Senyuman di Awal Tahun
Dia
menatap ke arah langit. Lepas. Pandangannya menyapu semua bintang yang
bertebaran. Tatapannya kosong. Sudah 2 jam gadis mungil ini duduk terdiam
memandangi malam yang kian larut. Entah apa yang dipikirkannya. Semenjak
kecelakaan itu, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Yah, semenjak
kecelakaan bulan Agustus lalu.
“Kau
sudah sadar, Nak? Siapa namamu?” jawabmu singkat, Lina. Tak beberapa lama kau mulai
menyadari apa yang telah terjadi. Kau tolehkan pandanganmu seolah menyapu
seluruh ruangan menemukan apa yang kau cari.
“Kau
harus ikhlaskan mereka, Lina. Kedua orang tuamu telah damai bersama-Nya.” Diam.
kau hanya diam berjibaku dengan pikiranmu hingga akhirnya kulihat sungai kecil
yang mengalir keluar dari mata indahmu. Semenjak hari itu, tak ada lagi
kata-kata yang dapat ku dengar darimu.
Ku
bawa kau ke gubuk kecilku yang berada disamping pematang sawah. Hanya ada aku dan
kau dirumah ini. Lama sekali ku merindukan hadirnya seorang anak di dalam rumah
ini setelah istri dan anakku direnggut oleh ganasnya air bah yang menyapu
desaku 2 tahun lalu. Sepi. Aku hanya ditemani sepi sebelum kau datang ke rumah
ini.
***
“Apa
yang kau pikirkan, Lina?” kau menoleh
padaku dengan tatapan itu. Tatapan dengan mata sendu dan menyayat. Aku tahu kau
merindukan mereka, akan tetapi tidakkah kau dapat menerima kenyataan ini? Semua
telah diatur oleh-Nya dan ini semua telah digariskan.
Aku
duduk disampingmu, bersama, melihat bintang dengan angin dingin yang seakan
menusuk hingga ke rusuk. Bintang mulai tertidur. Ataukah memang mataku yang
kabur karena tak kuasa menahan kantuk. Ku rasakan setetes air jatuh tepat dihidungku.
Ku dongakkan kepala. Kulihat bintang bersembunyi dibalik awan. Yah. Tak lama
gerimis mulai jatuh.
Ku
raih lenganmu dan kita saling bergandengan memasuki rumah. Ku sibuk membuat teh
hangat untuk menghangatkan badanmu. Sedang kau berdiri terpaku dibalik jendela
dengan tetap memandang hujan. Ku lihat tatapan itu. Tatapan sendu dan menyayat.
“Apa yang sedang kau pikirkan, Lina?” tanyaku dalam hati.
Ku
dekati dirimu. Ku tatap kau tanpa harusku bertanya. “Aku ingin menikmati hujan
di akhir bulan Desember.” Tiba-tiba sepatah kata keluar dari bibir mungilmu. Kau
melewatiku begitu saja setelah perkataanmu barusan. Aku tercengang. “Dia
berbicara? Benarkah yang ku dengar barusan?” seakan tidak percaya dengan apa
yang barusan ku dengar. Suara itu, lama tak ku mendengarnya setelah kecelakaan
waktu itu.
Ku
lihat kau bermandikan hujan dibawah malam, diakhir bulan Desember. Ku ambilkan payung
untukmu. Saat tepat berada dihadapanmu, kulihat wajahmu tertunduk. Perlahan kau
mengangkat kepalamu dan mulai menatapku. Diam. Tak ada sepatah kata pun yang
keluar dari bibirmu. Tatapan itu, tatapan sendu dan menyayat. Hujan berusaha
menutupi sungai air mata yang sempat kau keluarkan. Tak dapat ku bedakan, tapi
seakan ku merasakannya.
“Ajari
aku bagaimana hidup yang seharusnya.” Setelahnya, kami sama-sama terdiam. Tak
bersuara. Hening untuk sementara waktu. Tak kupedulikan lagi berapa banyak
orang yang sedang merayakan pergantian tahun. Berapa banyak kembang api yang
tersulut. Aku dan Lina masih tetap diam. “Anggaplah aku sebagai ayahmu. Yang
akan merawat dan membesarkanmu.” Sekilas kulihat seutas senyum yang kau berikan
sebelum kau memelukku erat.
“Terima
kasih, Tuhan. Malaikat kecil yang kau kirimkan padaku telah dapat tersenyum
kembali.” batinku penuh rasa syukur.
“Terima
kasih, Tuhan. Kau buka lembaran baru hidupku tepat dipergantian tahun. Akan
kuawali tahun dengan awal yang baru.” Lina pun tersenyum.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar