lucu. Dia tampan dengan pipi
gembulnya. Namanya Vino. Betapa lengkap rasanya keluarga ini. Sekarang di
keluarga ini ada Maya sebagai Bunda, Sugi sebagai ayah dan 2 anak sebagai pelengkap. Terasa lengkap
dan melengkapi.
Saat
Ina menginjak kelas 6 SD. Maya merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ada
sebuah benjolan kecil di dekat payudaranya. Terkadang terasa nyeri saat
dipegang. Tapi Maya mencoba tak menghiraukannya. Semakin lama benjolan itu
semakin membesar. Karena khawatir akhirnya Maya bercerita kepada suaminya. Sugi
pun menyuruhnya untuk segera memeriksakan kesehatannya ke dokter.
Keesokan
harinya Maya pergi ke dokter sendirian karena Sugi harus masuk kerja dan tidak
bisa mengantar istrinya ke dokter.
“Biar
saya periksa benjolannya.” ucap Dokter Frina yang menangani Maya.
Setelah
beberapa lama Dokter Frina pun kembali dan mengatakan bahwa Maya terkena kanker
payudara stadium akhir.
“Kanker
ibu harus segera dioperasi. Biaya operasinya sekitar Rp. 20 juta sampai Rp. 25
juta. Kalo tidak segera dioperasi takutnya benang-benang kankernya semakin
menyebar dan tidak dapat ditangani.” Dokter Frina berusaha memberikan
penjelasan.
OoO
Maya
menceritakan semuanya kepada suaminya. Sebelum mengambil keputusan untuk
operasi, keduanya berusaha mencari informasi terkait dengan penyakit yang
diidap oleh Maya. Banyak teman-teman yang menyarankan untuk berobat ke alternatif.
Malahan ada salah satu temannya yang bernasib sama dengan Maya dan dapat sembuh
setelah berobat ke salah satu alternatif. Selain lebih murah, alternatif
kebanyakan tidak mampu menyembuhkan penyakit yang sudah terkena operasi.
Akhirnya
pilihan ini pun dijalani oleh Maya. Maya mengikuti saran dari teman-temannya
untuk berobat ke alternatif. Sesampainya di tempat yang disarankan, Maya
menunggu antrian hingga dia di panggil oleh Kyai Slamet yang akan mengobatinya.
Banyak yang cocok berobat ke Kyai Slamet. Dan banyak pula yang sudah sembuh
dari penyakit-penyakit kronis yang dideritanya tanpa harus operasi.
Namanya
pun akhirnya dipanggil. Dia segera beranjak dari tempatnya duduk dan menuju di
depan Kyai Slamet. Ruangan ini tak begitu lebar dan tak ada kursi yang
melengkapinya. Sehingga pasien yang datang haruslah duduk dibawah dengan tikar
yang sudah dibentangkan.
“Kemarikan
jari kakimu. Biar aku deteksi penyakitmu lewat jari-jari kakimu.” pinta Kyai
Slamet pada Maya
Maya
segera mendekat dan membiarkan jari-jari kakinya dipegang oleh Kyai Slamet.
“Daerah
mana yang sakit? Kau memiliki benjolan kan?” tanya Kyai Slamet untuk
memastikan.
“Iya,
ada benjolan di dekat payudara saya. Kalo dipegang terasa nyeri. Tambah lama
kok tambah membesar ya, Kyai?” jelas Maya.
“Itu
namanya kanker. Jika tak segera diberantas maka akan menjalar kemana-mana.
Minumlah air putih ini terlebih dahulu. Selanjutnya aku akan memberimu racikan
tanaman obat untuk kamu minum 3x sehari. Pagi,siang dan malam. Sedang ampasnya
kamu tempelkan pada benjolan itu. Selain berikhtiar kamu juga perlu berdoa
kepada Tuhan agar membantu penyembuhanmu. Semua akan baik-baik saja karena Dia
punya rencana tersendiri,percayalah.” papar Kyai Slamet dan memberi semangat
kepada Maya agar tak henti-hentinya berdoa kepada-Nya karena tak ada yang tak
mungkin bagi-Nya.
Maya
dengan teratur menjalankan apa yang Kyai Slamet suruh kepadanya. Dengan sabar
dia menantikan mukjizat Tuhan. Setiap hari harapannya kian tebal saja. Sampai
pada akhirnya dia merasa benjolan yang ada di dekat payudaranya mulai mengecil.
Dan kesembuhan sudah di depan mata.
Semua
anggota keluarga merasa senang mendengar berita tersebut. Semua menyambut
gembira dengan harapan hari-hari yang dilalui akan seperti dahulu lagi.
Diselingi gelak tawa dari anggota keluarga.
Dua
tahun berlalu dan semua anggota telah melupakan hal itu. Hal yang membuat Maya
tampak lebih kurus. Namun justru semua itu seakan pemanis untuk sementara
waktu. Tak dinyana, benjolan itu masih ada. Walau kecil, benjolan itu masih
ada. Dan lebih parahnya Maya merasa ada benjolan baru yang muncul di sekitar
payudara di sebelah lainnya. “Apalagi ini?” tanyanya dalam hati.
Merasa
janggal akhirnya Maya pun pergi ke tempat dia berobat 2 tahun lalu. Akan tetapi
tidak seperti harapan. Kyai Slamet yang mengobatinya dulu ternyata sudah wafat.
Maya seakan buntu. Kemana lagi dia akan mengobatkan penyakitnya jika bukan ke
Kyai Slamet.
Dia
mencoba bertanya-tanya kepada teman-temannya yang lain. Siapa tahu ada alternatif
lain yang bisa dia kunjungi. Satu per satu dia mulai mencoba ke alternatif yang
disarankan oleh teman-temannya. Namun keadaan tak kunjung membaik. Benjolan itu
kian membesar dan terasa nyeri saat dipegang.
Seminggu
yang lalu, suaminya, Sugi terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di pabriknya
karena pabrik mengalami penurunan omset, maka PHK pun tak terelakkan. Dalam
lotrean pemecatan tersebut ada 100 nama yang keluar dan salah satunya adalah
Sugi.
Keadan
semakin sulit saat Ina juga harus melanjutkan sekolahnya ke sebuah SMA di
daerahnya. Sugi, ayahnya belum mendapatkan pekerjaan yang baru. Sedang Naning
juga harus segera berobat untuk menyembuhkan penyakitnya. Keduanya butuh biaya
yang besar. Sedang pemasukan belum ada sedikitpun. Untuk tiap harinya saja,
Maya dan keluarga harus hutang beras ke toko terdekat.
Sugi
tak sanggup mengendalikan diri saat dihadapkan dengan kondisi ini. Dia tak tega
mendengar rengekan sakit dari sang istri tiap malam. Dan Ina juga tak
henti-hentinya mengingatkannya untuk segera menyiapkan uang agar dia dapat
melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Dia
pergi ke dapur. Duduklah dia termangu dengan kepala disangganya dengan
tangannya. Dia mulai berpikir keras apa yang akan dilakukannya untuk bisa
mendapatkan uang.
“Aku
tak boleh berdiam diri saja. Aku harus melakukan sesuatu untuk keluargaku.”
Gumamnya dalam kesendirian di malam itu.
OoO
Handphone Sugi berdering. Ada sms yang masuk.
Tak tahu siapa yang mengirimnya karena tak ada nama dari pengirimnya. Isi
smsnya..
“Anda butuh uang? Kami dapat membayar ginjal Anda dengan harga
yang menggiurkan. Jika Anda mau hubungi kembali nomer ini”
Isi
pesan itu sangat singkat namun pengaruhnya sungguh besar bagi Sugi. Baginya
saat ini memenuhi kebutuhan keluarga sangat penting. Masalah ini membuatnya
gelap mata. Dan diam-diam tanpa memberi tahu keluarganya dia menghubungi nomor
tersebut. Pikirnya, dia masih bisa bekerja meski hanya dengan satu ginjal yang
tersisa. Semua ini dilakukannya demi orang-orang yang sangat dicintainya.
Hari
kesepakatan itu datang. Sugi tak mengenal dengan siapa dia membuat janji. Yang
pasti hari itu adalah hari yang sangat mendebarkan untuk Sugi. Akhirnya seorang
perawat mendatanginya dan menyuruhnya untuk masuk ke ruang operasi. Dengan hati
berdebar-debar dia pun melangkahkan kaki memasuki ruang operasi. Dan operasi
pun dimulai.
Operasi
berjalan selama 2 jam. Dan dinyatakan berhasil. Uang pun sudah ditangan. Tapi
bekas operasi masihlah terasa sakit. Jika untuk membiayai pengobatan Maya dan
membayar biaya masuk sekolah untuk Ina, tentulah uang ini masihlah cukup dan
lebih.
Maya
terkejut melihat suaminya membawa banyak uang. Dia curiga terhadap suaminya,
benarkah dia mencuri? Tapi mencuri milik siapa? Berbagai pertanyaan berkecamuk
di kepala Maya. Hingga akhirnya dia pun menanyakan hal itu kepada suamiya.
“Darimana
kau dapatkan uang itu? Mencurikah?” tanya Maya dengan penuh ragu.
“Uang
ini halal. Aku mendapatkannya dengan menjual salah satu ginjalku. Aku sengaja
tak mengatakannya padamu, karena aku tahu kau tak akan memperbolehkanku. Aku
melakukan ini karena aku menyayangimu dan ingin melihatmu sembuh. Maafkan aku,
Maya.” ucap Sugi berusaha menjelaskan.
OoO
Keadaan
Maya nyatanya tak ada perubahan. Obat-obatan dari alternatif tak membawa efek
baik untuknya. Semakin lama tubuhnya semakin di gerogoti oleh penyakit. Benang-benang
kankernya sudah menjalar kemana-mana. Tak ada yang mampu mengobatinya. Berbagai
alternatif dan dokter juga sudah angkat tangan terhadap penyakitnya. Dokter
menyampaikan bahwa Maya hanya menunggu waktu. Karena kondisinya, akhirnya Maya
dirawat di sebuah rumah sakit swasta di daerahnya. Sugi tak berdaya dan
berusaha tak mempercayai apa yang terjadi. Namun apa daya manusia hanya dapat
berusaha akan tetapi Tuhanlah yang memutuskan.
Orang
yag dicintainya telah terbujur kaku di atas tempat tidur rumah sakit. Ruangan
itu penuh dengan isak tangis rasa kehilangan dari seseorang yang disayang. Tak
lama, seorang perawat datang menghampiri dengan membawa surat di tangannya.
Surat itu ditujukan untuk Sugi. Ternyata surat itu dari Maya, istrinya. Beberapa
hari sebelum meninggal, Maya sempat menuliskan sebuah surat untuk Sugi.
“Terima kasih untuk kasih sayang dan
perjuangan yang telah kau lakukan untuk keluarga kecil kita ini. Ambillah
ginjalku agar kau bisa merasa lengkap. Lengkap karena aku selalu ada dalam dirimu.”
Sugi
pun kembali menangis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar