Minggu, 08 Juni 2014

Paksa

Paksa datang. Begitu saja. Tak ada angin, tak ada hujan, Paksa datang dan memaksaku untuk menerimanya sebagai teman. Dia memaksa dan mengancamku untuk menurutinya. Semua kemauannya. Tanpa harus ada pembelaan diri.
Aku dan Paksa bertemu di toilet sekolah taman kanak-kanak. Dia menyeretku dengan ancaman. Tak ada perlawanan dari tubuhku yang masih kecil saat itu. Terlalu dini bagiku untuk mengenalnya lebih jauh. Tapi apa daya, itulah awal kali aku bertemu dengan Paksa.

Tak ada yang tahu kapan dia datang dan bisa menemuiku. Dia bagai hantu di siang bolong. Dia terlalu terang untuk dilihat orang. Mereka yang ada disekitarku tak pernah menyadari kedatangannya. Tidak denganku untuk kedua kalinya.
Paksa bukan manusia. Bukan juga hewan yang pernah kau kenal. Tapi dia bisa menjadi manusia yang lebih buas daripada hewan manapun. Dia menyeringai. Dengan kilatan mata penuh makna. Jika kau anggap seekor serigala adalah binatang yang paling buas, maka dia jauh lebih buas. Jika kau anggap kau dapat sembunyi dibalik selimut kamarmu yang tebal, maka banyak jalan untuknya menemukanmu. Saat Paksa datang, maka tak ada kata lari. Menghindarinya? Itu mustahil.
Mulutnya berlumuran air liur dengan disertai umpatan dan ancaman. Dia lebih kejam daripada teroris yang pernah kau lihat di tivi. Dan virus yang disebarkan bisa membuatmu harus menahan sakit seumur hidupmu. Virus itu akan menggerogotimu tanpa ampun. Sampai kau benar-benar lemas dan akhirnya kehilangan imun.
Yang pasti, aku mengenal Paksa sedari kecil. Bukan sebuah perkenalan melainkan terpaksa mengenal sedari taman kanak-kanak. Sejak itu hidupku mulai berubah. Berubah…karena campur tangan paksa. Berubah karena dia membuntutiku sampai aku dewasa. Menemaniku hingga aku sudah tak muda lagi. Paksa tetap setia. Dia ada di dalam diriku. Karena dia adalah aku. Paksa itu aku.
***
Bangunan dengan banyak koridor inilah tempatku bekerja sekarang. Disinilah celoteh-celoteh kepolosan akan kau dengar. Mimik wajah meneduhkan akan banyak kau temui. Sifat-sifat manja dan rengekan akan menjadi santapan setiap harimu. Tapi inilah yang harus dijalani. Bekerja sebagai guru sokwan.
Bukan tak mengapa. Bukan juga tanpa alasan aku ada disini. Bersama dengan anak-anak titipan dari orang tuanya. Entah mengapa, setiap kali ku lihat wajah Iqbal, salah satu murid yang ada di kelasku mengajar, aku selalu tahu bahwa dia layaknya aku dulu. Aku seakan mengenalnya dengan baik. Sorot matanya saat memandangku seakan mengingatkan waktu seumur dengannya. Dahulu.
Iqbal seakan berbeda dengan yang lain. Dia bukan anak yang banyak bicara. Orang tuanya juga sangat jarang menjemputnya ke sekolah. Setiap hari, suster pengasuh selalu menemaninya ke sekolah.
Ada hal yang sama antara Iqbal dan aku. Lihat saja bagaimana dia memakai seragam, rapi. Dengan baju yang dimasukkan. Tampak begitu lemah dan kecil. Sama denganku saat berumur 5 tahun. Kesamaan inilah yang membuatku lebih memperhatikan Iqbal daripada murid lainnya.
Setiap kali melihat Iqbal, Paksa selalu berbisik padaku. “Dunia ini memang tak adil. Iqbal adalah dunia kecilmu dulu yang pernah terenggut. Tidakkah kau marah akannya?” Aku berusaha menampar Paksa sekuat tenaga. Tetapi, sekuat apapun aku menampar Paksa, dia selalu dapat mengelak. Dia tahu kemana arah tamparanku. Dia begitu mengenalku. Aku tak punya cara lain untuk menggampratnya pergi ke luar dalam hidupku. Karena dia begitu lekat denganku. Menempel erat sedari ku kecil di taman kanak-kanak. Dan dari sanalah Paksa setia menemani hidupku yang begitu buram.
Hampir disetiap kesempatan saat Iqbal ingin buang air, aku mengantarnya. Aku menemaninya menuju kamar mandi. Tak hanya itu, aku juga menemaninya sampai masuk di salah satu ruangan toilet yang ada. Ku bukakan celananya. Dan ku pegangi “tit”-nya. Ku perlakukan dia sebagaimana Paksa juga pernah memperlakukanku. Paksa mengajariku banyak hal yang belum semestinya aku tahu saat itu. Aku tak butuh, namun aku harus tahu. Dan aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku marah dan aku ingin melampiaskannya dengan Iqbal. Aku menganggap Iqbal adalah aku yang dahulu. Yang lemah dan tak berdaya.
Aku brutal. Aku melakukannya melalui “celah belakang” Iqbal. Ku umpat dan ku ancam dia agar tak mengadukannya pada siapapun. Ku bungkam mulutnya agar tak bisa berteriak. Dia hanya menangis sambil menahan perih. Aku tak pernah peduli. Aku dulu sama sepertinya.

Paksa. Dia hanya tertawa dan memaksaku melakukannya. Dia membenarkan apa saja yang menurut kebanyakan orang adalah salah. Baginya, Paksa tak pernah salah. Menurutnya, ingin disebut sebagai penyakit kelainan seksual atau pedofil itu tak menjadikan masalah. Paksa membuatku percaya bahwa ini adalah amarah yang harus dilampiaskan karena ketraumaanku. Trauma tak dapat menjalani hidup dengan baik.
Paksa membenarkan semua yang terlintas dalam pikiranku. Tak ada norma yang harus dipatuhi. Tak ada larangan dan kewajiban yang harus dijalankan. Semua ini milikku. Aku tak salah. Aku juga bukan penjahat yang harus merasakan bagaimaa dinginnya lantai penjara. Aku tak bersalah. Aku juga bukan tersangka. Lalu, mengapa kau penjarakan aku, Paksa? Tidak hanya memenjarakan pikiranku, tidak juga hatiku, tapi kau juga penjarakan fisikku. Dan, setelah ini, kau menari-nari indah mengejekku yang tak pandai melakukannya?
Ini bukan salahku. Paksa yang memaksaku untuk melakukannya. Tapi tak ada orang yang mampu mendengarku berbicara. Hanya pandangan sinis dan caci maki dari orang tua Iqbal yang ku dengar di pengadilan.

Tidak ada komentar: