Masih ingat dalam ingatanku bagaimana rasa dari sentuhan tangannya,
logat dari bicaranya dan sikap merayunya saat aku sudah mulai ‘ngambek’
dengannya. Hilang. Itu hanya sebuah kenangan setahun yang lalu saat aku
bersamanya. Akan tetapi saat ini semua berubah. Aku berada di tempat yang
berbeda. Jauh dari tempatnya tinggal. Tak hanya itu aku pun jauh untuk mencium
bau kota yang selama ini aku hirup. Tak ada lagi. Tak ada. Karena
disinilah aku berada sekarang.
Berada di sebuah desa terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk
kota. Dari beberapa yang ku dengar, untuk sekedar membeli lauk berupa ikan ataupun
daging ayam haruslah melalui jembatan gantung dimana sungai deras mengalir
dibawahnya. Selain itu jalanan tak semulus dengan kota. Memang, disini tidaklah
macet layaknya kota-kota besar tapi medan jalan yang harus dilalui sangatlah
licin, mungkin harus menggunakan sepeda trail atau sepeda motor yang
dimodifikasi sedikit lebih tinggi untuk menghindari becek dan genangan
air. Jika dari pusat kota, membutuhkan waktu sekitar 7 jam untuk sampai pada
desa yang ku tinggali saat ini.
Bukan tanpa alasan aku berada disini. Sebagai salah satu anggota dari
program pemerintah dalam pengentasan pendidikan di Indonesia, aku setuju untuk
mengabdikan diri ke desa yang sudah disepakati sebelumnya. Tujuannya untuk
memajukan desa tersebut. Aku setuju dan berkomitmen untuk berada disini selama
2 tahun ke depan. Alasan ini yang tidak dapat diterima oleh Ridho, tunanganku.
Menurutnya, mengapa harus memilih mengabdikan diri ke desa-desa terpencil yang
untuk sinyal handphone saja tidak ada, listrik pun baru masuk. Lalu
bagaimana dia akan menghubungiku jika rindu? Masih musimkah yang namanya surat
itu? Karena merasa tidak dapat menjalin hubungan jarak jauh akhirnya hubungan
kami yang sudah berjalan selama hampir 2 tahun pun akhirnya harus kandas.
Aku berusaha tidak memikirkan hal itu lagi. Bagiku fokus
dengan apa yang sedang ku kerjakan sekarang mungkin jauh lebih
baik dan bermanfaat. Bagiku, ataupun bagi lainnya. Bukankah sebuah hubungan
haruslah berlandaskan kepercayaan pada pasangannya? Jika tidak, buat apa juga
untuk diteruskan. Dengan berat hati, aku pun menyetujui keputusan itu dan
berusaha menerimanya dengan ikhlas.
Disini, aku akan mengajar di salah satu sekolah yang sebelumnya pernah
mendapatkan bantuan pemerintah, akan tetapi belum ada tanda-tanda sekolah ini
berkembang lebih baik daripada sebelumnya.
“Mari saya antar ke SD Mayangsari 1, Bu.”
ucap
Pak
Karyo
selaku lurah desa ini dengan ramah. Setelah mengunci pintu kontrakan,
aku pun berangkat ke sekolah bersama pak lurah dengan mengendarai sepeda motor.
Sehari sebelumnya pak lurah sudah memberi tahuku bahwa jarak dari kontrakan ke
sekolah membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Bagi aku yang belum
terbiasa, tentu hal ini adalah pengalaman baru dan sedikit melelahkan. Tapi tak
apalah, semangatku jauh lebih besar daripada rasa mengeluhku.
Aku sampai di depan sebuah sekolah. Ku baca tulisan yang ada di depan
“SD Mayangsari 1”. Setelah menaruh sepeda di parkiran
aku berjalan melewati lorong-lorong sekolah. “Benarkah
ini sekolah yang dimaksud?” ucapku dalam hati. Aku tertegun. Bukan karena kagum
melainkan karena sekolah yang ada di hadapanku ini tak lebih dari seonggok
tembok tanpa atap genteng. Mereka yang sedang belajar di dalam kelas hanya
berpayungkan jerami-jerami yang terkesan ditata ala kadarnya. Temboknya pun
terlihat lusuh dan berlubang.
Tak lama, Pak Andi, Kepala Sekolah SD Mayangsari 1 datang dan menyalami
kami. Setelah memperkenalkan diri, saya diajaknya ke salah satu ruang kelas.
Pak lurah hanya mengantarkanku sampai bertemu dengan kepala sekolah. “Yah,
beginilah kondisi sekolah kami.” ucap Pak Andi seakan tahu apa yang sedang
kupikirkan.
“Selamat pagi, anak-anak.” sapa Pak Andi dengan berdiri di depan kelas.
Sapaan pun berbalas. Setelah itu Pak Andi mempersilakanku untuk memperkenalkan
diri kepada anak-anak. Ternyata kelas inilah yang menjadi kelas ku nanti.
Tempatku mengajar dan mengabdikan diri.
Tak banyak siswa yang ada disini. Mungkin sekitar 25 siswa. Setelah
memperkenalkan diri, aku pun langsung mengajar. Sebagai pembuka, aku mengadakan
sesi perkenalan. “Tak kenal, maka tak sayang. Begitulah kata pepatah.” Satu per
satu siswa aku persilakan untuk introduce yourself di depan kelas.
Awalnya mereka tampak malu-malu. Akan tetapi, keseluruhan semua berjalan
lancar.
Setelah sesi pengenalan selesai, untuk mengetahui kemampuan mereka dalam
membaca, maka ku teruskan dengan membaca buku pelajaran secara bersama-sama.
Alangkah kagetnya aku. Sebagian dari mereka ada yang tersendat-sendat dalam
membaca bahkan sebagian yang lain memilih untuk diam dan mendengarkan.
Ini tidaklah wajar bagiku. Di usia mereka sekarang yang sudah menduduki
bangku kelas 6 SD ternyata untuk membaca saja, banyak dari mereka yang belum
mampu melakukannya. “Lalu apa yang sudah mereka dapatkan selama ini disini?
Dan bagaimana mungkin kalian akan menghadapi Ujian Nasional dengan keadaan yang
seperti ini?” tanyaku miris dalam hati.
Percuma mengeluh dan mengutuki diri sendiri. Aku sudah terlanjur berada disini.
Dan karena ini, aku berada disini. Tak ada sesuatu yang harus disesalkan.
Memikirkan jalan keluar atas permasalahan ini jauh lebih baik daripada mengeluh
dan memilih mundur.
Hari selanjutnya, aku memutuskan untuk membagi kelas menjadi tiga
kelompok. Kelompok pertama adalah siswa yang tidak bisa membaca, kelompok kedua
adalah siswa yang bisa membaca walau sedikit dan yang ketiga adalah kelompok
siswa yang sudah bisa membaca. Hal ini dilakukan agar kelompok siswa yang sudah
bisa membaca dapat mengajari temannya yang berada di kelompok lain.
Tak terasa dua jam sudah aku berada di kelas ini. Bunyi bel menandakan
bahwa kelas telah usai dan waktunya beristirahat sejenak. Aku berniat untuk
membeli sebotol air, mengisi kerongkonganku yang kering setelah bercuap-cuap di
kelas tadi.
Nina, salah seorang guru sokwan yang bekerja di sekolah ini menemaniku
membeli air di warung sebelah sekolah. Maklum, kondisi sekolah belum bisa
menyediakan kantin bagi para siswanya. Saat akan kembali ke sekolah, aku
berpapasan dengan seorang lelaki, perawakannya tinggi dan tegap. Dia tampak
pintar dengan kacamata yang digunakannya. Perfect. Tanpa ku sadari
pandanganku tak lepas darinya sampai kurasakan adanya tepukan lembut yang
mengenai bahu, menyadarkanku.
“Apa kamu menyukai Pak Rosli?” Nina mulai menggodaku dengan
pertanyaan-pertanyaan. Aku pun hanya tersenyum malu. “Oh, ternyata namanya
Rosli.” begitu ucapku dalam hati dengan berbunga-bunga. Pandangan pertama yang
seolah dapat membuatku melupakan Ridho, mantan tunanganku yang kini entah
dengan siapa dia. Aku senang punya alasan lain kenapa aku harus tetap tinggal
di desa ini.
Selepas mengajar, aku sering berkunjung ke rumah Nina yang memang
jaraknya tidak terlalu jauh dari kontrakanku. Selain membicarakan mengenai
pendidikan atau sistem pengajaran yang ada di sekolah, terkadang juga terselip
pembicaraan mengenai Rosli, salah satu pengajar di sekolah tempatku mengajar
sekarang. Dia mengajar 2 bulan lebih dulu daripada aku.
Dari penuturan Nina, Rosli adalah salah satu pengajar yang datang dari
Surakarta. Dia datang kesini untuk mengabdikan dirinya membangun pendidikan dan
sistem pengajaran agar desa ini dapat berkembang dan lebih maju lagi. Entah.
Belum ada berita sampai kapan dia akan ada disini.
“Selamat pagi, Bu.” Rosli menyapaku di suatu pagi. Ya ampun! Dia
benar-benar menyapaku. Aku seakan tak percaya karena sebelumnya dia tampak cuek
saat berpapasan. Ku lempar senyum menanggapi sapaannya dengan tetap berjalan
menuju ruang kelas.
Sesampainya di dalam kelas, pagi ini, aku akan mengajarkan mengenai
makhluk hidup. Makhluk hidup itu tumbuh dan bernafas, banyak cara yang
dilakukan oleh makhluk hidup untuk bernafas. Agar tak sekedar melulu pada
teori, akhirnya aku membuat sebuah metode yang mengharuskan siswa untuk
melihat, mengetahui dan merasakan secara langsung dari pelajaran yang
diberikan. Sebagai contoh, pagi ini aku berusaha memanfaatkan sungai yang ada
di samping sekolah sebagai tempat praktik dengan sistem pembelajaran,
belajar... sambil bermain. “Tangkaplah satu ikan untuk kita jadikan objek
pelajaran kita hari ini.”ucapku memberi perintah pada semua siswa. “Asiik!”
teriak mereka dengan suka cita. Dengan secepat kilat mereka langsung melepas
sepatu dan bersiap untuk menceburkan diri ke sungai.
“Usus ikan itu bentuknya yang bagaimana ya? Apa ada yang ingin
menunjukkannya padaku?” Para siswa mulai berebut menunjukkannya padaku. Dengan
begitu mereka tidak hanya teori saja yang di dapat, melainkan juga
mengetahuinya secara langsung karena mereka juga menyentuh dan merasakannya.
“Bu guru, hari ini belajarnya menyenangkan. Tidak seperti biasanya.
Sampai bertemu besok, Bu.” Sambil melambaikan tangan mereka pun
beriringan pulang. Menyambut siang dengan gembira. Aku senang, karena sistem
pembelajaran yang baru dapat diterima dengan baik oleh para siswa.
Seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya, selepas jam aktif sekolah
akan diadakan rapat guru. Rapat diadakan untuk membahas mengenai kondisi
internal sekolah. Dibuka dengan pemaparan kondisi sekolah dan hambatan atau
kendala dari proses belajar mengajar di kelas. Banyak guru yang memaparkan
ketidaktahuannya dalam menggunakan alat peraga ataupun viewer, akhirnya
mereka lebih memilih mengajar secara manual dan membosankan.
“Bukankah ada petunjuk penggunaan?” tanyaku kepada semua guru dalam rapat
tersebut. “Memang ada, tetapi petunjuk teknisnya menggunakan bahasa Inggris
yang kita sendiri sebagai guru tidak paham itu.” ungkap salah satu guru.
Setelah mengetahui titik kendala, aku menawarkan diri untuk membantu mengadakan
pelatihan, cara menggunakan alat peraga ataupun media lainnya. Membutuhkan
waktu sekitar 2 bulan untuk mengajarkannya.
Sekarang, setidaknya seorang guru yang mengajar di depan kelas sudah
menggunakan alat peraga. Ada juga yang sudah mahir menggunakan viewer
ataupun laptop. Terkadang bahkan untuk mengisi waktu senggang dan agar para
siswa tidak jenuh, para guru melakukan nobar (nonton bareng). Selain untuk
proses pengakraban diri antara guru dan siswanya juga untuk memberikan sistem
pengajaran yang lebih efektif dan menyenangkan. Kini, proses belajar tak lagi
monoton dan membosankan.
Setahun kulewati waktu dengan mengabdikan diri dan menikmati setiap
detikku bersama pemilik-pemilik senyum mungil nan polos yang bersemangat dalam
menuntut ilmu. Dan di desa inilah aku menemukan kumbangku, Rosli. Lelaki yang ku
cintai secara diam-diam. Berharap dia akan mengetahui perasaanku dengan
sendirinya, tanpa harus ku ungkapkan. Tanpa harus ku katakan. Malam memberiku
jeda waktu untuk menantikan esok pagi. Ku pejamkan mata berharap dapat menemui
bayangnya dalam mimpi.
***
Pagi
ini, di sekolah, ku dengar nama Rosli menjadi buah bibir dikalangan para guru.
Entah mengapa, aku tak tahu jelas. “Ada apa sih, Nin? Kok kayaknya
sekolah sedang heboh membicarakan Rosli.” bisikku kepada Nina. Rasa penasaran
dalam hati akhirnya mencuat juga. Sebelum Nina menjelaskan apa yang terjadi, Bu
Gusti guru Matematika memberi tahuku bahwa kepala sekolah sedang menungguku di
ruangannya. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menuju ke ruang kepala
sekolah.
“Permisi.
Bapak mencari saya?” raut wajahnya menampakkan kebingungan. Setelah
dipersilakan duduk, Pak Andi pun membuka pembicaraan. “Sekolah kita masuk
menjadi finalis lomba cerdas cermat se-provinsi Jawa Timur. Sebenarnya Pak
Rosli-lah yang akan menemani siswa dalam acara tersebut. Akan tetapi ada suatu
sebab yang membuatnya harus kembali ke daerah dan mengundurkan diri dari
sekolah ini. Untuk itulah saya meminta Anda menggantikannya.” Pak Andi
mengungkapkan apa yang sedang terjadi. Untuk sepersekian detik aku hanya
terdiam. Berusaha mencongkel isi kepala da menyadarkan diri bahwa apa yang ku
dengar adalah halusinasi belaka.
Ku
dengar suara memanggil-manggil namaku. Sontak ku tersadar bahwa apa yang ku
dengar adalah kenyataan. Aku masih berada di depan kepala sekolah. Setelah
kesadaranku pulih, aku pun mengiyakan dan mengatakan kesanggupanku. Lalu, aku
hanya terdiam. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Sedang dia belum sempat
mengetahui apa yang kurasa padanya. Belum. Tapi dia sudah meninggalkan sekolah
ini tanpa ada alasan yang jelas yang bisa ku terima. Oh Tuhan, mengapa?
Untuk
beberapa saat aku masih harus berada disini, di desa yang ingin ku majukan.
Tanpa dia. Tanpa ada dia. Secuil rasa yang ku titipkan dalam hati. Bagaimana
rasa sayangku padamu yang tak tersampaikan. Lalu kau pergi. Tanpa sepenggal
kata untukku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar