Kamis, 09 Januari 2014

Tempatku Berpijak

Terlalu naïf jika ku katakan aku tak pernah merasakan kemerdekaan
Tak perlu lagi bambu runcing sebagai bentuk perlawanan bangsa
Tak ada lagi karung goni yang dijadikan pelindung tubuh
Cucuran dan pertumpahan darah telah usai
Riak-riak semangat masih ku dengar untuk dilantunkan
Kesetaraan masih terus dan tetap diperjuangkan
Terlalu naïf jika ku bilang negaraku tak lagi berkuasa
Aku masih punya ribuan pulau atas nama negaraku, Indonesia
Masih ada ratusan suku dan bahasa yang dapat disatukan atas nama Bahasa Indonesia
Terlalu naïf memang jika ku bilang Indonesia ini terbelakang
Ada bukti gedung yang menjulang tinggi dengan lampu yang berkelip-kelip
Ramainya kota sebagai pusat dari pemerintahan negara ini
Kelestarian dari alam masih tetap memukau para borju-borju untuk datang
Masih… Segar dan alami
Masih… Tentram dan asri
Meski ada tahun dimana riuh memekakkan telinga
Saling bantai dan menjunjung tinggi kepercayaan
Tapi waktu melunturkannya dan bumi menenggelamkannya
Masih tampak senyum yang menghiasi wajah-wajah pedalaman
Yang tak pernah kenal perubahan
Senantiasa ramah dan bersahabat dengan alam
Tak selalu dengan carut marut perkotaan

Wajah dari Indonesiaku

Tidak ada komentar: