Minggu, 08 Juni 2014

Kemanakah Kau Sebenarnya Kemerdekaanku?

“Kata orang kita telah merdeka. Tapi merdeka untuk siapa? Sudah meratakah kemerdekaan itu? Ataukah hanya kemerdekaan untuk sebagian yang lain dan tak sepenuhnya”
Sudah hampir 69 tahun Indonesia merdeka. Mencoba keluar dari kebelengguan setelah sekian ratus tahun harus merasakan tekanan dibawah kuasa penjajah. Senasib sepenanggungan. Mungkin begitu awal negaraku ini dibentuk. Lantas, proklamasi telah usai dikumandangkan lalu benarkah semua rakyat benar-benar merasakan kemerdekaannya? Ataukah hanya “perpindahan tangan” penguasa saja?

Sejenak ku renungkan. Kemerdekaan yang selama ini kita agung-agungkan hanyalah sebuah kesemuan belaka. Orang-orang di sekitarku masih belum merasakan tuh yang namanya kemerdekaan. Mereka ini sebagian kecil dari yang tak pernah terjamah “tangan” merdeka ataukah ini kelompok-kelompok kecil yang mulai menyeluruh ke pelosok negeri dan menyisakan lain yang “lebih” berhak menerima dan merasakan kemerdekaan?
Merdeka? Omong kosong. Yang aku tahu di negeriku ini, merdeka hanya untuk segelintir orang yang punya banyak duit. Jika kamu punya duit, kamu bisa beli apapun. Konon dengan duit kamu juga bisa beli surga dan malaikatnya. Kalau sudah begini, apa yang tidak bisa dibeli dengan duit? Tapi bagi mereka yang setiap harinya sudah susah dan bergelut dengan persoalan mencari makan bagaimana nasibnya? Jangan mencoba berkhayal untuk bisa membeli ini itu. Atau jangan mencoba untuk bisa lebih pintar daripada hanya memikirkan kerasnya dan bertahan hidup. Layaknya terjerat dengan persoalan segitiga setan dimana hanya ada kemiskinan, kebodohan dan kelaparan.
Jika kamu miskin maka untuk makan saja susah bukan kepayang. Jika kondisi badan sudah lapar maka otak pun tak merespon. Dan saat otak tak merespon bagaimana kamu bisa bersaing di dunia kerja jika yang selalu yang dipikirkan masalah sesuap nasi dalam satu harinya. Segitiga setan bukan? Karena persoalan yang terjadi seakan domino kehidupan.
Lalu siapa yang akan kita persalahkan? Keadaan? Takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan? Ataukah pemerintah kita yang tidak becus mengurus kita? Mana yang bisa kita persalahkan? Ataukah kita hanya mencoba mencari “kambing hitam” karena ketidakberdayaan dan keputusasaan kita dalam menjalani hidup ini? Ya. Biarlah. Yang penting kita sudah merdeka bukan?
Pada suatu waktu aku pernah mengunjungi sebuah desa. Nampak asri. Masih hijau dan tak ada bau aspal disana. Belum tersentuh oleh yang namanya peradaban. Ku selayangkan pandang menembus embun-embun sisa pagi. Ada sebuah bangunan mungil yang disana terdapat beberapa orang anak. Mereka berseragam sekolah lengkap dengan peralatan lainnya seperti tas dan buku. Kulihat semangat terpancar dari setiap raut wajah yang berada di dalam ruangan. Kupendarkan penglihatanku ke seluruh detail dan pelosok kelas. Terpampang beberapa lukisan karya teman-teman kecilku ini memenuhi ruangan. Seorang guru memegang kapur dan menuliskan sesuatu di papan tulis yang menurutku tak layak pakai. Ruangan ini sudah hampir roboh dan air tergenang saat hujan mengguyur. “Bagaimana para siswa ini bisa belajar ditempat seperti ini?” bisikku dalam hati.
Sudah merdekakah mereka? Sedang di kota-kota besar tak ku jumpai hal semacam ini. Di kota-kota itu yang gedung-gedungnya menjulang bak ingin meremas langit sekolah-sekolahnya sudah dilengkapi dengan fasilitas yang memadai seperti komputer, ruang laboratorium dll. Sedangkan di desa yang ku kunjungi ini hanya ada meja dan bangku yang menemaninya. Perbedaan yang mencolok. Jika seperti ini sudah berhasilkah pemerintah seperti yang tertuang pada alinea keempat UUD 1945 yang menyebutkan "… negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…”.  Di dalam UUD 1945 itu sendiri disebutkan bahwa Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya dan ingin mencerdaskan kehidupan berbangsa. Pancasila yang kelima juga menyebutkan bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan sosial milik seluruh rakyat? Mana?
Nyatanya hanya segelintir yang dapat merasakan pendidikan yang layak. Dan jika kita mau menelik ke dalam ruang-ruang kecil di pelosok negeri ini masih banyak yang tidak bisa mengenyam pendidikan karena keterbatasan biaya. Lalu, berharap saja pemerintah akan membuka mata dan mengulurkan tangannya. Melongok ke dalam negerinya bahwa masih banyak dari generasi mudanya yang masih belum bisa merasakan pendidikan yang layak. Masih banyak juga dari warganya yang masih saja buta huruf dan tak bisa membaca.
Ataukah kita hanya menunggu malaikat yang baik hati mengantarkan para sukarelawannya untuk sudi dan mengabdikan diri, ke tempat-tempat terpencil yang masih jauh dari “tangan” pendidikan? Mereka yang merasa prihatin akhirnya mendirikan gubuk-gubuk reot ala kadarnya sekedar untuk melindungi dirinya dari panasnya cuaca. Dengan bermodalkan papan tulis yang masih saja menggunakan kapur, tangan-tangan mungilnya mulai mencoret-coret papan disertai dengan komat-kamit yang disambut dengan anggukan para siswanya. Sungguh potret Indonesiaku dimana ketidakberdayaan masyarakat menghadapi pendidikan yang kian mahal.
Seperti yang terlansir di www.bangkapos.com data pemerintahan Desa Tepus, Kecamatan Airgegas Bangka Selatan menyebutkan masih ada warga yang buta huruf. Jika dijumlahkan seluruhnya dari usia 17-70 tahun hampir 1.000 warga masih buta huruf atau tidak bisa baca tulis.
Sebenarnya, ada apa dengan negeri yang dipuja-puja ini? Yang setiap Senin lagu “Indonesia Raya” nya selalu dikumandangkan di tiap-tiap sekolah. Siapa yang salah? Pemerintah yang tampak acuh ataukah memang rakyat ini yang tak mau diajak maju? Berdiri di tempat? Tidak. Kita tidak hanya staknan melainkan telah mengalami kemunduran. Dahulu, bukankah Indonesia menjadi tempat pelancong bagi mereka-mereka yang haus ilmu pengetahuan? Dahulu juga bukankah Indonesia selangkah lebih maju daripada negara tetangganya? Tapi sekarang apa yang terjadi, mengapa kita tertinggal jauh dari tetangga yang kita ajar dahulu? Ada apa dengan negaraku?
Bagi mereka yang tidak dapat mengenyam pendidikan, tunggulah keajaiban dari pemerintahmu. Sedang bagi mereka yang telah mengenyam pendidikan mengapa masih tak membawa perubahan? Mengapa pendidikan hanya menjadikan mereka orang-orang yang “bergantung” pada pemerintah dan bukan lulusan yang bisa menyediakan lapangan kerja bagi yang lain? Apa yang salah? Sistem pendidikannyakah?
Jika benar demikian, dari awal kemerdekaan sampai saat ini Indonesia sudah mengalami beberapa kali perubahan dalam sistem pengajarannya. Pada tahun 1945-1950 yakni dari proklamasi sampai RIS Indonesia berusaha untuk meninggalkan sistem kolonial dan mengutamakan patriotism, dimana kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum 1947 (Rentjana Pelajaran).
Lalu dilanjutkan pada tahun 1950-1959 yang menggunakan Kurikulum Tahun 1952 (Rentjana Pelajaran) yang merupakan proses penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya, tentunya pencapaian tujuan yang berdasar pada UU. No 04 Tahun 1950. Melalui UU No. 12 Tahun 1954, UU. No 04 Tahun 1950 bertujuan untuk membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Kurikulum ini juga memiliki ciri yang khas yaitu tentang sistem pendidikan yang sudah mulai menasionalis serta disetiap rencana pelajaran yang harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Perubahan demi perubahan terus dilakukan dengan harapan bisa menjadikan Indonesia lebih baik lagi ke depannya. Sampai akhirnya program kurikulum 2013-2014 yang di sahkan oleh DPR RI ini berbasis pada TIK. Program kurikulum yang sedikit “kemoncolen” karena adanya perbedaan fasilitas fisik antara sekolah di kota besar dengan sekolah yang berada di pedalaman atau di daerah “pinggiran”. Salah satunya SMP I Bopkri Wates Kulonprogo yang hanya memiliki empat komputer dan satu laptop. Jumlah yang sangat kurang mengingat ada 55 siswa yang mengikui proses belajar.
Pemerintah sendiri tidak tinggal diam dan sedang berusaha untuk mengurangi angka kebodohan dengan cara menurunkan angka kemiskinan yang selama ini selalu menjadi batu sandungan untuk mendapatkan pendidikan. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki isu kemiskinan sebagai salah satu isu yang perlu dituntaskan. Menurut TNP2K (Tim Nasional Percepatan dan Penanggulangan Kemiskinan) pada 2010 tingkat kemiskinan di Indonesia adalah 13,33 persen dari total penduduk Indonesia, atau sekitar 31,02 juta jiwa penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.(www.okezone.com)

Kemiskinan di Indonesia berdasarkan sumber data TNP2K angka statistik menunjukkan trend yang terus menurun. Pada tahun 2006 adalah 17,75% atau 39,30 juta, pada Maret  2012 turun menjadi 29,13 atau 11,96%, dan target hingga tahun 2014 adalah 8% hingga 10% dari jumlah penduduk. Harapan yang belum sempurna karena masih lebarnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Harapan mendapat pendidikan yang layak pun masih diambang angan oleh sebagian yang lain. Lalu, kemanakah kau sebenarnya kemerdekaanku?

Tidak ada komentar: