Lama tak bersua kawan. Rindu rasanya dapat
bertemu lagi. Aku kembali membawa cerita-cerita yang pernah hadir dalam
kehidupanku. Kali ini aku akan sedikit bercerita mengenai 8 jam-ku bersama Cak
Lesus kemarin.
Selepas pukul 11.00 WIB, aku memacu Nancy-ku
(Sepeda motor F1ZR kesayanganku) ke rumah Cak Lesus. Bukan tanpa alasan aku
pergi kerumahnya. Malam sebelumnya dia memintaku untuk mengajaknya jalan-jalan.
Kemana saja. Mungkin jenuh dalam kehidupannya lagi kambuh.
Saat aku datang, Cak Lesus ada di depan rumahnya
bersama kedua tamunya. Tak selang berapa lama, tamu tersebut pun pamit pulang.
Tinggallah aku dan dia. Untuk mencairkan suasana, Cak Lesus mengeluarkan
beberapa buku untukku baca. “Islam Yang Memihak”, aku pernah melihat buku ini
sewaktu bazaar buku Ecpose 2 tahun yang lalu. Akan tetapi aku belum tertarik
membacanya sampai saat ini. Entah mengapa.
“Ini aku punya buku biar kamu cepet dapet
jodoh.” ucapnya sambil menyodorkan buku lainnya padaku. Buku agama dengan
beberapa ayat di dalamnya. “Nglamak. Dikiranya aku gak laku-laku, apa?” batinku dengan sedikit dongkol. Ku
balik-balikkan lembar per lembarnya tanpa ada niat untuk membacanya.
Lalu, dia mengeluarkan buku selanjutnya. Buku
mengenai Siti Jenar. Sambil bercerita mengenai siapa Siti Jenar sebenarnya,
perselisihannya dengan salah satu walisongo, Ki Panggung, sampai sejarah dan
pemikirannya. Aku hanya bisa mendengarkan, karena hal ini masih sangat baru
bagiku. Kulihat tangannya melambai-lambai ke atas dengan sekali-kali dahinya mengkerut
ke atas menunjukkan keseriusannya dalam bercerita.
Satu setengah jam aku berada di rumahnya. Tak
hanya Siti Jenar yang menjadi obrolan di antara kami. Ada juga obrolan mengenai
jodoh dan alasan mengenai mengapa seseorang memilih untuk menjalin hubungan
dengan orang lain.
Matahari sudah tambah terik dan hawa panas mulai
menyeruak ke dalam ruangan. Karena mulai jenuh. Kami memutuskan untuk
berangkat. Awalnya aku mengira kami akan berangkat ke taman hiburan Galaxy
sesuai dengan janji kami semalam. Akan tetapi siang itu rencana berubah.
Aku menawarkan untuk menjadi ‘Pak Ojeknya’ hari
ini. Dia menolak. Tanpa memiliki tujuan kami pun berangkat tanpa arah. Nancy
pun berhenti di depan Kafe 1991 tempat biasanya dia ‘ngopi’ bersama
teman-temannya. Apes..kafe sedang tutup. Nancy pun mulai membawa kami melewati
jalan Jawa, Semanggi hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengenalkan aku pada
Cheng-cheng teman karibnya yang berada di daerah Gebang. Sedikit berputar-putar
melewati daerah Kreongan hingga akhirnya menuju daerah Pemandian Kebon Agung.
Kami melewati gang kecil. Mungkin gang ini hanya
cukup untuk di lalui 2 sepeda motor. Tak jauh dari mulut gang, hanya berjarak
250 meter. Rumah bercat biru dengan beberapa sangkar burung yang terletak
disetiap ujung-ujung rumah inilah yang menjadi tujuan kami.
Lama kami terdiam di depan rumah. Karena tak ada
‘pergerakan’, kami mengira rumah sedang dalam keadaan kosong. Lalu terlihat
lambaian tangan dari dalam rumah. “Tuh,Cheng-cheng ada di rumah. Ngopi gratis
neh.” celetuknya sambil cengar-cengir.
Setelah dipersilakan masuk dan “Say Hello” Mas Cheng-cheng
pun menuju dapur dan membuatkan kami minum. Segelas kopi dan teh sudah siap
menyambut tenggorokan kami yang kering. “Sus, sopo arek iki? Pacarmu ta?” Mas Cheng-cheng
bertanya dengan begitu entengnya ke Cak lesus. Mendengar hal itu aku langsung
menyodorkan tangan dan memperkenalkan diri. Tak rela diriku dianggap sebagai
pacar Cak Lesus. Bukan karena apa, tapi karena umur Cak Lesus 6 tahun lebih tua
dariku sehingga aku lebih nyaman menganggapnya sebagai kakak daripada sebagai
pasangan.
Obrolan demi obrolan disambung layaknya benang
yang tak putus. Entah karena suasana siang itu begitu panas ataukah karena aku
belum menikmati makan siangku. Aku pun diam. Aku lelah. Dan aku lapar. Hanya
saja malu untuk mengungkapkan. “Panganan ae ki pikirane.” perkataan Cak Lesus
tempo hari itu masih melekat di ingatanku.
Hanya untuk mengalihkan rasa lapar, ku habiskan
waktu bermain game Zuma yang ada di hape-ku. Kulihat Cak Lesus sedang asik
bercengkrama dengan Mas Cheng-cheng, entah apa yang menjadi obrolannya, aku tak
dapat mendengar karena suara mereka yang sangat pelan seakan-akan berbisik.
Berbisik tanda tak boleh menguping. Ya sudahlah, aku asik dengan permainanku.
Tak lama, Cak Lesus menyodorkan hape yang berisi tulisan-tulisannya di
salah satu media sosial. Agar tak merasa bosan, dia memintaku untuk
mengomentari tulisannya tersebut. Tulisan pertama berjudul “Ideologi Petani dan
Pancasila yang Masih Relevan”. Dalam tulisan ini dia menceritakan mengenai Pak
Mar, bapak dari temannya yang sering memberinya nasehat. Pak Mar, dalam
ceritanya, adalah seorang petani yang memiliki anak sarjana dan menyuruhnya
untuk tetap menjadi petani. Beliau membandingkan petani jaman dahulu dan sekarang
yang sudah mengalami banyak perubahan.
“Sebenarnya isi ceritanya menarik, mungkin akan
menjadi lebih baik saat lead-nya
diubah dan tak perlu kesimpulan dari penulis. Masih banyak ejaan yang perlu
dibenahi. Tapi secara keseluruhan lumayan.” komentarku mengenai tulisan
tersebut. Diskusi kecil pun terbentuk. Kami berbicara mengenai lead, diksi, masalah titik koma, hingga
alur.
Setelah itu dia membandingkan dengan tulisan
keduanya yang berjudul “Bermain Bola”. Sembari menungguku membaca tulisannya,
dia memulai kembali obrolannya dengan Mas Cheng-cheng. Sekali-kali ku dengarkan
apa yang menjadi obrolan antara keduanya. Mengenai usaha bakpao yang akan
dirintis oleh Cak Lesus. Dan aku masih saja berkutat dengan tulisan keduanya.
Aku sampai pada 3 paragraf terakhir yang membuatku
tak dapat menahan tawa. Di dalam tulisannya tersebut, Cak Lesus bercerita bahwa
dia pernah tertidur di kamar mandi saat buang air besar hingga pagi hari. Aku
tertawa membaca cerita konyolnya sewaktu kecil itu.
Baterai hape
milik Mas Cheng-cheng sudah me-‘merah’. Ku serahkan hape tersebut kepada pemiliknya. Obrolan mengenai tulisannya yang
kedua pun dimulai. Tak selang beberapa lama, kami pun sadar bahwa hari masih
memiliki waktu. Mas Cheng-cheng pun akan menjeput istrinya. Kami bersiap-siap
pulang. Sebelum pulang, Cak Lesus meminta batang sayur Kelor dan Katu untuk
ditanamnya di rumah. Selesai membungkusnya, Nancy pun di-starter. Dan..waktunya pulaang.. J
Nancy keluar dari gang dan melewati pasar Gebang.
Karena dirasa masih sore, Cak Lesus pun masih enggan untuk pulang. Awalnya kami
akan menuju ke Alun-alun sekedar untuk menikmati suasana sore di pusat kota
Jember. Akan tetapi langit tak bersahabat, rintik hujan mulai turun. Cak Lesus
mulai memacu Nancy mencari tempat berteduh sebelum hujan datang. Melewati jalan
A.Yani, RRI lalu berbelok melewati Gunung Batu hingga akhirnya kami terdampar
di Kafe 1991 yang ternyata sudah buka. “Mending disini aja ya? Bisa ngopi
gratis. Utang juga boleh,hehe.” ujarnya sambil tertawa. Maklumlah dompet kami
berdua lagi tipis-tipisnya. Setelah memasuki ruangan kami pun duduk di dekat
meja kasir. Ku lihat jam menunjukkan pukul 17.02 WIB. Tak lama hujan mulai
mengguyur. Untung kami sudah menemukan tempat berteduh sehingga tidak sampai
basah kuyup.
Tak lama air dingin pesananku datang. Setelah itu,
kopi pesanan Cak Lesus pun datang. Tanpa basa-basi Cak Lesus pun mengeluarkan
sebuah buku dan pulpen. Ku buka dan ku baca apa isi buku tersebut. Hanya coret-coret mengenai organisasinya
dan..gambar. Kulihat banyak coretan-coretan wajah yang dia gambar sebagai
bentuk hobinya terhadap seni lukis. Lalu, dia mengajariku sedikit teknik
menggambar secara proporsional. Mulai dari menggambar mata, hidung, mulut
hingga dagu seseorang. “Lekukan jajar genjang, biasanya digunakan untuk menggambar
mata perempuan.” Berkali-kali aku mencoba untuk menggambarkan sepasang mata,
tapi tak berhasil. Hingga akhirnya dia mengajariku untuk menggambarkan sebuah
“emoticon” sebagai awalan atau dasaran menggambar. Mimik sedih, gembira,
bingung dan ngantuk.
“Semua yang ada di dunia ini, haruslah ditampakkan.
Karena apa, kita tidak bisa mengukur kepintaran seseorang. Kita hanya bisa
melihatnya dari nilai. Itu tampak. Sama halnya Res belajar menulis. Res bisa
menulis? Bisa. Tapi mana buktinya? Kalau Res gak pernah menulis, berarti tidak
ada bukti bahwa Res bisa menulis. Karena itu, setiap orang yang ada di dunia
membutuhkan fisik atau bukti.” Aku hanya melongo mendengar ocehannya. Aku gak pernah menyadari bahwa bukti itu
sangatlah penting untuk ukuran di dunia. Karena fisik atau wujudlah yang bisa
dilihat oleh manusia. Beda halnya dengan roh yang tidak nampak dan merupakan
urusan kita sebagai manusia dengan tuhannya saja.
“Res pernah mendengar cerita dari Layla Majnun?
Bagaimana dia samapai gila? Itu karena Majnun tidak pernah memvisualisasikan
atau menampakkan perasaannya terhadap Layla. Sedang Layla sudah sangat bahagia
dengan orang lain yang dianggapnya sangat menyayanginya.” Obrolan pun bergulir mengenai
filsafat hidup, habluminaallah dan habluminannas.
Akhirnya obrolan kembali ke mimik wajah yang ku
gambar. “Coba amati, saat Res sudah bisa membaca mimik wajah, maka Res juga
bisa membaca orang walaupun hanya dari foto.” tuturnya padaku. Entah, tapi aku
tetap tak dapat memahaminya. Hingga akhirnya ku sodorkan foto-foto temanku
untuk membuktikan kebenaran ucapannya. Dari beberapa sorot mata yang ku tunjukkan,
dia dapat menerkanya dengan benar. “Hmm..ini ilmu baru yang harus dipelajari neh.” batinku.
Karena hujan telah reda dan langit mulai gelap,
“perkuliahan” hari pun harus berakhir. Aku mengantarnya pulang lalu kita
berpisah pada pukul 19.38 WIB. Delapan jam bersamamu membuat kepalaku pusing,
karena terlalu banyak yang belum sempat aku pahami. ‘PR’ selanjutnya adalah belajar
lebih banyak agar aku tak melongo di depanmu lagi.
Terima kasih. Fighting! J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar