Rabu, 08 Januari 2014

Sepasang Mata Di Sudut Kelas


Cinta? Kalau bilang cinta pasti gak jauh-jauh dari yang namanya cinta negara, cinta agama, cinta keluarga, karir, hobi ataupun monyet? Apa? Coba ulangi. Aku bilang coba ulangi sekali lagi. Haha.. Ya, cinta monyet. Cinta monyet disini hanyalah sebuah istilah cinta anak “ingusan”. Anggap saja cinta yang dialami oleh anak yang masih remaja. Biasanya cinta monyet itu berkisar anak remaja yang baru merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Ceile..Jadi bisa dibilang pacar pertamanya.


Ternyata aku pun tak luput dari yang namanya cinta monyet. Awal dari kisah cinta monyetku ini saat aku mulai naik ke kelas 3 SMP. Awalnya aku tak pernah memikirkan lebih mengenai “cinta”. Tapi apa daya, dia datang dengan tiba-tiba sembari menyodorkan setangkai bunga mawar padaku. Ya ampun..seperti di sinetron saja kisah “penembakanku” ini.
Saat itu jam pelajaran telah usai dan memasuki jam istirahat. Tanpa curiga sedikit pun dengan semakin banyaknya teman-teman yang memasuki kelasku, aku masih tetap cuek menyalin catatan dari buku teman sebangkuku, Titin.
“Tembak..tembak..tembaakk…!!”
Teriakan itu semakin keras saja ku dengar. Tak khayal perhatianku dari buku di hadapanku pun teralihkan. Rasa ingin tahu pun semakin menjadi. Saat langkahku semakin mendekati ke arah kerumunan. Tiba-tiba.. Roni muncul dihadapanku dan seakan menyembah padaku dia pun bersimpuh dengan sekuntum bunga mawar di genggamannya.
“Bel, maukah kamu menjadi pacarku?”
Sontak duniaku seakan runtuh dan waktu seakan berhenti sejenak. Ternyata ini acara “penembakan” yang dipersiapkan oleh teman-temanku. Aku pun bingung. Apa yang harus kulakukan? Selama 15 tahun aku hidup di dunia ini, baru sekali ini aku di “tembak” cowok.
“Jika kamu menerimaku, maka ambil bunga ini dari genggamanku.” ucap Roni sejenak menyadarkanku bahwa tawarannya belum juga ku jawab. Semakin aku bingung saja. Apa yang harus ku lakukan ini?
“Ambil…ambil….ambil..” suara teman-teman lain seakan mendorongku untuk menerima cinta yang ditawarkan oleh Roni. Setelah sekitar 15 menit karena desakkan teman-teman yang lain, aku pun mengambil bunga mawar itu dari genggaman tangannya.
“Makasih Bel. Berarti mulai hari ini kita resmi pacaran ya? Sekarang tanggal.. 10 November 2009. Hari jadian kita, tepat di hari Pahlawan. Akan ku ingat selalu.” ucap Roni dengan wajah yang berbunga-bunga. Aku pun hanya membalasnya dengan senyum. Entah apa yang sedang ku pikirkan sampai menerima tawaran cinta Roni padaku.
“Haduh. Apa yang sebenarnya sudah aku lakukan? Bagaimana kalau nanti sampai ketahuan mama?” bisikku pada diri sendiri.
Sebenarnya mama melarangku untuk berpacaran dulu. Mengingat aku masih sekolah, apalagi sekarang aku menginjak kelas 3 SMP. Tak lama lagi aku harus mengikuti ujian nasional untuk menentukan lulus tidaknya aku dari SMP Tiga Marga ini. Entahlah. Sepertinya aku tak dapat berfikir jernih untuk saat ini.
Aku mengenal Roni dari kelas satu. Bagaimana tidak selama bersekolah di SMP Tiga Marga ini, ini adalah tahun ketigaku sekelas dengannya. Dia anak yang humoris dan juga pintar. Banyak yang menunggu giliran untuk menjadi pacarnya. Tapi dia sekarang memilihku. Bisa dibayangkan kan, bagaimaa sinisnya cewek-cewek di sekolahku karena hal ini. Tapi bukan itu masalahnya. Yang menjadi masalah utama saat ini, bagaimana aku harus tetap fokus pada sekolah (dan juga Roni) tapi mama tetap gak boleh tahu kalau aku pacaran. Ya, setidaknya sampai aku lulus SMP.
“Mungkin saat aku mulai masuk SMA nanti, mama akan berubah pikiran dan memperbolehkanku berpacaran. Kan aku sudah mulai beranjak dewasa nanti.” aku membayangkannya sambil senyum-senyum.
“Hei, melamun saja. Pulang sekolah nanti aku antar kamu pulang ya?”
Roni tiba-tiba datang dan membuyarkan lamunanku. Dia menawari untuk pulang bersama.
“Kamu ingin mengantarku pulang?? Ingin mati ya?” jengkelku dalam hati.
Roni memang tidak mengetahui larangan yang diberikan oleh mama padaku. Aku belum menceritakan hal itu padanya. Atau mungkin lebih baik aku tak akan menceritakan hal itu padanya. Sama-sama tak ada gunanya. Dengan halus aku menolak tawaran dari Roni untuk mengantarkanku pulang. Dengan dalih akan dijemput papa, akhirnya dia pun mau mengerti.
“Hari ini papa akan menjemputku.” ucapku dengan halus.
“Benarkah? Tumben sekali. Ya sudah, mungkin lain waktu kita bisa pulang bersama.” ucapnya sembari pergi menuju tempat duduknya karena jam istirahat telah usai dan sebentar lagi waktunya Bu Gini memberikan pelajaran Bahasa Indonesia.
Selama pelajaran berlangsung perasanku campur aduk. Ada rasa senang dan berbunga-bunga karena bisa berpacaran dengan Roni. Dia cinta monyetku, begitu istilahku untuk pacar pertamaku. Akhirnya aku menemukan cinta monyetku sendiri. Untuk dijadikan cinta monyet bukankah dia cukup perfect? Pacar pertama yang pintar dan selalu menjadi juara kelas. Entah apa yang ada di pikirannya sampai dia mau memilihku. Siswi yang tidak memiliki prestasi apapun seperti dirinya. Ah.. entahlah, aku tak mau tahu. Disisi lain, aku memikirkan mama. Sampai kapan aku akan menyembunyikan hubunganku dengan Roni? Backstreet?? Apa enaknya?
Selama pelajaran Bu Gini berlangsung, kedua hal itulah yang ada di pikiranku. Kacau. Aku tak dapat berkonsentrasi terhadap mata pelajaran yang diberikan. Akan tetapi di sudut kelas yang lain, tampak sepasang mata yang sedang mengawasiku dari tempatnya duduk.
***
“Bel, bagaimana persiapanmu untuk ujian nasional besok? Sudah siap?” tanya mama di suatu malam.
“Beres, Ma. Harus lebih mendalami pelajaran yang disampaikan oleh Bu Guru di sekolah saja.” jawabku enteng.
“Kamu harus tetap fokus sekolah agar bisa melanjutkan SMA di Bina Insani” ucap mama menasehatiku.
Aku pun menganggukkan kepala saja. Dari cara mama bicara, seakan tahu mengenai kondisi belajarku yang sering terganggu akhir-akhir ini. Mama berusaha mengingatkanku bahwa aku nantinya harus bisa masuk di SMA Bina Insani. SMA favorit yang menjadi incaranku setelah aku dinyatakan lulus dari SMP Tiga Marga ini.
“Bagaimana caranya agar aku tetap fokus pada sekolahku, tapi dengan tetap menjalin hubungan dengan Roni?” Padahal selama ini, setiap malam aku selalu saja memikirkannya dan sering ber-sms-an ria hingga larut malam. Seakan tak ada hari esok untuk berjumpa. Efeknya bisa ditebak, aku sering tidak berkonsentrasi dengan apa yang diberikan oleh guruku karena rasa kantuk yang tidak tertahankan.
***
Semakin lama hasil ulangan harianku semakin merosot. Karena dirasa semakin mengkhawatirkan akhirnya mama menanyaiku di suatu waktu.
“Bella, mama mendapat laporan dari wali kelasmu kalau nilai ulanganmu turun. Apa benar itu, Bella?”
“Iya, Ma.” jawabku singkat.
“Ada apa sayang? Apa ada masalah yang mengganjal proses belajarmu?”
Mau tak mau akhirnya aku pun mulai menceritakan yang terjadi kepada mama. Ku rasa kini mama harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun tak ingin jika nantinya aku tak dapat lulus dan masuk ke SMA favoritku. Perlahan mama menghela nafas dalam-dalam seakan mengatur irama nafasnya agar kembali normal. Setelah mendengar penjelasanku. Mama pun akhirnya angkat bicara.
“Mengapa mama tak memperbolehkanmu pacaran selama ini karena seperti inilah yang mama takutkan. Kamu tak dapat berkonsentrasi penuh dengan pelajaranmu. Mama tak ingin nilaimu turun gara-gara yang ada di pikiranmu hanya pacaran dan pacaran saja.” mama menjelaskan dengan wajah marah.
“Tapi Roni orangnya baik, Ma. Dia juga pintar. Setiap tahun dia selalu menjadi juara kelas.” kilahku tetap pada pendirian awal.
“Mama tak mau tahu. Kamu harus putus dan mulailah berkonsentrasi pada sekolahmu!” bentak mama mengakhiri pembicaraan.
***
Keesokan harinya, aku pun menemui Roni dan menyampaikan alasan bahwa hubungan kami tak dapat diteruskan. Tersirat kekecewaan dari raut wajahnya. Tapi aku tak mau lagi melanggar aturan mama.
Peristiwa pagi itu cukup membuat pikiranku kosong. Entahlah. Kini aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan. Aku tak berani mendekatinya lagi, takut kalau-kalau perasaan itu kembali muncul.
Tak seperti biasa, mulai hari ini setiap sepulang sekolah akan ada guru les yang akan mengajariku di rumah. Mama telah mengatur semuanya. Katanya, agar aku tidak melamunkan dia saja dan dapat berkonsentrasi pada sekolahku. Maka dari itu mama memadatkan jadwalku setelah pulang sekolah.  Aku pun menurutinya saja, toh ujian nasional kian dekat hanya tinggal beberapa bulan lagi. Aku harus siap menghadapinya.
***
Hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Pagi itu sebelum aku berangkat sekolah aku menyiapkan semua keperluan sebelum ujian seperti pensil 2B, penghapus, nomor peserta dll. Langkahku siap memulai ujian.
Ujian pun berlangsung selama 4 hari. Setelah hari penuh perjuangan itu selesai, para siswa hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Banyak yang khawatir dan takut kalau-kalau sampai tidak lulus. Mereka yang tidak lulus harus mengambil ujian Paket B.
Perasaan khawatir semakin menjadi-jadi tatkala di mading sekolah sudah terpampang pengumuman kelulusan pagi ini. Semua saling berdesak-desakan ingin mengetahui nasib ujian yang dilalui. Ada yang histeris dan menyebut-nyebut nama-Nya, adapula yang mengucap syukur lalu melakukan sujud syukur. Semua dengan caranya sendiri-sendiri. Aku pun mulai masuk dalam barisan dan berdesak-desakkan. Ku dongakkan kepala dan mulai mengurutnya dari atas. Ku lihat nama Roni Maharja berada di urutan pertama. Tak heran, semua mengakui kemampuan dari Roni termasuk aku. Ku lanjutkan pencarian.
“Alhamdulillah.. Aku lulus di urutan kesembilan.” ucapku penuh syukur.
Pagi itu aku tak melihat Roni. Ku dengar desas-desus bahwa dia sekarang sudah berada di luar kota. Seakan sudah tahu nasibnya dia langsung menuju Surabaya tanpa mengucap sepatah kata padaku sebagai tanda perpisahan.
***
“Hai, Bel. Kok melamun aja nih.” senggol Tina mengagetkanku. Tina adalah teman sebangkuku di SMA Bani Insani ini. Ya, aku akhirnya dapat diterima disekolah yang ku mimpi-mimpikan ini. Betapa senangnya aku bisa lolos dan diterima di sekolah ini.
Teman-teman SMP-ku sebenarnya banyak yang mendaftar di sekolah ini juga. Entah mengapa hanya segelintir dari mereka yang diterima. Syukur namaku berada di dalamnya. Di sudut kelas yang lain ada sepasang mata yang tanpa ku sadari sedang memperhatikanku.
“Eh, Bel, aku dengar-dengar kamu ge jomblo ya? Mau gak aku kenalin ke temenku? Siapa tahu aja cocok dan bisa jadian.” cerocos Tina padaku.
Sebenarnya aku masih sedikit “aneh” mendengar kata “berpacaran”. Cerita di SMP dulu masih meninggalkan bekas dihatiku. Sampai sekarang aku tak pernah mendengar berita mengenai Roni lagi. Entah bagaimana kabar dia sekarang.
Semenjak peristiwa itu aku meyakinkan dalam hati bahwa aku tak ingin lagi berpacaran. Aku ingin menyelesaikan studiku terlebih dulu. Membahagiakan mama itu inginku saat ini.
Tak ada cerita yang menrik selama aku bersekolah di Bina Insani ini. Semua berjalan begitu saja sampai aku merasakan lagi perasaan ini. Perasaan yang sama saat aku di SMP dulu. Perasaan khawatir karena aku harus bersiap-siap menghadapi ujian nasional untuk kesekian kalinya. Yang berbeda, kali ini aku harus lulus untuk dapat meneruskan ke jenjang kuliah. Yah, aku melewati 3 tahun ini tanpa ada sesuatu yang menarik. Semuanya berjalan seakan hambar-hambar saja. Entah akan kemana aku akan melangkahkan kaki. Belum ada satu universitas pun yang menjadi incaranku. Lagi-lagi ada sepasang mata yang mengawasiku dari sudut tempatnya berdiri. Dia hanya memandang, tanpa berani berbicara.

Seminggu sebelum UN dilaksanakan secara serentak seluruh Indonesia, Doni mendekatiku dan duduk di kursi kosong yang ada di sampingku. Seingatku, Doni adalah teman seperjuanganku di SMP dulu. Selebihnya, aku tak ingat apapun tentang dia.
“Hai, Bella.” sapa Doni.
“Hai.” akupun membalasnya dengan seutas senyum.
“Masih ingat denganku kan? Kita pernah sekelas waktu SMP dulu.” ucap Doni yang seakan bisa membaca pikiranku.
“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.” Lanjutnya dengan wajah serius.
“Bicara apa? Apa kamu mempertanyakan reuni yang akan diadakan teman-teman SMP? Jujur aku tak tahu kapan pelaksanaannya.” jawabku sekenanya mengira dia akan mempertanyakan reuni SMP yang akan dilaksanakan seminggu setelah pengumuman kelulusan SMA.
“Bukan. Bukan itu.”
“Lalu?” sahutku dengan mimik bingung. Aku mulai tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini.
“Aku sering memperhatikanmu sejak masih di SMP. Sering ku curi-curi waktu untuk memandangimu di sudut  kelas. Mungkin kau tak sadari itu. Tapi hal itu sudah menjadi rutinitasku dari dulu. Rutinitas yang tak pernah ada kata bosan. Jika kau tak masuk, maka hariku akan muram seakan bumi yang mulai kehilangan sinarnya dari sang fajar. Telah lama aku memendam rasa padamu. Telah lama pula aku menyimpan rapat-rapat perasaanku ini. Aku pun juga tahu mengenai cerita hubunganmu dulu dengan Roni. Kini ku beranikan diri untuk mengatakan yang sejujurnya. Bahwa selama ini kau adalah kesempurnaan untukku.” Doni mengungkapkan perasaannya dengan tiba-tiba. Aku pun syok dan tidak bisa berkata-kata. Kejadian ini sangat mengagetkanku. Siapa dia? Tiba-tiba datang membawa secercah harapan dan perasaannya padaku? Dari dulu? Kemana aku yang tak peka akan perasaannya padaku?
“Aku tak bisa menjawabnya sekarang,” akhirnya akupun bersuara.
“Aku tak butuh jawabanmu. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa di sudut duniamu masih ada orang yang terus memperhatikanmu tanpa kau sadari itu. Kau tak sendiri bella. Ku jadikan duniamu sebagai duniaku. Ku kagumimu karena sifat-sifatmu. Aku hanya tak ingin perasaan ini kunikmati sendiri. Ini sudah cukup bagiku. Terima kasih, Bella”
***
Aku tetap pada pendirianku. Tak ingin lagi mengulang kebodohan seperti dulu. Aku harus fokus terhadap sekolahku dan lulus dengan hasil yang memuaskan.
Karena tak ingin terganggu dengan hal itu, akhirnya aku membiarkan saja ucapan Doni meski terkadang masih juga tak terelakan. Ku habiskan waktuku dengan belajar dan belajar mempersiapkan UN.
Pagi ini seakan mengulang kejadian 3 tahun lalu, aku menghadapi soal-soal penentu kelulusanku ini. Ku kerjakan dengan sepenuh hati. Tak ada pikiran lain yang berkecambuk selain lulus dengan hasil yang membanggakan.
Pengumuman akan dilakukan sekitar sebulan ke depan. Sembari menunggu hasil pengumuman aku pun akhirnya menimbang-nimbang apa yang dibicarakan Doni padaku telah lama itu. Lama sekali aku berfikir. Sebenarnya mama telah memperbolehkanku pacaran semenjak aku SMA. Aku sudah dianggapnya dewasa dan mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Akan tetapi aku masih tak mau gegabah mengambil keputusan.
***
Pengumuman hasil UN akan diumumkan besok pagi jam 10 di sekolah. Kepala Sekolah mengundang semua wali murid untuk menghadiri acara pengumuman tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kalau-kalau ada murid yang tidak lulus dan bersikap anarkis. Mama mengiyakan untuk datang.
Sesampainya disekolah, Bapak Joko Mulyono selaku Kepala Sekolah mengumumkan hasil UN yang ternyata ke semua siswanya dinyatakan lulus. Bahkan ada salah seorang siswa yang nilainya tertinggi nasional. Entah sapa ku tak mengenalnya secara akrab.
Acara pengumuman dinyatakan usai setelah serangkaian acara terlewati dan ditutup dengan ucapan selamat dari Kepala Sekolah. Kebahagiaan terpancar dari wajah mama dan aku. Rencananya, mama dan aku akan langsung pulang. Sesampainya di dekat gerbang terdengar ada orang yang memanggil nama mama.
“Bu Nanik. Tunggu..!” sapa perempuan separu baya itu memanggil mamaku. Tampak Doni sedang bersamanya.
“Hai, Bu Setyo. Apa kabar?” mama menyapa balik dengan sangat ramah seakan dia mengenal perempuan ini sudah sangat lama.
“Oalah…ini to yang namanya Bella. Sudah gedhe ya sekarang. Cantik lagi.” puji Bu Setyo setelah ku menyalaminya.
“Bella, kamu ingat dengan Bu Setyo? Dulu Bu setyo ini teman SMA mama dulu. Sewaktu rumah kita di Gang Buluk Bu Setyo dan anaknya ini sering main kerumah kita. Apa kamu ingat?”
Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.
“Bagaimana Bu Nanik, apa jadi rencana kita dulu? Untuk menjodohkan anak kita. Doni, kamu sudah mengenal Bella ‘kan? Kan kalian satu sekolah.”
“Apa?? Dijodohkan?”
Aku dan Doni sama-sama kaget dan saling berpandangan. Dari reaksi dan raut wajahnya nampak sekali bahwa dia juga tak mengetahui rencana perjodohan ini.
***
Banyak pertimbangan yang memenuhi pikiranku. Bagaimana bisa semua ini terjadi dengan begitu cepat. Baru sekitar 2 bulan yang lalu Doni datang dengan tiba-tiba menyatakan perasaannya padaku. Lalu dengan sempurna disusul bahwa aku akan dijodohkan. Dan aku dijodohkan dengan orang yang selama ini mengagumiku secara diam-diam. Ah..entahlah. semua ini seakan datang bertubi-tubi.

Atas rayuan mama dan cinta tulus yang dipendam Doni selama ini padaku membuat hatiku luluh. Aku pun menerima sang pemuja rahasiaku sebagai tunangan. Meski dengan perjanjian tak boleh memiliki “hubungan lebih” sebelum sama-sama menyelesaikan studi selanjutnya yaitu kuliah. Ternyata aku tak bersama dengan cinta monyetku tetapi dengan pengagum rahasiaku. Cinta monyet hanyalah sebuah awal dari cerita cinta selanjutnya. Dan, semua akan indah pada waktunya. Seindah cerita cintaku bersama pemilik sepasang mata di sudut kelas.

Tidak ada komentar: