Kamis, 09 Januari 2014

Yang Ku Kenal


Maya adalah gadis kembang desa yang banyak disorot oleh kaum adam di desanya. Tak hanya wajahnya yang putih dan mulus, tingkah laku dan sopan santunnya bisa diacungi jempol. Rambutnya hitam dan tergerai sebahu. Selepas SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Maya mulai bekerja di sebuah KUD (Koperasi Unit Desa) di dekat desanya. Ia biasa melayani pelanggan yang datang untuk membeli ATK (Alat Tulis Kantor) atau pun untuk sekedar fotokopi. Waktunya dihabiskan di KUD sampai sore menjelang.
Suatu hari ada pemuda bernama Sugi yang datang untuk membeli sesuatu. Sugi bekerja di salah satu pabrik yang letaknya tak jauh dari tempat Maya bekerja. Sugi masih baru beberapa bulan menginjakkan  kakinya di tempat ini.
“Mbak, beli kertas A4 dan bolpoin ya?” ucap Sugi
Maya pun menoleh ke arah asal suara. Sambil tersenyum ia pun segera mengambil barang yang dipesan oleh Sugi.
“Ya ampun..siapa gadis ini? Rambutnya..tergerai indah. Cantik.” batin Sugi

“Ini mas, semuanya Rp. 4.700.” ucap Maya.
Sugi cukup tercengang memandang Maya yang dinilainya begitu menawan. Dia pun tak sadar bahwa Maya menunggunya untuk membayar .
“Mas, semuanya Rp. 4.700.” ulang Maya
Seketika itu pun Sugi menyadari bahwa tangan Maya sudah menunggu pembayaran atas barang yang dipesan oleh dirinya. Langsung dirogohnya uang yang ada di saku celananya. Setelah membayarnya Sugi menyempatkan waktu untuk sebentar meliriknya sebelum dia pergi.
“Wanita yang cantik.” gumamnya sambil berlalu.
OoO
Wajah Maya yang lembut dan menenangkan masih terbayang oleh Sugi.
“Bagaimana pun aku harus bisa menjadi kekasihnya. Aku jatuh cinta padanya.” bisiknya pada diri sendiri seakan memberi semangat untuk bisa mendapatkan Maya. Keinginannya untuk bertemu wanita pujaannya tak dapat dibendung lagi hari itu. Segera dia mengambil kunci motor dan segera melesat ke tempat kerja Maya dengan alasan akan membeli sesuatu.
Sesampainya disana, mereka pun bertemu. Singkat cerita alamat tempat tinggal Maya sudah ada di genggamannya. Malam itu pun dia segera meluncur ke tempat Maya. Namun sakit hati yang dia dapat karena ada seorang laki-laki yang sudah lebih dulu datang untuk meng-apeli Maya. Dia tahu, Maya belumlah memiliki pasangan jadi dia berani bertaruh bahwa yang datang tersebut adalah salah satu dari pesaingnya yang sama-sama memperebutkan Maya.
“Permisi.” kata Sugi saat berada di depan pintu rumah Maya.
Dengan tersenyum Maya mempersilahkan Sugi untuk masuk dan memperkenalkan laki-laki yang ada di depan kepadanya. Joko adalah teman Maya sewaktu masih di SMK. Joko sudah lama memendam rasa kepada Maya, tapi rasa itu tak pernah terbalaskan.
“Jadikah kita pergi malam ini?” tanya Sugi pada Maya. Ini adalah trik yang dilakukan Sugi agar pesaingnya merasa tak enak hati lalu segera pergi. Ternyata trik ini berhasil. Karena merasa mengganggu,akhirnya Joko pun ijin untuk pulang. Sugi dapat berdua dengan Maya malam itu, akhirnya.
OoO
Hubungan yang berjalan dengan lancar itu tak terasa sudah menginjak 2 tahun. Sugi akhirnya memperistri Maya. Bahtera rumah tangga dijalaninya dengan bahagia. Sampai pada akhirnya anak pertama pun lahir setelah setahun pernikahan mereka. Namanya Ina, gadis mungil yang telah dinanti-nantikan oleh pasangan ini. Mereka sangat menyayangi Ina dan mencurahkan segala perhatian untuknya.
5 tahun kemudian Ina pun memiliki adik laki-laki lucu. Dia tampan dengan pipi gembulnya. Namanya Vino. Betapa lengkap rasanya keluarga ini. Sekarang di keluarga ini ada Maya sebagai Bunda, Sugi sebagai ayah  dan 2 anak sebagai pelengkap. Terasa lengkap dan melengkapi.
Saat Ina menginjak kelas 6 SD. Maya merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ada sebuah benjolan kecil di dekat payudaranya. Terkadang terasa nyeri saat dipegang. Tapi Maya mencoba tak menghiraukannya. Semakin lama benjolan itu semakin membesar. Karena khawatir akhirnya Maya bercerita kepada suaminya. Sugi pun menyuruhnya untuk segera memeriksakan kesehatannya ke dokter.
Keesokan harinya Maya pergi ke dokter sendirian karena Sugi harus masuk kerja dan tidak bisa mengantar istrinya ke dokter.
“Biar saya periksa benjolannya.” ucap Dokter Frina yang menangani Maya.
Setelah beberapa lama Dokter Frina pun kembali dan mengatakan bahwa Maya terkena kanker payudara stadium akhir.
“Kanker ibu harus segera dioperasi. Biaya operasinya sekitar Rp. 20 juta sampai Rp. 25 juta. Kalo tidak segera dioperasi takutnya benang-benang kankernya semakin menyebar dan tidak dapat ditangani.” Dokter Frina berusaha memberikan penjelasan.
OoO
Maya menceritakan semuanya kepada suaminya. Sebelum mengambil keputusan untuk operasi, keduanya berusaha mencari informasi terkait dengan penyakit yang diidap oleh Maya. Banyak teman-teman yang menyarankan untuk berobat ke alternatif. Malahan ada salah satu temannya yang bernasib sama dengan Maya dan dapat sembuh setelah berobat ke salah satu alternatif. Selain lebih murah, alternatif kebanyakan tidak mampu menyembuhkan penyakit yang sudah terkena operasi.
Akhirnya pilihan ini pun dijalani oleh Maya. Maya mengikuti saran dari teman-temannya untuk berobat ke alternatif. Sesampainya di tempat yang disarankan, Maya menunggu antrian hingga dia di panggil oleh Kyai Slamet yang akan mengobatinya. Banyak yang cocok berobat ke Kyai Slamet. Dan banyak pula yang sudah sembuh dari penyakit-penyakit kronis yang dideritanya tanpa harus operasi.
Namanya pun akhirnya dipanggil. Dia segera beranjak dari tempatnya duduk dan menuju di depan Kyai Slamet. Ruangan ini tak begitu lebar dan tak ada kursi yang melengkapinya. Sehingga pasien yang datang haruslah duduk dibawah dengan tikar yang sudah dibentangkan.
“Kemarikan jari kakimu. Biar aku deteksi penyakitmu lewat jari-jari kakimu.” pinta Kyai Slamet pada Maya
Maya segera mendekat dan membiarkan jari-jari kakinya dipegang oleh Kyai Slamet.
“Daerah mana yang sakit? Kau memiliki benjolan kan?” tanya Kyai Slamet untuk memastikan.
“Iya, ada benjolan di dekat payudara saya. Kalo dipegang terasa nyeri. Tambah lama kok tambah membesar ya, Kyai?” jelas Maya.
“Itu namanya kanker. Jika tak segera diberantas maka akan menjalar kemana-mana. Minumlah air putih ini terlebih dahulu. Selanjutnya aku akan memberimu racikan tanaman obat untuk kamu minum 3x sehari. Pagi,siang dan malam. Sedang ampasnya kamu tempelkan pada benjolan itu. Selain berikhtiar kamu juga perlu berdoa kepada Tuhan agar membantu penyembuhanmu. Semua akan baik-baik saja karena Dia punya rencana tersendiri,percayalah.” papar Kyai Slamet dan memberi semangat kepada Maya agar tak henti-hentinya berdoa kepada-Nya karena tak ada yang tak mungkin bagi-Nya.
Maya dengan teratur menjalankan apa yang Kyai Slamet suruh kepadanya. Dengan sabar dia menantikan mukjizat Tuhan. Setiap hari harapannya kian tebal saja. Sampai pada akhirnya dia merasa benjolan yang ada di dekat payudaranya mulai mengecil. Dan kesembuhan sudah di depan mata.
Semua anggota keluarga merasa senang mendengar berita tersebut. Semua menyambut gembira dengan harapan hari-hari yang dilalui akan seperti dahulu lagi. Diselingi gelak tawa dari anggota keluarga.
Dua tahun berlalu dan semua anggota telah melupakan hal itu. Hal yang membuat Maya tampak lebih kurus. Namun justru semua itu seakan pemanis untuk sementara waktu. Tak dinyana, benjolan itu masih ada. Walau kecil, benjolan itu masih ada. Dan lebih parahnya Maya merasa ada benjolan baru yang muncul di sekitar payudara di sebelah lainnya. “Apalagi ini?” tanyanya dalam hati.
Merasa janggal akhirnya Maya pun pergi ke tempat dia berobat 2 tahun lalu. Akan tetapi tidak seperti harapan. Kyai Slamet yang mengobatinya dulu ternyata sudah wafat. Maya seakan buntu. Kemana lagi dia akan mengobatkan penyakitnya jika bukan ke Kyai Slamet.
Dia mencoba bertanya-tanya kepada teman-temannya yang lain. Siapa tahu ada alternatif lain yang bisa dia kunjungi. Satu per satu dia mulai mencoba ke alternatif yang disarankan oleh teman-temannya. Namun keadaan tak kunjung membaik. Benjolan itu kian membesar dan terasa nyeri saat dipegang.
Seminggu yang lalu, suaminya, Sugi terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di pabriknya karena pabrik mengalami penurunan omset, maka PHK pun tak terelakkan. Dalam lotrean pemecatan tersebut ada 100 nama yang keluar dan salah satunya adalah Sugi.
Keadan semakin sulit saat Ina juga harus melanjutkan sekolahnya ke sebuah SMA di daerahnya. Sugi, ayahnya belum mendapatkan pekerjaan yang baru. Sedang Naning juga harus segera berobat untuk menyembuhkan penyakitnya. Keduanya butuh biaya yang besar. Sedang pemasukan belum ada sedikitpun. Untuk tiap harinya saja, Maya dan keluarga harus hutang beras ke toko terdekat.
Sugi tak sanggup mengendalikan diri saat dihadapkan dengan kondisi ini. Dia tak tega mendengar rengekan sakit dari sang istri tiap malam. Dan Ina juga tak henti-hentinya mengingatkannya untuk segera menyiapkan uang agar dia dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Dia pergi ke dapur. Duduklah dia termangu dengan kepala disangganya dengan tangannya. Dia mulai berpikir keras apa yang akan dilakukannya untuk bisa mendapatkan uang.
“Aku tak boleh berdiam diri saja. Aku harus melakukan sesuatu untuk keluargaku.” Gumamnya dalam kesendirian di malam itu.
OoO
Handphone Sugi berdering. Ada sms yang masuk. Tak tahu siapa yang mengirimnya karena tak ada nama dari pengirimnya. Isi smsnya..
“Anda butuh uang?  Kami dapat membayar ginjal Anda dengan harga yang menggiurkan. Jika Anda mau hubungi kembali nomer ini”
Isi pesan itu sangat singkat namun pengaruhnya sungguh besar bagi Sugi. Baginya saat ini memenuhi kebutuhan keluarga sangat penting. Masalah ini membuatnya gelap mata. Dan diam-diam tanpa memberi tahu keluarganya dia menghubungi nomor tersebut. Pikirnya, dia masih bisa bekerja meski hanya dengan satu ginjal yang tersisa. Semua ini dilakukannya demi orang-orang yang sangat dicintainya.
Hari kesepakatan itu datang. Sugi tak mengenal dengan siapa dia membuat janji. Yang pasti hari itu adalah hari yang sangat mendebarkan untuk Sugi. Akhirnya seorang perawat mendatanginya dan menyuruhnya untuk masuk ke ruang operasi. Dengan hati berdebar-debar dia pun melangkahkan kaki memasuki ruang operasi. Dan operasi pun dimulai.
Operasi berjalan selama 2 jam. Dan dinyatakan berhasil. Uang pun sudah ditangan. Tapi bekas operasi masihlah terasa sakit. Jika untuk membiayai pengobatan Maya dan membayar biaya masuk sekolah untuk Ina, tentulah uang ini masihlah cukup dan lebih.
Maya terkejut melihat suaminya membawa banyak uang. Dia curiga terhadap suaminya, benarkah dia mencuri? Tapi mencuri milik siapa? Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Maya. Hingga akhirnya dia pun menanyakan hal itu kepada suamiya.
“Darimana kau dapatkan uang itu? Mencurikah?” tanya Maya dengan penuh ragu.
“Uang ini halal. Aku mendapatkannya dengan menjual salah satu ginjalku. Aku sengaja tak mengatakannya padamu, karena aku tahu kau tak akan memperbolehkanku. Aku melakukan ini karena aku menyayangimu dan ingin melihatmu sembuh. Maafkan aku, Maya.” ucap Sugi berusaha menjelaskan.
OoO
Keadaan Maya nyatanya tak ada perubahan. Obat-obatan dari alternatif tak membawa efek baik untuknya. Semakin lama tubuhnya semakin di gerogoti oleh penyakit. Benang-benang kankernya sudah menjalar kemana-mana. Tak ada yang mampu mengobatinya. Berbagai alternatif dan dokter juga sudah angkat tangan terhadap penyakitnya. Dokter menyampaikan bahwa Maya hanya menunggu waktu. Karena kondisinya, akhirnya Maya dirawat di sebuah rumah sakit swasta di daerahnya. Sugi tak berdaya dan berusaha tak mempercayai apa yang terjadi. Namun apa daya manusia hanya dapat berusaha akan tetapi Tuhanlah yang memutuskan.
Orang yag dicintainya telah terbujur kaku di atas tempat tidur rumah sakit. Ruangan itu penuh dengan isak tangis rasa kehilangan dari seseorang yang disayang. Tak lama, seorang perawat datang menghampiri dengan membawa surat di tangannya. Surat itu ditujukan untuk Sugi. Ternyata surat itu dari Maya, istrinya. Beberapa hari sebelum meninggal, Maya sempat menuliskan sebuah surat untuk Sugi.

“Terima kasih untuk kasih sayang dan perjuangan yang telah kau lakukan untuk keluarga kecil kita ini. Ambillah ginjalku agar kau bisa merasa lengkap. Lengkap karena aku selalu ada dalam dirimu.”
Sugi pun kembali menangis.

Tidak ada komentar: