Jumat, 06 Juni 2014

Selipan Hidup

Masih ingat dalam ingatanku bagaimana rasa dari sentuhan tangannya, logat dari bicaranya dan sikap merayunya saat aku sudah mulai ngambek dengannya. Hilang. Itu hanya sebuah kenangan setahun yang lalu saat aku bersamanya. Akan tetapi saat ini semua berubah. Aku berada di tempat yang berbeda. Jauh dari tempatnya tinggal. Tak hanya itu aku pun jauh untuk mencium bau kota yang selama ini aku hirup. Tak ada lagi. Tak ada. Karena disinilah aku berada sekarang.

Berada di sebuah desa terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Dari beberapa yang ku dengar, untuk sekedar membeli lauk berupa ikan ataupun daging ayam haruslah melalui jembatan gantung dimana sungai deras mengalir dibawahnya. Selain itu jalanan tak semulus dengan kota. Memang, disini tidaklah macet layaknya kota-kota besar tapi medan jalan yang harus dilalui sangatlah licin, mungkin harus menggunakan sepeda trail atau sepeda motor yang dimodifikasi sedikit lebih tinggi untuk menghindari becek dan genangan air. Jika dari pusat kota, membutuhkan waktu sekitar 7 jam untuk sampai pada desa yang ku tinggali saat ini.
Bukan tanpa alasan aku berada disini. Sebagai salah satu anggota dari program pemerintah dalam pengentasan pendidikan di Indonesia, aku setuju untuk mengabdikan diri ke desa yang sudah disepakati sebelumnya. Tujuannya untuk memajukan desa tersebut. Aku setuju dan berkomitmen untuk berada disini selama 2 tahun ke depan. Alasan ini yang tidak dapat diterima oleh Ridho, tunanganku. Menurutnya, mengapa harus memilih mengabdikan diri ke desa-desa terpencil yang untuk sinyal handphone saja tidak ada, listrik pun baru masuk. Lalu bagaimana dia akan menghubungiku jika rindu? Masih musimkah yang namanya surat itu? Karena merasa tidak dapat menjalin hubungan jarak jauh akhirnya hubungan kami yang sudah berjalan selama hampir 2 tahun pun akhirnya harus kandas.
Aku berusaha tidak memikirkan hal itu lagi. Bagiku fokus dengan apa yang sedang ku kerjakan sekarang mungkin jauh lebih baik dan bermanfaat. Bagiku, ataupun bagi lainnya. Bukankah sebuah hubungan haruslah berlandaskan kepercayaan pada pasangannya? Jika tidak, buat apa juga untuk diteruskan. Dengan berat hati, aku pun menyetujui keputusan itu dan berusaha menerimanya dengan ikhlas.
Disini, aku akan mengajar di salah satu sekolah yang sebelumnya pernah mendapatkan bantuan pemerintah, akan tetapi belum ada tanda-tanda sekolah ini berkembang lebih baik daripada sebelumnya.
Mari saya antar ke SD Mayangsari 1, Bu.” ucap Pak Karyo selaku lurah desa ini dengan ramah. Setelah mengunci pintu kontrakan, aku pun berangkat ke sekolah bersama pak lurah dengan mengendarai sepeda motor. Sehari sebelumnya pak lurah sudah memberi tahuku bahwa jarak dari kontrakan ke sekolah membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Bagi aku yang belum terbiasa, tentu hal ini adalah pengalaman baru dan sedikit melelahkan. Tapi tak apalah, semangatku jauh lebih besar daripada rasa mengeluhku.
Aku sampai di depan sebuah sekolah. Ku baca tulisan yang ada di depan “SD Mayangsari 1”. Setelah menaruh sepeda di parkiran aku berjalan melewati lorong-lorong sekolah. “Benarkah ini sekolah yang dimaksud?” ucapku dalam hati. Aku tertegun. Bukan karena kagum melainkan karena sekolah yang ada di hadapanku ini tak lebih dari seonggok tembok tanpa atap genteng. Mereka yang sedang belajar di dalam kelas hanya berpayungkan jerami-jerami yang terkesan ditata ala kadarnya. Temboknya pun terlihat lusuh dan berlubang.
Tak lama, Pak Andi, Kepala Sekolah SD Mayangsari 1 datang dan menyalami kami. Setelah memperkenalkan diri, saya diajaknya ke salah satu ruang kelas. Pak lurah hanya mengantarkanku sampai bertemu dengan kepala sekolah. “Yah, beginilah kondisi sekolah kami.” ucap Pak Andi seakan tahu apa yang sedang kupikirkan.
“Selamat pagi, anak-anak.” sapa Pak Andi dengan berdiri di depan kelas. Sapaan pun berbalas. Setelah itu Pak Andi mempersilakanku untuk memperkenalkan diri kepada anak-anak. Ternyata kelas inilah yang menjadi kelas ku nanti. Tempatku mengajar dan mengabdikan diri.
Tak banyak siswa yang ada disini. Mungkin sekitar 25 siswa. Setelah memperkenalkan diri, aku pun langsung mengajar. Sebagai pembuka, aku mengadakan sesi perkenalan. “Tak kenal, maka tak sayang. Begitulah kata pepatah.” Satu per satu siswa aku persilakan untuk introduce yourself di depan kelas. Awalnya mereka tampak malu-malu. Akan tetapi, keseluruhan semua berjalan lancar.
Setelah sesi pengenalan selesai, untuk mengetahui kemampuan mereka dalam membaca, maka ku teruskan dengan membaca buku pelajaran secara bersama-sama. Alangkah kagetnya aku. Sebagian dari mereka ada yang tersendat-sendat dalam membaca bahkan sebagian yang lain memilih untuk diam dan mendengarkan.
Ini tidaklah wajar bagiku. Di usia mereka sekarang yang sudah menduduki bangku kelas 6 SD ternyata untuk membaca saja, banyak dari mereka yang belum mampu melakukannya. “Lalu apa yang sudah mereka dapatkan selama ini disini? Dan bagaimana mungkin kalian akan menghadapi Ujian Nasional dengan keadaan yang seperti ini?” tanyaku miris dalam hati.
Percuma mengeluh dan mengutuki diri sendiri. Aku sudah terlanjur berada disini. Dan karena ini, aku berada disini. Tak ada sesuatu yang harus disesalkan. Memikirkan jalan keluar atas permasalahan ini jauh lebih baik daripada mengeluh dan memilih mundur.
Hari selanjutnya, aku memutuskan untuk membagi kelas menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah siswa yang tidak bisa membaca, kelompok kedua adalah siswa yang bisa membaca walau sedikit dan yang ketiga adalah kelompok siswa yang sudah bisa membaca. Hal ini dilakukan agar kelompok siswa yang sudah bisa membaca dapat mengajari temannya yang berada di kelompok lain.
Tak terasa dua jam sudah aku berada di kelas ini. Bunyi bel menandakan bahwa kelas telah usai dan waktunya beristirahat sejenak. Aku berniat untuk membeli sebotol air, mengisi kerongkonganku yang kering setelah bercuap-cuap di kelas tadi.
Nina, salah seorang guru sokwan yang bekerja di sekolah ini menemaniku membeli air di warung sebelah sekolah. Maklum, kondisi sekolah belum bisa menyediakan kantin bagi para siswanya. Saat akan kembali ke sekolah, aku berpapasan dengan seorang lelaki, perawakannya tinggi dan tegap. Dia tampak pintar dengan kacamata yang digunakannya. Perfect. Tanpa ku sadari pandanganku tak lepas darinya sampai kurasakan adanya tepukan lembut yang mengenai bahu, menyadarkanku.
“Apa kamu menyukai Pak Rosli?” Nina mulai menggodaku dengan pertanyaan-pertanyaan. Aku pun hanya tersenyum malu. “Oh, ternyata namanya Rosli.” begitu ucapku dalam hati dengan berbunga-bunga. Pandangan pertama yang seolah dapat membuatku melupakan Ridho, mantan tunanganku yang kini entah dengan siapa dia. Aku senang punya alasan lain kenapa aku harus tetap tinggal di desa ini.

Selepas mengajar, aku sering berkunjung ke rumah Nina yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari kontrakanku. Selain membicarakan mengenai pendidikan atau sistem pengajaran yang ada di sekolah, terkadang juga terselip pembicaraan mengenai Rosli, salah satu pengajar di sekolah tempatku mengajar sekarang. Dia mengajar 2 bulan lebih dulu daripada aku.
Dari penuturan Nina, Rosli adalah salah satu pengajar yang datang dari Surakarta. Dia datang kesini untuk mengabdikan dirinya membangun pendidikan dan sistem pengajaran agar desa ini dapat berkembang dan lebih maju lagi. Entah. Belum ada berita sampai kapan dia akan ada disini.
“Selamat pagi, Bu.” Rosli menyapaku di suatu pagi. Ya ampun! Dia benar-benar menyapaku. Aku seakan tak percaya karena sebelumnya dia tampak cuek saat berpapasan. Ku lempar senyum menanggapi sapaannya dengan tetap berjalan menuju ruang kelas.
Sesampainya di dalam kelas, pagi ini, aku akan mengajarkan mengenai makhluk hidup. Makhluk hidup itu tumbuh dan bernafas, banyak cara yang dilakukan oleh makhluk hidup untuk bernafas. Agar tak sekedar melulu pada teori, akhirnya aku membuat sebuah metode yang mengharuskan siswa untuk melihat, mengetahui dan merasakan secara langsung dari pelajaran yang diberikan. Sebagai contoh, pagi ini aku berusaha memanfaatkan sungai yang ada di samping sekolah sebagai tempat praktik dengan sistem pembelajaran, belajar... sambil bermain. “Tangkaplah satu ikan untuk kita jadikan objek pelajaran kita hari ini.”ucapku memberi perintah pada semua siswa. “Asiik!” teriak mereka dengan suka cita. Dengan secepat kilat mereka langsung melepas sepatu dan bersiap untuk menceburkan diri ke sungai.
“Usus ikan itu bentuknya yang bagaimana ya? Apa ada yang ingin menunjukkannya padaku?” Para siswa mulai berebut menunjukkannya padaku. Dengan begitu mereka tidak hanya teori saja yang di dapat, melainkan juga mengetahuinya secara langsung karena mereka juga menyentuh dan merasakannya.
“Bu guru, hari ini belajarnya menyenangkan. Tidak seperti biasanya. Sampai bertemu besok, Bu.” Sambil melambaikan tangan mereka pun beriringan pulang. Menyambut siang dengan gembira. Aku senang, karena sistem pembelajaran yang baru dapat diterima dengan baik oleh para siswa.
Seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya, selepas jam aktif sekolah akan diadakan rapat guru. Rapat diadakan untuk membahas mengenai kondisi internal sekolah. Dibuka dengan pemaparan kondisi sekolah dan hambatan atau kendala dari proses belajar mengajar di kelas. Banyak guru yang memaparkan ketidaktahuannya dalam menggunakan alat peraga ataupun viewer, akhirnya mereka lebih memilih mengajar secara manual dan membosankan.
“Bukankah ada petunjuk penggunaan?” tanyaku kepada semua guru dalam rapat tersebut. “Memang ada, tetapi petunjuk teknisnya menggunakan bahasa Inggris yang kita sendiri sebagai guru tidak paham itu.” ungkap salah satu guru. Setelah mengetahui titik kendala, aku menawarkan diri untuk membantu mengadakan pelatihan, cara menggunakan alat peraga ataupun media lainnya. Membutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk mengajarkannya.
Sekarang, setidaknya seorang guru yang mengajar di depan kelas sudah menggunakan alat peraga. Ada juga yang sudah mahir menggunakan viewer ataupun laptop. Terkadang bahkan untuk mengisi waktu senggang dan agar para siswa tidak jenuh, para guru melakukan nobar (nonton bareng). Selain untuk proses pengakraban diri antara guru dan siswanya juga untuk memberikan sistem pengajaran yang lebih efektif dan menyenangkan. Kini, proses belajar tak lagi monoton dan membosankan.
Setahun kulewati waktu dengan mengabdikan diri dan menikmati setiap detikku bersama pemilik-pemilik senyum mungil nan polos yang bersemangat dalam menuntut ilmu. Dan di desa inilah aku menemukan kumbangku, Rosli. Lelaki yang ku cintai secara diam-diam. Berharap dia akan mengetahui perasaanku dengan sendirinya, tanpa harus ku ungkapkan. Tanpa harus ku katakan. Malam memberiku jeda waktu untuk menantikan esok pagi. Ku pejamkan mata berharap dapat menemui bayangnya dalam mimpi.
***
Pagi ini, di sekolah, ku dengar nama Rosli menjadi buah bibir dikalangan para guru. Entah mengapa, aku tak tahu jelas. “Ada apa sih, Nin? Kok kayaknya sekolah sedang heboh membicarakan Rosli.” bisikku kepada Nina. Rasa penasaran dalam hati akhirnya mencuat juga. Sebelum Nina menjelaskan apa yang terjadi, Bu Gusti guru Matematika memberi tahuku bahwa kepala sekolah sedang menungguku di ruangannya. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menuju ke ruang kepala sekolah.
“Permisi. Bapak mencari saya?” raut wajahnya menampakkan kebingungan. Setelah dipersilakan duduk, Pak Andi pun membuka pembicaraan. “Sekolah kita masuk menjadi finalis lomba cerdas cermat se-provinsi Jawa Timur. Sebenarnya Pak Rosli-lah yang akan menemani siswa dalam acara tersebut. Akan tetapi ada suatu sebab yang membuatnya harus kembali ke daerah dan mengundurkan diri dari sekolah ini. Untuk itulah saya meminta Anda menggantikannya.” Pak Andi mengungkapkan apa yang sedang terjadi. Untuk sepersekian detik aku hanya terdiam. Berusaha mencongkel isi kepala da menyadarkan diri bahwa apa yang ku dengar adalah halusinasi belaka.
Ku dengar suara memanggil-manggil namaku. Sontak ku tersadar bahwa apa yang ku dengar adalah kenyataan. Aku masih berada di depan kepala sekolah. Setelah kesadaranku pulih, aku pun mengiyakan dan mengatakan kesanggupanku. Lalu, aku hanya terdiam. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Sedang dia belum sempat mengetahui apa yang kurasa padanya. Belum. Tapi dia sudah meninggalkan sekolah ini tanpa ada alasan yang jelas yang bisa ku terima. Oh Tuhan, mengapa?


Untuk beberapa saat aku masih harus berada disini, di desa yang ingin ku majukan. Tanpa dia. Tanpa ada dia. Secuil rasa yang ku titipkan dalam hati. Bagaimana rasa sayangku padamu yang tak tersampaikan. Lalu kau pergi. Tanpa sepenggal kata untukku.

Tidak ada komentar: