Jumat, 21 Maret 2014

Hebat≠Salut

Aku teringat akan sesuatu malam ini. “Banyak orang yang lebih tua ingin dianggap hebat oleh orang lain karena bla bla bla. Akan tetapi saat ini gak sedikit kamu menemukan anak muda yang ingin dianggap hebat oleh orang lain.” ucapan ini pernah diutarakan oleh salah satu temanku pada saat ngopi bersama. “Hebat itu ingin dipuji dan dianggap ‘bisa’ oleh orang lain. Berbeda dengan salut.” tambahnya.

Aku mulai merenung, “Benar adanya.” ucapku dalam batin. Banyak dari kita tanpa kita sadari lebih merasa ‘gengsi’ untuk mengatakan “Ajari saya” karena takut dianggap tidak berkemampuan dan kalah wibawa. Padahal, ini masih menurutku ya, alangkah jauh lebih baiknya saat kita tidak bisa, kita memilih untuk diajari sampai bisa kepada orang lain walaupun orang yang mengajari umurnya lebih muda dari kita. Orang mungkin tidak akan menganggap kita hebat akan tetapi lebih pada salut melihat usaha yang telah kita lakukan.

Seorang pahlawan tidak pernah berfikir menjadi pahlawan. Dia hanya ingin melakukan apa yang menurutnya benar untuk dilakukan. Tidak pernah berfikir bahwa nantinya kau akan mengingatku karena perjuangan yang telah aku lakukan saat ini untukmu. Tidak pernah.
Merasa hebat karena dahulu pada jamannya, dia dapat melakukan sesuatu yang saat ini belum bisa dilakukan oleh ‘adik-adiknya’. Dia tidak sadar, jaman telah berubah dan tantangan setiap jaman berbeda. “Dulu, jamanku bisa nerbitin buku (misalnya), masak sekarang kalian gak bisa?” Dibilang motivasi mungkin iya. Tapi dia tidak sadar bahwa dengan berbicara seperti itu ada ego yang keluar dimana dia ingin dianggap hebat karena usahanya tersebut. Dengan begitu, ada pamrih yang ingin ditonjolkan.
Kurasa, berusaha tanpa pamrih jauh lebih baik. Tidak ada gunanya kita dianggap hebat. Kehebatan itu akan di-cabut saat kamu melakukan kesalahan karena tidak ada tolerir di dalamnya. Sebagai contoh, “Dia uda gak hebat lagi sekarang, wong dia korupsi.” Berbeda dengan salut, “Salut aku ama usaha dia dulu, sayang dia sekarang ada dipenjara.” Berbeda toh, dalam salut, masih ada ‘sayangnya’ atau pemakluman yang diberikan oleh orang lain kepada kesalahan yang kita lakukan.


Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan karena kamu memang ingin melakukannya. Tak perlu ingin dilihat dan membandingkannya dengan orang lain. Tak perlu gila hormat ataupun ingin dihargai. Karena nantinya orang pasti akan menghargaimu dengan sendirinya jika kamu memang pantas untuk dihargai.

Tidak ada komentar: