Rabu, 08 Januari 2014

Senyuman Di Awal Tahun

Senyuman di Awal Tahun
Dia menatap ke arah langit. Lepas. Pandangannya menyapu semua bintang yang bertebaran. Tatapannya kosong. Sudah 2 jam gadis mungil ini duduk terdiam memandangi malam yang kian larut. Entah apa yang dipikirkannya. Semenjak kecelakaan itu, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Yah, semenjak kecelakaan bulan Agustus lalu.


“Kau sudah sadar, Nak? Siapa namamu?” jawabmu singkat, Lina. Tak beberapa lama kau mulai menyadari apa yang telah terjadi. Kau tolehkan pandanganmu seolah menyapu seluruh ruangan menemukan apa yang kau cari.
“Kau harus ikhlaskan mereka, Lina. Kedua orang tuamu telah damai bersama-Nya.” Diam. kau hanya diam berjibaku dengan pikiranmu hingga akhirnya kulihat sungai kecil yang mengalir keluar dari mata indahmu. Semenjak hari itu, tak ada lagi kata-kata yang dapat ku dengar darimu.
Ku bawa kau ke gubuk kecilku yang berada disamping pematang sawah. Hanya ada aku dan kau dirumah ini. Lama sekali ku merindukan hadirnya seorang anak di dalam rumah ini setelah istri dan anakku direnggut oleh ganasnya air bah yang menyapu desaku 2 tahun lalu. Sepi. Aku hanya ditemani sepi sebelum kau datang ke rumah ini.
***
“Apa yang kau pikirkan, Lina?”  kau menoleh padaku dengan tatapan itu. Tatapan dengan mata sendu dan menyayat. Aku tahu kau merindukan mereka, akan tetapi tidakkah kau dapat menerima kenyataan ini? Semua telah diatur oleh-Nya dan ini semua telah digariskan.
Aku duduk disampingmu, bersama, melihat bintang dengan angin dingin yang seakan menusuk hingga ke rusuk. Bintang mulai tertidur. Ataukah memang mataku yang kabur karena tak kuasa menahan kantuk. Ku rasakan setetes air jatuh tepat dihidungku. Ku dongakkan kepala. Kulihat bintang bersembunyi dibalik awan. Yah. Tak lama gerimis mulai jatuh.
Ku raih lenganmu dan kita saling bergandengan memasuki rumah. Ku sibuk membuat teh hangat untuk menghangatkan badanmu. Sedang kau berdiri terpaku dibalik jendela dengan tetap memandang hujan. Ku lihat tatapan itu. Tatapan sendu dan menyayat. “Apa yang sedang kau pikirkan, Lina?” tanyaku dalam hati.
Ku dekati dirimu. Ku tatap kau tanpa harusku bertanya. “Aku ingin menikmati hujan di akhir bulan Desember.” Tiba-tiba sepatah kata keluar dari bibir mungilmu. Kau melewatiku begitu saja setelah perkataanmu barusan. Aku tercengang. “Dia berbicara? Benarkah yang ku dengar barusan?” seakan tidak percaya dengan apa yang barusan ku dengar. Suara itu, lama tak ku mendengarnya setelah kecelakaan waktu itu.
Ku lihat kau bermandikan hujan dibawah malam, diakhir bulan Desember. Ku ambilkan payung untukmu. Saat tepat berada dihadapanmu, kulihat wajahmu tertunduk. Perlahan kau mengangkat kepalamu dan mulai menatapku. Diam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirmu. Tatapan itu, tatapan sendu dan menyayat. Hujan berusaha menutupi sungai air mata yang sempat kau keluarkan. Tak dapat ku bedakan, tapi seakan ku merasakannya.
“Ajari aku bagaimana hidup yang seharusnya.” Setelahnya, kami sama-sama terdiam. Tak bersuara. Hening untuk sementara waktu. Tak kupedulikan lagi berapa banyak orang yang sedang merayakan pergantian tahun. Berapa banyak kembang api yang tersulut. Aku dan Lina masih tetap diam. “Anggaplah aku sebagai ayahmu. Yang akan merawat dan membesarkanmu.” Sekilas kulihat seutas senyum yang kau berikan sebelum kau memelukku erat.
“Terima kasih, Tuhan. Malaikat kecil yang kau kirimkan padaku telah dapat tersenyum kembali.” batinku penuh rasa syukur.

“Terima kasih, Tuhan. Kau buka lembaran baru hidupku tepat dipergantian tahun. Akan kuawali tahun dengan awal yang baru.” Lina pun tersenyum.

Tidak ada komentar: