Cinta? Kalau bilang
cinta pasti gak jauh-jauh dari yang
namanya cinta negara, cinta agama, cinta keluarga, karir, hobi ataupun monyet? Apa?
Coba ulangi. Aku bilang coba ulangi sekali lagi. Haha.. Ya, cinta monyet. Cinta
monyet disini hanyalah sebuah istilah cinta anak “ingusan”. Anggap saja cinta
yang dialami oleh anak yang masih remaja. Biasanya cinta monyet itu berkisar
anak remaja yang baru merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Ceile..Jadi bisa dibilang pacar pertamanya.
Ternyata aku pun tak
luput dari yang namanya cinta monyet. Awal dari kisah cinta monyetku ini saat
aku mulai naik ke kelas 3 SMP. Awalnya aku tak pernah memikirkan lebih mengenai
“cinta”. Tapi apa daya, dia datang dengan tiba-tiba sembari menyodorkan
setangkai bunga mawar padaku. Ya ampun..seperti di sinetron saja kisah
“penembakanku” ini.
Saat itu jam pelajaran
telah usai dan memasuki jam istirahat. Tanpa curiga sedikit pun dengan semakin
banyaknya teman-teman yang memasuki kelasku, aku masih tetap cuek menyalin
catatan dari buku teman sebangkuku, Titin.
“Tembak..tembak..tembaakk…!!”
Teriakan itu semakin
keras saja ku dengar. Tak khayal perhatianku dari buku di hadapanku pun
teralihkan. Rasa ingin tahu pun semakin menjadi. Saat langkahku semakin
mendekati ke arah kerumunan. Tiba-tiba.. Roni muncul dihadapanku dan seakan
menyembah padaku dia pun bersimpuh dengan sekuntum bunga mawar di genggamannya.
“Bel, maukah kamu
menjadi pacarku?”
Sontak duniaku seakan
runtuh dan waktu seakan berhenti sejenak. Ternyata ini acara “penembakan” yang
dipersiapkan oleh teman-temanku. Aku pun bingung. Apa yang harus kulakukan? Selama
15 tahun aku hidup di dunia ini, baru sekali ini aku di “tembak” cowok.
“Jika kamu menerimaku,
maka ambil bunga ini dari genggamanku.” ucap Roni sejenak menyadarkanku bahwa
tawarannya belum juga ku jawab. Semakin aku bingung saja. Apa yang harus ku
lakukan ini?
“Ambil…ambil….ambil..”
suara teman-teman lain seakan mendorongku untuk menerima cinta yang ditawarkan
oleh Roni. Setelah sekitar 15 menit karena desakkan teman-teman yang lain, aku
pun mengambil bunga mawar itu dari genggaman tangannya.
“Makasih Bel. Berarti
mulai hari ini kita resmi pacaran ya? Sekarang tanggal.. 10 November 2009. Hari
jadian kita, tepat di hari Pahlawan. Akan ku ingat selalu.” ucap Roni dengan
wajah yang berbunga-bunga. Aku pun hanya membalasnya dengan senyum. Entah apa
yang sedang ku pikirkan sampai menerima tawaran cinta Roni padaku.
“Haduh. Apa yang
sebenarnya sudah aku lakukan? Bagaimana kalau nanti sampai ketahuan mama?”
bisikku pada diri sendiri.
Sebenarnya mama
melarangku untuk berpacaran dulu. Mengingat aku masih sekolah, apalagi sekarang
aku menginjak kelas 3 SMP. Tak lama lagi aku harus mengikuti ujian nasional
untuk menentukan lulus tidaknya aku dari SMP Tiga Marga ini. Entahlah.
Sepertinya aku tak dapat berfikir jernih untuk saat ini.
Aku mengenal Roni dari
kelas satu. Bagaimana tidak selama bersekolah di SMP Tiga Marga ini, ini adalah
tahun ketigaku sekelas dengannya. Dia anak yang humoris dan juga pintar. Banyak
yang menunggu giliran untuk menjadi pacarnya. Tapi dia sekarang memilihku. Bisa
dibayangkan kan, bagaimaa sinisnya
cewek-cewek di sekolahku karena hal ini. Tapi bukan itu masalahnya. Yang
menjadi masalah utama saat ini, bagaimana aku harus tetap fokus pada sekolah
(dan juga Roni) tapi mama tetap gak
boleh tahu kalau aku pacaran. Ya, setidaknya sampai aku lulus SMP.
“Mungkin saat aku mulai
masuk SMA nanti, mama akan berubah pikiran dan memperbolehkanku berpacaran. Kan
aku sudah mulai beranjak dewasa nanti.” aku membayangkannya sambil
senyum-senyum.
“Hei, melamun saja.
Pulang sekolah nanti aku antar kamu pulang ya?”
Roni tiba-tiba datang
dan membuyarkan lamunanku. Dia menawari untuk pulang bersama.
“Kamu ingin mengantarku
pulang?? Ingin mati ya?” jengkelku dalam hati.
Roni memang tidak
mengetahui larangan yang diberikan oleh mama padaku. Aku belum menceritakan hal
itu padanya. Atau mungkin lebih baik aku tak akan menceritakan hal itu padanya.
Sama-sama tak ada gunanya. Dengan halus aku menolak tawaran dari Roni untuk
mengantarkanku pulang. Dengan dalih akan dijemput papa, akhirnya dia pun mau
mengerti.
“Hari ini papa akan
menjemputku.” ucapku dengan halus.
“Benarkah? Tumben
sekali. Ya sudah, mungkin lain waktu kita bisa pulang bersama.” ucapnya sembari
pergi menuju tempat duduknya karena jam istirahat telah usai dan sebentar lagi
waktunya Bu Gini memberikan pelajaran Bahasa Indonesia.
Selama pelajaran
berlangsung perasanku campur aduk. Ada rasa senang dan berbunga-bunga karena
bisa berpacaran dengan Roni. Dia cinta monyetku, begitu istilahku untuk pacar
pertamaku. Akhirnya aku menemukan cinta monyetku sendiri. Untuk dijadikan cinta
monyet bukankah dia cukup perfect?
Pacar pertama yang pintar dan selalu menjadi juara kelas. Entah apa yang ada di
pikirannya sampai dia mau memilihku. Siswi yang tidak memiliki prestasi apapun seperti
dirinya. Ah.. entahlah, aku tak mau tahu. Disisi lain, aku memikirkan mama.
Sampai kapan aku akan menyembunyikan hubunganku dengan Roni? Backstreet?? Apa enaknya?
Selama pelajaran Bu
Gini berlangsung, kedua hal itulah yang ada di pikiranku. Kacau. Aku tak dapat
berkonsentrasi terhadap mata pelajaran yang diberikan. Akan tetapi di sudut
kelas yang lain, tampak sepasang mata yang sedang mengawasiku dari tempatnya
duduk.
***
“Bel, bagaimana
persiapanmu untuk ujian nasional besok? Sudah siap?” tanya mama di suatu malam.
“Beres, Ma. Harus lebih
mendalami pelajaran yang disampaikan oleh Bu Guru di sekolah saja.” jawabku
enteng.
“Kamu harus tetap fokus
sekolah agar bisa melanjutkan SMA di Bina Insani” ucap mama menasehatiku.
Aku pun menganggukkan
kepala saja. Dari cara mama bicara, seakan tahu mengenai kondisi belajarku yang
sering terganggu akhir-akhir ini. Mama berusaha mengingatkanku bahwa aku nantinya
harus bisa masuk di SMA Bina Insani. SMA favorit yang menjadi incaranku setelah
aku dinyatakan lulus dari SMP Tiga Marga ini.
“Bagaimana caranya agar
aku tetap fokus pada sekolahku, tapi dengan tetap menjalin hubungan dengan
Roni?” Padahal selama ini, setiap malam aku selalu saja memikirkannya dan
sering ber-sms-an ria hingga larut malam. Seakan tak ada hari esok untuk
berjumpa. Efeknya bisa ditebak, aku sering tidak berkonsentrasi dengan apa yang
diberikan oleh guruku karena rasa kantuk yang tidak tertahankan.
***
Semakin lama hasil
ulangan harianku semakin merosot. Karena dirasa semakin mengkhawatirkan
akhirnya mama menanyaiku di suatu waktu.
“Bella, mama mendapat
laporan dari wali kelasmu kalau nilai ulanganmu turun. Apa benar itu, Bella?”
“Iya, Ma.” jawabku singkat.
“Ada apa sayang? Apa
ada masalah yang mengganjal proses belajarmu?”
Mau tak mau akhirnya
aku pun mulai menceritakan yang terjadi kepada mama. Ku rasa kini mama harus
tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun tak ingin jika nantinya aku tak dapat
lulus dan masuk ke SMA favoritku. Perlahan mama menghela nafas dalam-dalam
seakan mengatur irama nafasnya agar kembali normal. Setelah mendengar
penjelasanku. Mama pun akhirnya angkat bicara.
“Mengapa mama tak memperbolehkanmu
pacaran selama ini karena seperti inilah yang mama takutkan. Kamu tak dapat
berkonsentrasi penuh dengan pelajaranmu. Mama tak ingin nilaimu turun gara-gara
yang ada di pikiranmu hanya pacaran dan pacaran saja.” mama menjelaskan dengan
wajah marah.
“Tapi Roni orangnya
baik, Ma. Dia juga pintar. Setiap tahun dia selalu menjadi juara kelas.” kilahku
tetap pada pendirian awal.
“Mama tak mau tahu.
Kamu harus putus dan mulailah berkonsentrasi pada sekolahmu!” bentak mama
mengakhiri pembicaraan.
***
Keesokan harinya, aku
pun menemui Roni dan menyampaikan alasan bahwa hubungan kami tak dapat
diteruskan. Tersirat kekecewaan dari raut wajahnya. Tapi aku tak mau lagi
melanggar aturan mama.
Peristiwa pagi itu
cukup membuat pikiranku kosong. Entahlah. Kini aku hanya dapat melihatnya dari
kejauhan. Aku tak berani mendekatinya lagi, takut kalau-kalau perasaan itu
kembali muncul.
Tak seperti biasa,
mulai hari ini setiap sepulang sekolah akan ada guru les yang akan mengajariku
di rumah. Mama telah mengatur semuanya. Katanya, agar aku tidak melamunkan dia
saja dan dapat berkonsentrasi pada sekolahku. Maka dari itu mama memadatkan
jadwalku setelah pulang sekolah. Aku pun
menurutinya saja, toh ujian nasional
kian dekat hanya tinggal beberapa bulan lagi. Aku harus siap menghadapinya.
***
Hari yang ditunggu-tunggu
tiba juga. Pagi itu sebelum aku berangkat sekolah aku menyiapkan semua
keperluan sebelum ujian seperti pensil 2B, penghapus, nomor peserta dll.
Langkahku siap memulai ujian.
Ujian pun berlangsung selama
4 hari. Setelah hari penuh perjuangan itu selesai, para siswa hanya tinggal
menunggu pengumuman kelulusan. Banyak yang khawatir dan takut kalau-kalau
sampai tidak lulus. Mereka yang tidak lulus harus mengambil ujian Paket B.
Perasaan khawatir
semakin menjadi-jadi tatkala di mading sekolah sudah terpampang pengumuman
kelulusan pagi ini. Semua saling berdesak-desakan ingin mengetahui nasib ujian
yang dilalui. Ada yang histeris dan menyebut-nyebut nama-Nya, adapula yang
mengucap syukur lalu melakukan sujud syukur. Semua dengan caranya
sendiri-sendiri. Aku pun mulai masuk dalam barisan dan berdesak-desakkan. Ku
dongakkan kepala dan mulai mengurutnya dari atas. Ku lihat nama Roni Maharja
berada di urutan pertama. Tak heran, semua mengakui kemampuan dari Roni
termasuk aku. Ku lanjutkan pencarian.
“Alhamdulillah.. Aku
lulus di urutan kesembilan.” ucapku penuh syukur.
Pagi itu aku tak
melihat Roni. Ku dengar desas-desus bahwa dia sekarang sudah berada di luar
kota. Seakan sudah tahu nasibnya dia langsung menuju Surabaya tanpa mengucap
sepatah kata padaku sebagai tanda perpisahan.
***
“Hai, Bel. Kok melamun
aja nih.” senggol Tina mengagetkanku. Tina adalah teman sebangkuku di SMA Bani
Insani ini. Ya, aku akhirnya dapat diterima disekolah yang ku mimpi-mimpikan ini.
Betapa senangnya aku bisa lolos dan diterima di sekolah ini.
Teman-teman SMP-ku
sebenarnya banyak yang mendaftar di sekolah ini juga. Entah mengapa hanya
segelintir dari mereka yang diterima. Syukur namaku berada di dalamnya. Di
sudut kelas yang lain ada sepasang mata yang tanpa ku sadari sedang memperhatikanku.
“Eh, Bel, aku
dengar-dengar kamu ge jomblo ya? Mau gak aku kenalin ke temenku? Siapa tahu aja
cocok dan bisa jadian.” cerocos Tina padaku.
Sebenarnya aku masih
sedikit “aneh” mendengar kata “berpacaran”. Cerita di SMP dulu masih
meninggalkan bekas dihatiku. Sampai sekarang aku tak pernah mendengar berita
mengenai Roni lagi. Entah bagaimana kabar dia sekarang.
Semenjak peristiwa itu
aku meyakinkan dalam hati bahwa aku tak ingin lagi berpacaran. Aku ingin
menyelesaikan studiku terlebih dulu. Membahagiakan mama itu inginku saat ini.
Tak ada cerita yang
menrik selama aku bersekolah di Bina Insani ini. Semua berjalan begitu saja
sampai aku merasakan lagi perasaan ini. Perasaan yang sama saat aku di SMP
dulu. Perasaan khawatir karena aku harus bersiap-siap menghadapi ujian nasional
untuk kesekian kalinya. Yang berbeda, kali ini aku harus lulus untuk dapat
meneruskan ke jenjang kuliah. Yah, aku melewati 3 tahun ini tanpa ada sesuatu
yang menarik. Semuanya berjalan seakan hambar-hambar saja. Entah akan kemana
aku akan melangkahkan kaki. Belum ada satu universitas pun yang menjadi
incaranku. Lagi-lagi ada sepasang mata yang mengawasiku dari sudut tempatnya
berdiri. Dia hanya memandang, tanpa berani berbicara.
Seminggu sebelum UN
dilaksanakan secara serentak seluruh Indonesia, Doni mendekatiku dan duduk di kursi
kosong yang ada di sampingku. Seingatku, Doni adalah teman seperjuanganku di
SMP dulu. Selebihnya, aku tak ingat apapun tentang dia.
“Hai, Bella.” sapa Doni.
“Hai.” akupun membalasnya
dengan seutas senyum.
“Masih ingat denganku
kan? Kita pernah sekelas waktu SMP dulu.” ucap Doni yang seakan bisa membaca
pikiranku.
“Ada sesuatu yang ingin
kubicarakan denganmu.” Lanjutnya dengan wajah serius.
“Bicara apa? Apa kamu
mempertanyakan reuni yang akan diadakan teman-teman SMP? Jujur aku tak tahu
kapan pelaksanaannya.” jawabku sekenanya mengira dia akan mempertanyakan reuni
SMP yang akan dilaksanakan seminggu setelah pengumuman kelulusan SMA.
“Bukan. Bukan itu.”
“Lalu?” sahutku dengan
mimik bingung. Aku mulai tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini.
“Aku sering
memperhatikanmu sejak masih di SMP. Sering ku curi-curi waktu untuk
memandangimu di sudut kelas. Mungkin kau
tak sadari itu. Tapi hal itu sudah menjadi rutinitasku dari dulu. Rutinitas
yang tak pernah ada kata bosan. Jika kau tak masuk, maka hariku akan muram
seakan bumi yang mulai kehilangan sinarnya dari sang fajar. Telah lama aku memendam
rasa padamu. Telah lama pula aku menyimpan rapat-rapat perasaanku ini. Aku pun
juga tahu mengenai cerita hubunganmu dulu dengan Roni. Kini ku beranikan diri
untuk mengatakan yang sejujurnya. Bahwa selama ini kau adalah kesempurnaan
untukku.” Doni mengungkapkan perasaannya dengan tiba-tiba. Aku pun syok dan tidak bisa berkata-kata.
Kejadian ini sangat mengagetkanku. Siapa dia? Tiba-tiba datang membawa secercah
harapan dan perasaannya padaku? Dari dulu? Kemana aku yang tak peka akan
perasaannya padaku?
“Aku tak bisa
menjawabnya sekarang,” akhirnya akupun bersuara.
“Aku tak butuh jawabanmu.
Aku hanya ingin kau tahu, bahwa di sudut duniamu masih ada orang yang terus
memperhatikanmu tanpa kau sadari itu. Kau tak sendiri bella. Ku jadikan duniamu
sebagai duniaku. Ku kagumimu karena sifat-sifatmu. Aku hanya tak ingin perasaan
ini kunikmati sendiri. Ini sudah cukup bagiku. Terima kasih, Bella”
***
Aku tetap pada pendirianku.
Tak ingin lagi mengulang kebodohan seperti dulu. Aku harus fokus terhadap
sekolahku dan lulus dengan hasil yang memuaskan.
Karena tak ingin
terganggu dengan hal itu, akhirnya aku membiarkan saja ucapan Doni meski
terkadang masih juga tak terelakan. Ku habiskan waktuku dengan belajar dan belajar
mempersiapkan UN.
Pagi ini seakan
mengulang kejadian 3 tahun lalu, aku menghadapi soal-soal penentu kelulusanku
ini. Ku kerjakan dengan sepenuh hati. Tak ada pikiran lain yang berkecambuk
selain lulus dengan hasil yang membanggakan.
Pengumuman akan
dilakukan sekitar sebulan ke depan. Sembari menunggu hasil pengumuman aku pun
akhirnya menimbang-nimbang apa yang dibicarakan Doni padaku telah lama itu.
Lama sekali aku berfikir. Sebenarnya mama telah memperbolehkanku pacaran
semenjak aku SMA. Aku sudah dianggapnya dewasa dan mampu memilah mana yang baik
dan mana yang buruk. Akan tetapi aku masih tak mau gegabah mengambil keputusan.
***
Pengumuman hasil UN
akan diumumkan besok pagi jam 10 di sekolah. Kepala Sekolah mengundang semua
wali murid untuk menghadiri acara pengumuman tersebut. Hal ini dilakukan untuk
mengantisipasi kalau-kalau ada murid yang tidak lulus dan bersikap anarkis.
Mama mengiyakan untuk datang.
Sesampainya disekolah,
Bapak Joko Mulyono selaku Kepala Sekolah mengumumkan hasil UN yang ternyata ke
semua siswanya dinyatakan lulus. Bahkan ada salah seorang siswa yang nilainya
tertinggi nasional. Entah sapa ku tak mengenalnya secara akrab.
Acara pengumuman
dinyatakan usai setelah serangkaian acara terlewati dan ditutup dengan ucapan
selamat dari Kepala Sekolah. Kebahagiaan terpancar dari wajah mama dan aku. Rencananya,
mama dan aku akan langsung pulang. Sesampainya di dekat gerbang terdengar ada orang
yang memanggil nama mama.
“Bu Nanik. Tunggu..!”
sapa perempuan separu baya itu memanggil mamaku. Tampak Doni sedang bersamanya.
“Hai, Bu Setyo. Apa
kabar?” mama menyapa balik dengan sangat ramah seakan dia mengenal perempuan
ini sudah sangat lama.
“Oalah…ini to yang namanya Bella. Sudah gedhe ya sekarang. Cantik lagi.” puji Bu
Setyo setelah ku menyalaminya.
“Bella, kamu ingat
dengan Bu Setyo? Dulu Bu setyo ini teman SMA mama dulu. Sewaktu rumah kita di
Gang Buluk Bu Setyo dan anaknya ini sering main kerumah kita. Apa kamu ingat?”
Aku hanya menggelengkan
kepala dan tersenyum.
“Bagaimana Bu Nanik,
apa jadi rencana kita dulu? Untuk menjodohkan anak kita. Doni, kamu sudah
mengenal Bella ‘kan? Kan kalian satu sekolah.”
“Apa?? Dijodohkan?”
Aku dan Doni sama-sama
kaget dan saling berpandangan. Dari reaksi dan raut wajahnya nampak sekali
bahwa dia juga tak mengetahui rencana perjodohan ini.
***
Banyak pertimbangan
yang memenuhi pikiranku. Bagaimana bisa semua ini terjadi dengan begitu cepat.
Baru sekitar 2 bulan yang lalu Doni datang dengan tiba-tiba menyatakan
perasaannya padaku. Lalu dengan sempurna disusul bahwa aku akan dijodohkan. Dan
aku dijodohkan dengan orang yang selama ini mengagumiku secara diam-diam.
Ah..entahlah. semua ini seakan datang bertubi-tubi.
Atas rayuan mama dan
cinta tulus yang dipendam Doni selama ini padaku membuat hatiku luluh. Aku pun
menerima sang pemuja rahasiaku sebagai tunangan. Meski dengan perjanjian tak
boleh memiliki “hubungan lebih” sebelum sama-sama menyelesaikan studi selanjutnya
yaitu kuliah. Ternyata aku tak bersama dengan cinta monyetku tetapi dengan
pengagum rahasiaku. Cinta monyet hanyalah sebuah awal dari cerita cinta
selanjutnya. Dan, semua akan indah pada waktunya. Seindah cerita cintaku
bersama pemilik sepasang mata di sudut kelas.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar