Rabu, 19 Maret 2014

Berpisah di 19.38 WIB

Lama tak bersua kawan. Rindu rasanya dapat bertemu lagi. Aku kembali membawa cerita-cerita yang pernah hadir dalam kehidupanku. Kali ini aku akan sedikit bercerita mengenai 8 jam-ku bersama Cak Lesus kemarin.
Selepas pukul 11.00 WIB, aku memacu Nancy-ku (Sepeda motor F1ZR kesayanganku) ke rumah Cak Lesus. Bukan tanpa alasan aku pergi kerumahnya. Malam sebelumnya dia memintaku untuk mengajaknya jalan-jalan. Kemana saja. Mungkin jenuh dalam kehidupannya lagi kambuh.
Saat aku datang, Cak Lesus ada di depan rumahnya bersama kedua tamunya. Tak selang berapa lama, tamu tersebut pun pamit pulang. Tinggallah aku dan dia. Untuk mencairkan suasana, Cak Lesus mengeluarkan beberapa buku untukku baca. “Islam Yang Memihak”, aku pernah melihat buku ini sewaktu bazaar buku Ecpose 2 tahun yang lalu. Akan tetapi aku belum tertarik membacanya sampai saat ini. Entah mengapa.

“Ini aku punya buku biar kamu cepet dapet jodoh.” ucapnya sambil menyodorkan buku lainnya padaku. Buku agama dengan beberapa ayat di dalamnya. “Nglamak. Dikiranya aku gak laku-laku, apa?” batinku dengan sedikit dongkol. Ku balik-balikkan lembar per lembarnya tanpa ada niat untuk membacanya.
Lalu, dia mengeluarkan buku selanjutnya. Buku mengenai Siti Jenar. Sambil bercerita mengenai siapa Siti Jenar sebenarnya, perselisihannya dengan salah satu walisongo, Ki Panggung, sampai sejarah dan pemikirannya. Aku hanya bisa mendengarkan, karena hal ini masih sangat baru bagiku. Kulihat tangannya melambai-lambai ke atas dengan sekali-kali dahinya mengkerut ke atas menunjukkan keseriusannya dalam bercerita.
Satu setengah jam aku berada di rumahnya. Tak hanya Siti Jenar yang menjadi obrolan di antara kami. Ada juga obrolan mengenai jodoh dan alasan mengenai mengapa seseorang memilih untuk menjalin hubungan dengan orang lain.
Matahari sudah tambah terik dan hawa panas mulai menyeruak ke dalam ruangan. Karena mulai jenuh. Kami memutuskan untuk berangkat. Awalnya aku mengira kami akan berangkat ke taman hiburan Galaxy sesuai dengan janji kami semalam. Akan tetapi siang itu rencana berubah.
Aku menawarkan untuk menjadi ‘Pak Ojeknya’ hari ini. Dia menolak. Tanpa memiliki tujuan kami pun berangkat tanpa arah. Nancy pun berhenti di depan Kafe 1991 tempat biasanya dia ‘ngopi’ bersama teman-temannya. Apes..kafe sedang tutup. Nancy pun mulai membawa kami melewati jalan Jawa, Semanggi hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengenalkan aku pada Cheng-cheng teman karibnya yang berada di daerah Gebang. Sedikit berputar-putar melewati daerah Kreongan hingga akhirnya menuju daerah Pemandian Kebon Agung.
Kami melewati gang kecil. Mungkin gang ini hanya cukup untuk di lalui 2 sepeda motor. Tak jauh dari mulut gang, hanya berjarak 250 meter. Rumah bercat biru dengan beberapa sangkar burung yang terletak disetiap ujung-ujung rumah inilah yang menjadi tujuan kami.
Lama kami terdiam di depan rumah. Karena tak ada ‘pergerakan’, kami mengira rumah sedang dalam keadaan kosong. Lalu terlihat lambaian tangan dari dalam rumah. “Tuh,Cheng-cheng ada di rumah. Ngopi gratis neh.” celetuknya sambil cengar-cengir.
Setelah dipersilakan masuk dan “Say Hello” Mas Cheng-cheng pun menuju dapur dan membuatkan kami minum. Segelas kopi dan teh sudah siap menyambut tenggorokan kami yang kering. “Sus, sopo arek iki? Pacarmu ta?” Mas Cheng-cheng bertanya dengan begitu entengnya ke Cak lesus. Mendengar hal itu aku langsung menyodorkan tangan dan memperkenalkan diri. Tak rela diriku dianggap sebagai pacar Cak Lesus. Bukan karena apa, tapi karena umur Cak Lesus 6 tahun lebih tua dariku sehingga aku lebih nyaman menganggapnya sebagai kakak daripada sebagai pasangan.
Obrolan demi obrolan disambung layaknya benang yang tak putus. Entah karena suasana siang itu begitu panas ataukah karena aku belum menikmati makan siangku. Aku pun diam. Aku lelah. Dan aku lapar. Hanya saja malu untuk mengungkapkan. “Panganan ae ki pikirane.” perkataan Cak Lesus tempo hari itu masih melekat di ingatanku.
Hanya untuk mengalihkan rasa lapar, ku habiskan waktu bermain game Zuma yang ada di hape-ku. Kulihat Cak Lesus sedang asik bercengkrama dengan Mas Cheng-cheng, entah apa yang menjadi obrolannya, aku tak dapat mendengar karena suara mereka yang sangat pelan seakan-akan berbisik. Berbisik tanda tak boleh menguping. Ya sudahlah, aku asik dengan permainanku.
Tak lama, Cak Lesus menyodorkan hape yang berisi tulisan-tulisannya di salah satu media sosial. Agar tak merasa bosan, dia memintaku untuk mengomentari tulisannya tersebut. Tulisan pertama berjudul “Ideologi Petani dan Pancasila yang Masih Relevan”. Dalam tulisan ini dia menceritakan mengenai Pak Mar, bapak dari temannya yang sering memberinya nasehat. Pak Mar, dalam ceritanya, adalah seorang petani yang memiliki anak sarjana dan menyuruhnya untuk tetap menjadi petani. Beliau membandingkan petani jaman dahulu dan sekarang yang sudah mengalami banyak perubahan.
“Sebenarnya isi ceritanya menarik, mungkin akan menjadi lebih baik saat lead-nya diubah dan tak perlu kesimpulan dari penulis. Masih banyak ejaan yang perlu dibenahi. Tapi secara keseluruhan lumayan.” komentarku mengenai tulisan tersebut. Diskusi kecil pun terbentuk. Kami berbicara mengenai lead, diksi, masalah titik koma, hingga alur.
Setelah itu dia membandingkan dengan tulisan keduanya yang berjudul “Bermain Bola”. Sembari menungguku membaca tulisannya, dia memulai kembali obrolannya dengan Mas Cheng-cheng. Sekali-kali ku dengarkan apa yang menjadi obrolan antara keduanya. Mengenai usaha bakpao yang akan dirintis oleh Cak Lesus. Dan aku masih saja berkutat dengan tulisan keduanya.
Aku sampai pada 3 paragraf terakhir yang membuatku tak dapat menahan tawa. Di dalam tulisannya tersebut, Cak Lesus bercerita bahwa dia pernah tertidur di kamar mandi saat buang air besar hingga pagi hari. Aku tertawa membaca cerita konyolnya sewaktu kecil itu.
Baterai hape milik Mas Cheng-cheng sudah me-‘merah’. Ku serahkan hape tersebut kepada pemiliknya. Obrolan mengenai tulisannya yang kedua pun dimulai. Tak selang beberapa lama, kami pun sadar bahwa hari masih memiliki waktu. Mas Cheng-cheng pun akan menjeput istrinya. Kami bersiap-siap pulang. Sebelum pulang, Cak Lesus meminta batang sayur Kelor dan Katu untuk ditanamnya di rumah. Selesai membungkusnya, Nancy pun di-starter. Dan..waktunya pulaang.. J
Nancy keluar dari gang dan melewati pasar Gebang. Karena dirasa masih sore, Cak Lesus pun masih enggan untuk pulang. Awalnya kami akan menuju ke Alun-alun sekedar untuk menikmati suasana sore di pusat kota Jember. Akan tetapi langit tak bersahabat, rintik hujan mulai turun. Cak Lesus mulai memacu Nancy mencari tempat berteduh sebelum hujan datang. Melewati jalan A.Yani, RRI lalu berbelok melewati Gunung Batu hingga akhirnya kami terdampar di Kafe 1991 yang ternyata sudah buka. “Mending disini aja ya? Bisa ngopi gratis. Utang juga boleh,hehe.” ujarnya sambil tertawa. Maklumlah dompet kami berdua lagi tipis-tipisnya. Setelah memasuki ruangan kami pun duduk di dekat meja kasir. Ku lihat jam menunjukkan pukul 17.02 WIB. Tak lama hujan mulai mengguyur. Untung kami sudah menemukan tempat berteduh sehingga tidak sampai basah kuyup.
Tak lama air dingin pesananku datang. Setelah itu, kopi pesanan Cak Lesus pun datang. Tanpa basa-basi Cak Lesus pun mengeluarkan sebuah buku dan pulpen. Ku buka dan ku baca apa isi buku tersebut. Hanya  coret-coret mengenai organisasinya dan..gambar. Kulihat banyak coretan-coretan wajah yang dia gambar sebagai bentuk hobinya terhadap seni lukis. Lalu, dia mengajariku sedikit teknik menggambar secara proporsional. Mulai dari menggambar mata, hidung, mulut hingga dagu seseorang. “Lekukan jajar genjang, biasanya digunakan untuk menggambar mata perempuan.” Berkali-kali aku mencoba untuk menggambarkan sepasang mata, tapi tak berhasil. Hingga akhirnya dia mengajariku untuk menggambarkan sebuah “emoticon” sebagai awalan atau dasaran menggambar. Mimik sedih, gembira, bingung dan ngantuk.
“Semua yang ada di dunia ini, haruslah ditampakkan. Karena apa, kita tidak bisa mengukur kepintaran seseorang. Kita hanya bisa melihatnya dari nilai. Itu tampak. Sama halnya Res belajar menulis. Res bisa menulis? Bisa. Tapi mana buktinya? Kalau Res gak pernah menulis, berarti tidak ada bukti bahwa Res bisa menulis. Karena itu, setiap orang yang ada di dunia membutuhkan fisik atau bukti.” Aku hanya melongo mendengar ocehannya. Aku gak pernah menyadari bahwa bukti itu sangatlah penting untuk ukuran di dunia. Karena fisik atau wujudlah yang bisa dilihat oleh manusia. Beda halnya dengan roh yang tidak nampak dan merupakan urusan kita sebagai manusia dengan tuhannya saja.
“Res pernah mendengar cerita dari Layla Majnun? Bagaimana dia samapai gila? Itu karena Majnun tidak pernah memvisualisasikan atau menampakkan perasaannya terhadap Layla. Sedang Layla sudah sangat bahagia dengan orang lain yang dianggapnya sangat menyayanginya.” Obrolan pun bergulir mengenai filsafat hidup, habluminaallah dan habluminannas.
Akhirnya obrolan kembali ke mimik wajah yang ku gambar. “Coba amati, saat Res sudah bisa membaca mimik wajah, maka Res juga bisa membaca orang walaupun hanya dari foto.” tuturnya padaku. Entah, tapi aku tetap tak dapat memahaminya. Hingga akhirnya ku sodorkan foto-foto temanku untuk membuktikan kebenaran ucapannya. Dari beberapa sorot mata yang ku tunjukkan, dia dapat menerkanya dengan benar. “Hmm..ini ilmu baru yang harus dipelajari neh.” batinku.
Karena hujan telah reda dan langit mulai gelap, “perkuliahan” hari pun harus berakhir. Aku mengantarnya pulang lalu kita berpisah pada pukul 19.38 WIB. Delapan jam bersamamu membuat kepalaku pusing, karena terlalu banyak yang belum sempat aku pahami. ‘PR’ selanjutnya adalah belajar lebih banyak agar aku tak melongo di depanmu lagi.

Terima kasih. Fighting! J

Tidak ada komentar: