“Kata
orang kita telah merdeka. Tapi merdeka untuk siapa? Sudah meratakah kemerdekaan
itu? Ataukah hanya kemerdekaan untuk sebagian yang lain dan tak sepenuhnya”
Sudah hampir 69 tahun
Indonesia merdeka. Mencoba keluar dari kebelengguan setelah sekian ratus tahun
harus merasakan tekanan dibawah kuasa penjajah. Senasib sepenanggungan. Mungkin
begitu awal negaraku ini dibentuk. Lantas, proklamasi telah usai dikumandangkan
lalu benarkah semua rakyat benar-benar merasakan kemerdekaannya? Ataukah hanya “perpindahan
tangan” penguasa saja?
Sejenak ku renungkan.
Kemerdekaan yang selama ini kita agung-agungkan hanyalah sebuah kesemuan
belaka. Orang-orang di sekitarku masih belum merasakan tuh yang namanya kemerdekaan. Mereka ini sebagian kecil dari yang
tak pernah terjamah “tangan” merdeka ataukah ini kelompok-kelompok kecil yang
mulai menyeluruh ke pelosok negeri dan menyisakan lain yang “lebih” berhak
menerima dan merasakan kemerdekaan?
Merdeka? Omong kosong. Yang
aku tahu di negeriku ini, merdeka hanya untuk segelintir orang yang punya
banyak duit. Jika kamu punya duit, kamu bisa beli apapun. Konon dengan duit
kamu juga bisa beli surga dan malaikatnya. Kalau sudah begini, apa yang tidak
bisa dibeli dengan duit? Tapi bagi mereka yang setiap harinya sudah susah dan
bergelut dengan persoalan mencari makan bagaimana nasibnya? Jangan mencoba
berkhayal untuk bisa membeli ini itu. Atau jangan mencoba untuk bisa lebih
pintar daripada hanya memikirkan kerasnya dan bertahan hidup. Layaknya terjerat
dengan persoalan segitiga setan dimana hanya ada kemiskinan, kebodohan dan
kelaparan.
Jika kamu miskin maka
untuk makan saja susah bukan kepayang. Jika kondisi badan sudah lapar maka otak
pun tak merespon. Dan saat otak tak merespon bagaimana kamu bisa bersaing di
dunia kerja jika yang selalu yang dipikirkan masalah sesuap nasi dalam satu
harinya. Segitiga setan bukan? Karena persoalan yang terjadi seakan domino
kehidupan.
Lalu siapa yang akan
kita persalahkan? Keadaan? Takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan? Ataukah
pemerintah kita yang tidak becus mengurus kita? Mana yang bisa kita persalahkan?
Ataukah kita hanya mencoba mencari “kambing hitam” karena ketidakberdayaan dan
keputusasaan kita dalam menjalani hidup ini? Ya. Biarlah. Yang penting kita sudah
merdeka bukan?
Pada suatu waktu aku
pernah mengunjungi sebuah desa. Nampak asri. Masih hijau dan tak ada bau aspal
disana. Belum tersentuh oleh yang namanya peradaban. Ku selayangkan pandang menembus
embun-embun sisa pagi. Ada sebuah bangunan mungil yang disana terdapat beberapa
orang anak. Mereka berseragam sekolah lengkap dengan peralatan lainnya seperti
tas dan buku. Kulihat semangat terpancar dari setiap raut wajah yang berada di
dalam ruangan. Kupendarkan penglihatanku ke seluruh detail dan pelosok kelas.
Terpampang beberapa lukisan karya teman-teman kecilku ini memenuhi ruangan. Seorang
guru memegang kapur dan menuliskan sesuatu di papan tulis yang menurutku tak
layak pakai. Ruangan ini sudah hampir roboh dan air tergenang saat hujan
mengguyur. “Bagaimana para siswa ini bisa belajar ditempat seperti ini?”
bisikku dalam hati.
Sudah merdekakah
mereka? Sedang di kota-kota besar tak ku jumpai hal semacam ini. Di kota-kota itu
yang gedung-gedungnya menjulang bak ingin meremas langit sekolah-sekolahnya
sudah dilengkapi dengan fasilitas yang memadai seperti komputer, ruang laboratorium
dll. Sedangkan di desa yang ku kunjungi ini hanya ada meja dan bangku yang
menemaninya. Perbedaan yang mencolok. Jika seperti ini sudah berhasilkah
pemerintah seperti yang tertuang pada alinea keempat UUD 1945 yang menyebutkan
"… negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa…”. Di dalam UUD 1945
itu sendiri disebutkan bahwa Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya dan
ingin mencerdaskan kehidupan berbangsa. Pancasila yang kelima juga menyebutkan
bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan sosial milik
seluruh rakyat? Mana?
Nyatanya hanya
segelintir yang dapat merasakan pendidikan yang layak. Dan jika kita mau
menelik ke dalam ruang-ruang kecil di pelosok negeri ini masih banyak yang
tidak bisa mengenyam pendidikan karena keterbatasan biaya. Lalu, berharap saja
pemerintah akan membuka mata dan mengulurkan tangannya. Melongok ke dalam
negerinya bahwa masih banyak dari generasi mudanya yang masih belum bisa
merasakan pendidikan yang layak. Masih banyak juga dari warganya yang masih
saja buta huruf dan tak bisa membaca.
Ataukah kita hanya
menunggu malaikat yang baik hati mengantarkan para sukarelawannya untuk sudi
dan mengabdikan diri, ke tempat-tempat terpencil yang masih jauh dari “tangan”
pendidikan? Mereka yang merasa prihatin akhirnya mendirikan gubuk-gubuk reot ala kadarnya sekedar untuk
melindungi dirinya dari panasnya cuaca. Dengan bermodalkan papan tulis yang
masih saja menggunakan kapur, tangan-tangan mungilnya mulai mencoret-coret
papan disertai dengan komat-kamit
yang disambut dengan anggukan para siswanya. Sungguh potret Indonesiaku dimana
ketidakberdayaan masyarakat menghadapi pendidikan yang kian mahal.
Seperti yang terlansir
di www.bangkapos.com
data pemerintahan Desa Tepus, Kecamatan Airgegas Bangka Selatan menyebutkan
masih ada warga yang buta huruf. Jika dijumlahkan seluruhnya dari usia 17-70
tahun hampir 1.000 warga masih buta huruf atau tidak bisa baca tulis.
Sebenarnya, ada apa
dengan negeri yang dipuja-puja ini? Yang setiap Senin lagu “Indonesia Raya” nya
selalu dikumandangkan di tiap-tiap sekolah. Siapa yang salah? Pemerintah yang
tampak acuh ataukah memang rakyat ini yang tak mau diajak maju? Berdiri di
tempat? Tidak. Kita tidak hanya staknan melainkan telah mengalami kemunduran.
Dahulu, bukankah Indonesia menjadi tempat pelancong bagi mereka-mereka yang
haus ilmu pengetahuan? Dahulu juga bukankah Indonesia selangkah lebih maju
daripada negara tetangganya? Tapi sekarang apa yang terjadi, mengapa kita tertinggal
jauh dari tetangga yang kita ajar dahulu? Ada apa dengan negaraku?
Bagi mereka yang tidak
dapat mengenyam pendidikan, tunggulah keajaiban dari pemerintahmu. Sedang bagi
mereka yang telah mengenyam pendidikan mengapa masih tak membawa perubahan?
Mengapa pendidikan hanya menjadikan mereka orang-orang yang “bergantung” pada
pemerintah dan bukan lulusan yang bisa menyediakan lapangan kerja bagi yang
lain? Apa yang salah? Sistem pendidikannyakah?
Jika benar demikian,
dari awal kemerdekaan sampai saat ini Indonesia sudah mengalami beberapa kali
perubahan dalam sistem pengajarannya. Pada tahun 1945-1950 yakni dari
proklamasi sampai RIS Indonesia berusaha untuk meninggalkan sistem kolonial dan
mengutamakan patriotism, dimana kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum 1947 (Rentjana Pelajaran).
Lalu dilanjutkan pada tahun 1950-1959 yang menggunakan
Kurikulum Tahun 1952 (Rentjana Pelajaran) yang merupakan proses penyempurnaan
dari kurikulum sebelumnya, tentunya pencapaian tujuan yang berdasar pada UU. No
04 Tahun 1950. Melalui UU No. 12 Tahun 1954, UU. No 04 Tahun 1950 bertujuan
untuk membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
Kurikulum ini juga memiliki ciri yang khas yaitu tentang sistem pendidikan yang
sudah mulai menasionalis serta disetiap rencana pelajaran yang harus
memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Perubahan demi perubahan terus dilakukan dengan harapan bisa
menjadikan Indonesia lebih baik lagi ke depannya. Sampai akhirnya program
kurikulum 2013-2014 yang di sahkan oleh DPR RI ini berbasis pada TIK. Program
kurikulum yang sedikit “kemoncolen”
karena adanya perbedaan fasilitas fisik antara sekolah di kota besar dengan
sekolah yang berada di pedalaman atau di daerah “pinggiran”. Salah satunya SMP
I Bopkri Wates Kulonprogo yang hanya memiliki empat komputer dan satu laptop.
Jumlah yang sangat kurang mengingat ada 55 siswa yang mengikui proses belajar.
Pemerintah sendiri tidak
tinggal diam dan sedang berusaha untuk mengurangi angka kebodohan dengan cara
menurunkan angka kemiskinan yang selama ini selalu menjadi batu sandungan untuk
mendapatkan pendidikan. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang
memiliki isu kemiskinan sebagai salah satu isu yang perlu dituntaskan. Menurut
TNP2K (Tim Nasional Percepatan dan Penanggulangan Kemiskinan) pada 2010 tingkat
kemiskinan di Indonesia adalah 13,33 persen dari total penduduk Indonesia, atau
sekitar 31,02 juta jiwa penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.(www.okezone.com)
Kemiskinan di Indonesia
berdasarkan sumber data TNP2K angka statistik menunjukkan
trend yang terus menurun. Pada tahun 2006 adalah 17,75% atau 39,30 juta, pada Maret
2012 turun menjadi 29,13 atau 11,96%, dan target hingga tahun 2014 adalah 8%
hingga 10% dari jumlah penduduk. Harapan yang belum sempurna karena masih
lebarnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Harapan mendapat pendidikan
yang layak pun masih diambang angan oleh sebagian yang lain. Lalu, kemanakah
kau sebenarnya kemerdekaanku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar