Dia bernama Pooh. Pooh Naenggolan. Aku membelinya
sekitar 4 bulan lalu di pasar burung Jaya seharga Rp. 275.000. Pada waktu itu
Pooh masihlah kecil jika dibandingkan dengan tubuhnya yang montok seperti
sekarang. Dengan mata masih belum bisa melek
dan kepala yang tampak lebih besar dibanding dengan tubuhnya, ku bawa dia
pulang ke rumah dengan menggunakan tas kertas. Baunya khas. Entahlah, aku tak
dapat menjelaskan seperti apa baunya saat itu. Yang pasti, menusuk hidung dan
membuat kepalaku pusing. Tapi dia lucu. Itu yang membuatku rela untuk
membelinya. ^_^
Sekarang Pooh sudah besar. Makannya lele dan minumnya
susu. Selain itu Pooh sekarang sudah punya banyak fans. Yah, sebut saja begitu. Semenjak dia bisa berlari dan berenang,
ayah sering kali mengajaknya ke sungai untuk bermain air atau mencari yuyu
(kepiting kecil yang ada disungai). Dan dari sanalah, cerita Pooh dan
“teman-temannya” bermula.
Hampir setiap sore ayah, aku dan Pooh ke sungai yang
ada di dekat rumah. Dan karena sungai itu letaknya di pinggir jalan, maka
sering kali Pooh mencuri perhatian dari orang-orang yang lewat. “Wah, Pak.
Hewan apa itu? Lucu ya?” tanyanya salah seorang yang sedang melintas kepada
ayah. “Linsang atau berang-berang.” jawab ayah dengan tetap mencari yuyu untuk
Pooh.
Biasanya sore hari anak-anak kecil yang ada di
perkampungan sebelah dan perumahan depan melewati jalanan ini sekedar untuk
berlari-larian ataupun bersepeda sore. “Lek,
nyamanah sapa?” (Om, namanya siapa?) tanya mereka dengan bahasa Madura sambil
menunjuk ke arah Pooh. “Pooh.” jawab ayah. Karena merasa tertarik, anak-anak
kecil tersebut pun tak canggung-canggung untuk menceburkan diri ke sungai,
membantu ayah mencari yuyu dan keong. Pooh merasa senang dengan kedatangan
“teman-teman baru” nya ini. Pooh juga ikut mencari yuyu dengan menyisir tepian
sungai bersama mereka. Pooh tidak canggung bergurau dengan orang lain. Karena
Pooh adalah linsang yang sangat manja dan selalu ingin diperhatikan.hehe
Karena dibantu oleh teman-temannya, Pooh bisa makan
yuyu tanpa harus bersusah payah mencarinya sendiri. Terkadang temannya bisa
mendapatkan yuyu se-kresek kecil untuknya. Jika yuyu sudah terkumpul dalam
wadah plastik, Pooh akan mengeluarkan jurus andalannya yaitu “rengekan maut” dengan
suaranya yang khas sambil mengguling-gulingkan badannya ke lantai lalu merangkul
kaki ayah. Itu tandanya dia ingin menikmati santapan sorenya yang sudah
didapatkan dari teman-temannya. Jika sudah begitu, waktunya mentas dan menuju ke paving jalan.
Setelah “handukan” dan dirasa cukup kering, saatnya makaaan… :D
Pooh paling senang dengan yuyu. Dia bisa menghabiskan
yuyu se-kresek kecil dengan cepat. “E
tokkrotok. Engak ngakan krupuk.” (bunyinya krutuk-krutuk seperti makan kerupuk)
ucap salah seorang dari temannya.
Setelah kenyang, teman-temannya mengajaknya untuk
balapan lari. Dan Pooh menanggapinya dengan senang hati. Dia berlari dan terus
berlari. Yang lainnya sudah ngos-ngosan,
Pooh tetap menter dan terus berlari.
Pooh berlari dengan cepat dan sering kali menang pada balapan lari. Hebat kan? J
Itu kegiatan Pooh sehari-hari, bermain dan bermain.
Karena sekarang musim liburan sekolah, teman-temannya menjemputnya dirumah pada
pagi dan sore hari. “Pooh…Pooh…ayo main.” panggil mereka pada jam 7 pagi.
Mengajaknya ke sungai dan mencari yuyu. Jika dihitung-hitung ada sekitar 30
orang yang menjadi temannya Pooh. Dari anak-anak hingga orang tua. Tanpa
dikomando mereka berkumpul dan menantikan kedatangan Pooh di sungai dekat rumah
yang sudah biasa menjadi tempatnya bermain dan mencari yuyu. Ternyata,
linsangku yang bertubuh tambun dengan hidung pesek dan lebar ini, bisa menjadi
bintang dan memiliki banyak fans. Wah kayak artis saja. :D
Ini beberapa foto Pooh bersama Jarwo (luwak), Unyil (kucing) dan teman-temannya…
Dan ini videonya..


1 komentar:
What beautiful bare feet the boys have
Posting Komentar