Paksa datang. Begitu saja. Tak ada
angin, tak ada hujan, Paksa datang dan memaksaku untuk menerimanya sebagai
teman. Dia memaksa dan mengancamku untuk menurutinya. Semua kemauannya. Tanpa
harus ada pembelaan diri.
Aku dan Paksa bertemu di toilet sekolah
taman kanak-kanak. Dia menyeretku dengan ancaman. Tak ada perlawanan dari
tubuhku yang masih kecil saat itu. Terlalu dini bagiku untuk mengenalnya lebih
jauh. Tapi apa daya, itulah awal kali aku bertemu dengan Paksa.
Tak ada yang tahu kapan dia datang dan
bisa menemuiku. Dia bagai hantu di siang bolong. Dia terlalu terang untuk
dilihat orang. Mereka yang ada disekitarku tak pernah menyadari kedatangannya.
Tidak denganku untuk kedua kalinya.
Paksa bukan manusia. Bukan juga hewan
yang pernah kau kenal. Tapi dia bisa menjadi manusia yang lebih buas daripada
hewan manapun. Dia menyeringai. Dengan kilatan mata penuh makna. Jika kau
anggap seekor serigala adalah binatang yang paling buas, maka dia jauh lebih
buas. Jika kau anggap kau dapat sembunyi dibalik selimut kamarmu yang tebal,
maka banyak jalan untuknya menemukanmu. Saat Paksa datang, maka tak ada kata
lari. Menghindarinya? Itu mustahil.
Mulutnya berlumuran air liur dengan
disertai umpatan dan ancaman. Dia lebih kejam daripada teroris yang pernah kau
lihat di tivi. Dan virus yang disebarkan bisa membuatmu harus menahan sakit
seumur hidupmu. Virus itu akan menggerogotimu tanpa ampun. Sampai kau
benar-benar lemas dan akhirnya kehilangan imun.
Yang pasti, aku mengenal Paksa sedari
kecil. Bukan sebuah perkenalan melainkan terpaksa mengenal sedari taman
kanak-kanak. Sejak itu hidupku mulai berubah. Berubah…karena campur tangan
paksa. Berubah karena dia membuntutiku sampai aku dewasa. Menemaniku hingga aku
sudah tak muda lagi. Paksa tetap setia. Dia ada di dalam diriku. Karena dia
adalah aku. Paksa itu aku.
***
Bangunan dengan banyak koridor inilah
tempatku bekerja sekarang. Disinilah celoteh-celoteh kepolosan akan kau dengar.
Mimik wajah meneduhkan akan banyak kau temui. Sifat-sifat manja dan rengekan
akan menjadi santapan setiap harimu. Tapi inilah yang harus dijalani. Bekerja
sebagai guru sokwan.
Bukan tak mengapa. Bukan juga tanpa
alasan aku ada disini. Bersama dengan anak-anak titipan dari orang tuanya.
Entah mengapa, setiap kali ku lihat wajah Iqbal, salah satu murid yang ada di
kelasku mengajar, aku selalu tahu bahwa dia layaknya aku dulu. Aku seakan
mengenalnya dengan baik. Sorot matanya saat memandangku seakan mengingatkan
waktu seumur dengannya. Dahulu.
Iqbal seakan berbeda dengan yang lain.
Dia bukan anak yang banyak bicara. Orang tuanya juga sangat jarang menjemputnya
ke sekolah. Setiap hari, suster pengasuh selalu menemaninya ke sekolah.
Ada hal yang sama antara Iqbal dan aku.
Lihat saja bagaimana dia memakai seragam, rapi. Dengan baju yang dimasukkan.
Tampak begitu lemah dan kecil. Sama denganku saat berumur 5 tahun. Kesamaan
inilah yang membuatku lebih memperhatikan Iqbal daripada murid lainnya.
Setiap kali melihat Iqbal, Paksa selalu
berbisik padaku. “Dunia ini memang tak adil. Iqbal adalah dunia kecilmu dulu
yang pernah terenggut. Tidakkah kau marah akannya?” Aku berusaha menampar Paksa
sekuat tenaga. Tetapi, sekuat apapun aku menampar Paksa, dia selalu dapat
mengelak. Dia tahu kemana arah tamparanku. Dia begitu mengenalku. Aku tak punya
cara lain untuk menggampratnya pergi ke luar dalam hidupku. Karena dia begitu
lekat denganku. Menempel erat sedari ku kecil di taman kanak-kanak. Dan dari
sanalah Paksa setia menemani hidupku yang begitu buram.
Hampir disetiap kesempatan saat Iqbal
ingin buang air, aku mengantarnya. Aku menemaninya menuju kamar mandi. Tak
hanya itu, aku juga menemaninya sampai masuk di salah satu ruangan toilet yang
ada. Ku bukakan celananya. Dan ku pegangi “tit”-nya. Ku perlakukan dia
sebagaimana Paksa juga pernah memperlakukanku. Paksa mengajariku banyak hal
yang belum semestinya aku tahu saat itu. Aku tak butuh, namun aku harus tahu.
Dan aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku marah dan aku ingin melampiaskannya
dengan Iqbal. Aku menganggap Iqbal adalah aku yang dahulu. Yang lemah dan tak
berdaya.
Aku brutal. Aku melakukannya melalui
“celah belakang” Iqbal. Ku umpat dan ku ancam dia agar tak mengadukannya pada
siapapun. Ku bungkam mulutnya agar tak bisa berteriak. Dia hanya menangis
sambil menahan perih. Aku tak pernah peduli. Aku dulu sama sepertinya.
Paksa. Dia hanya tertawa dan memaksaku
melakukannya. Dia membenarkan apa saja yang menurut kebanyakan orang adalah
salah. Baginya, Paksa tak pernah salah. Menurutnya, ingin disebut sebagai penyakit
kelainan seksual atau pedofil itu tak menjadikan masalah. Paksa membuatku
percaya bahwa ini adalah amarah yang harus dilampiaskan karena ketraumaanku.
Trauma tak dapat menjalani hidup dengan baik.
Paksa membenarkan semua yang terlintas
dalam pikiranku. Tak ada norma yang harus dipatuhi. Tak ada larangan dan
kewajiban yang harus dijalankan. Semua ini milikku. Aku tak salah. Aku juga
bukan penjahat yang harus merasakan bagaimaa dinginnya lantai penjara. Aku tak
bersalah. Aku juga bukan tersangka. Lalu, mengapa kau penjarakan aku, Paksa?
Tidak hanya memenjarakan pikiranku, tidak juga hatiku, tapi kau juga penjarakan
fisikku. Dan, setelah ini, kau menari-nari indah mengejekku yang tak pandai
melakukannya?
Ini bukan salahku. Paksa yang memaksaku
untuk melakukannya. Tapi tak ada orang yang mampu mendengarku berbicara. Hanya
pandangan sinis dan caci maki dari orang tua Iqbal yang ku dengar di
pengadilan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar