Terlalu naïf jika ku katakan
aku tak pernah merasakan kemerdekaan
Tak perlu lagi bambu runcing
sebagai bentuk perlawanan bangsa
Tak ada lagi karung goni
yang dijadikan pelindung tubuh
Cucuran dan pertumpahan
darah telah usai
Riak-riak semangat masih ku dengar
untuk dilantunkan
Kesetaraan masih terus dan
tetap diperjuangkan
Terlalu naïf jika ku bilang
negaraku tak lagi berkuasa
Aku masih punya ribuan pulau
atas nama negaraku, Indonesia
Terlalu naïf memang jika ku
bilang Indonesia ini terbelakang
Ada bukti gedung yang
menjulang tinggi dengan lampu yang berkelip-kelip
Ramainya kota sebagai pusat
dari pemerintahan negara ini
Kelestarian dari alam masih
tetap memukau para borju-borju untuk datang
Masih… Segar dan alami
Masih… Tentram dan asri
Meski ada tahun dimana riuh
memekakkan telinga
Saling bantai dan menjunjung
tinggi kepercayaan
Tapi waktu melunturkannya
dan bumi menenggelamkannya
Masih tampak senyum yang
menghiasi wajah-wajah pedalaman
Yang tak pernah kenal
perubahan
Senantiasa ramah dan
bersahabat dengan alam
Tak selalu dengan carut
marut perkotaan
Wajah dari Indonesiaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar