Kamis, 09 Januari 2014

Perempuan Hujan


Malam.
Malam mulai merajut saat rintik-rintik hujan mulai menampakkan kehadirannya. Sofhie, begitulah biasa aku dipanggil. Seorang gadis belia berumur 17 tahun yang menghabiskan 2 tahun belakangan ini untuk setia menunggu di bawah atap genting yang mulai berlumut. 2 tahun aku sudah setia menunggu.

Disini, dibawah atap genting ini, 17 tahun lalu aku terlahir dari rahim seorang ibu paruh baya yang terlunta sendirian. Lemas. Tak berdaya. Persalinan tanpa ada seorang pun yang mengetahui dan menolong.
Rintik hujan ini seakan menggiringku kepada kejadian itu. Tapi, sudahlah. Itu sudah 17 tahun yang lalu. cerita yang tak ingin ku ingat lagi. Betapa pedih membayangkan hidup terlunta sendirian dengan kondisi hamil lalu melahirkan tanpa ada campur tangan orang lain. Sudahlah. Sudah. Kudongakkan kepala, menatap malam yang masih setia menemaniku dengan rintik hujan. Menunggu. Menunggu dia datang dan menunggu hujan reda.

Sebuah mobil penumpang berhenti tepat di depanku. Seorang laki-laki dengan uban yang mulai memenuhi kepalanya tampak keluar dari mobil itu. Kerut di wajahnya tak dapat disembunyikan. Nampak jelas menunjukkan usianya yang tak lagi muda. Hem lengan panjang yang dipakainya tampak sedikit kebesaran. Kebesaran, bukan. Baju itu sebenarnya pas untuknya, hanya saja tubuhnya yang mulai kurus dengan tulang yang begitu melekat erat dengan kulitnya membuat baju yang dipakainya tampak begitu besar.
“Sudah lama menunggu?”
Tak perlu sepatah kata jawaban atas pertanyaan yang telah dilontarkan. Tak berselang lama, payung berwarna abu-abu ini sudah mulai memayungi dua orang. Menerjang ditengah-tengah hujan yang lebat. Kami berdua tetap berjalan bersama dalam keheningan. Tak ada obrolan. Hanya diam.
10 menit kemudian kami berdua telah sampai di depan sebuah rumah. Entahlah, rumah ini bisa disebut sebagai rumah atau tidak. Tapi inilah yang kami punya. Tak beraturan. Tak beratap. Hanya seng-seng yang mulai berkarat dan berlubang yang mampu kami jadikan sebagai dinding. Tak lupa, kardus hasil dari memulung juga digunakan untuk membungkus pakaian-pakaian kami agar tidak kotor terkena debu. Hanya inilah yang kami punya. Sebuah “rumah” dibawah jembatan. Tempat dimana aku dan ayah selalu berkumpul setiap malam.
Ayah.
Hanya dia yang aku punya. Tak ada kerabat, tak ada sanak saudara lain. Hidup yang begitu sepi bukan? Jika anak yang lain memiliki ibu, aku tak ingat kapan terakhir kali aku melihat ibu. Ayah tak pernah menceritakan bagaimana sosok ibu padaku. Dia hanya menceritakan padaku bahwa waktu itu dia menemukan mayat seorang ibu paruh baya yang dalam kondisi telah melahirkan seorang bayi perempuan di bawah atap genting berlumut. Karena tak tega, dibawalah aku kerumah ini. Rumah tak beratap. Mungkin memang karena kami tidak memerlukan atap. Untuk apa? Toh kami tidak akan kehujanan. Masih ada bayang-bayang jembatan yang akan melindungi kami dari hujan dan dari panasnya matahari siang.
***
Saat matahari masih malu-malu untuk menunjukkan dirinya, aku sudah bersiap dengan segala keperluanku. Topi, untuk melindungiku dari panas. Karung berukuran besar dan tidak ketinggalan “cungkilan”. Cungkilan terbuat dari besi yang sudah ku bengkokkan ujungnya. Gunanya untuk membantuku dalam “mengobrak-abrik” sampah. Beginilah profesiku. Seorang pemulung. Sebelum menjadi kuli di pasar, ayahku juga pemulung. Setiap pagi aku dan ayah mulai menjadi “santa claus” yang berkeliling mengitari kompleks perumahan yang tak jauh dari rumahku.
Sampai suatu pagi, ayah ditawari untuk bekerja pada juragan Asyong yang memiliki toko Serba Ada di wilayah pasar Kareng. Gajinya lumayan. Sejak saat itu, kami berdua mulai membagi tugas. Ayah bekerja di pasar sedang aku tetap dengan pekerjaanku sebagai pemulung.
Aku terus mencari dionggokan sampah, sesuatu yang kiranya dapat aku jual. Mulai dari botol plastik, kardus bekas, sampai kertas-kertas yang masih bisa dijual. Bau menyengat dari tumpukan sampah seakan sudah menjadi teman setiaku setiap hari.
“Bagaimana tugas matematikamu?” tanya seorang cewek kepada teman disampingnya. Mendengar obrolan itu, aku langsung menoleh ke asal suara. Entah mengapa, tiap kali tahu ada anak yang menggunakan seragam sekolah rasanya aku ingin sekali bisa seperti mereka. Ingin menggunakan seragam yang sama seperti mereka. Setiap pagi sudah berdandan rapi dan siap berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu.
Sebenarnya aku gak pernah tahu. Lebih tepatnya aku belum pernah merasakan bagaimana menjadi mereka. Selama umurku, belum pernah ku merasakan bagaimana rasanya bersekolah. Ayah bilang sekolah itu mahal. Dan hanya untuk orang mampu saja. Sedang untuk aku dan ayah, bisa makan sehari sekali saja sudah cukup menggembirakan.
Pernah aku bertanya pada ayah, untuk apa sekolah itu? Jawab ayah hanya singkat, agar pintar. Lalu setelah pintar, bagaimana? Biar mudah mencari kerja. Kalo mudah mencari kerja, berarti mudah buat nyari makan. Jadi, gak kelaparan. Mendengar jawaban itu aku hanya mengangguk saja.
Orang yang bersekolah itu, hanya orang kaya saja. Jadi, orang yang miskin tidak bisa mengenyam pendidikan alias sekolah. Kalo gak bisa sekolah berarti gak bisa pintar. Kalo gak bisa pintar berarti gak bisa nyari kerja. Kalo gak bisa nyari kerja berarti gak bisa makan. Kalo gak makan berarti siap-siap kelaparan. Aduh..kepalaku pusing memikirkan hal itu. Dalam benakku aku mulai berfikir mengapa orang susah hidupnya semakin susah, mungkin ini salah satu sebabnya. Maka dari itu aku ingin sekali bisa bersekolah, siapa tahu saja aku bisa pintar dan bisa mencari kerja. Dengan begitu aku tidak lagi susah dan sering kelaparan.
***
Saat matahari sudah mulai lelah dan ingin terlelap, aku pun demikian. Sore hari menjadi batas untukku pulang kerumah. Sisa uang kemarin rasanya masih cukup sekedar untuk membeli beras malam ini. Setelah menanak nasi, ku ambil payung berwarna abu-abu dari balik pintu. Ku katupkan. Karena malam masih berbintang. Segera ku berjalan menuju rumah beton beratapkan genting berlumut. Masih menunggu. Masih setia menunggu.
Malam.
Malam masih setia menemani dengan bintang disampingnya. Ku sandarkan punggung ke dinding beton. Menunggu orang yang akan menemaniku pulang bersama. Malam. Dan masih menunggu.
Tiba-tiba hujan turun. Segera ku buka payung yang ku bawa. Benar kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Ku dongakkan kepala melihat langit, mencari kemana bintang yang menemani malam? Bintang pergi meninggalkan malam dengan angkuhnya. Meninggalkan rinai hujan sebagai penghapus jejak. Biarlah. Biarlah malam ini hujan. Kini, hujan menemani malamku. Malam dimana aku masih setia menunggu.

Sebuah mobil penumpang berwarna biru tua berhenti tepat di depanku. Laki-laki tua berjaket hitam keluar dari dalam mobil sambil menggunakan topi bundar. Bukan, dia bukan orang yang aku tunggu. Ku masih berharap, dia akan keluar setelah orang berjaket tadi. Pintu ditutup dan mobil pun pergi. Meninggalkanku sendiri dalam dinginnya malam. Dimana dia? Mengapa dia tak kembali malam ini? Berlalunya mobil membuat harapanku malam ini juga berlalu. Selama 2 tahun aku menunggunya. Disini, dibawah genting berlumut. Setiap malam. Selama 2 tahun. Namun dia tak kunjung kembali.

2 komentar:

tarinksinga mengatakan...

wooow....

mantab kaka.... ^_^

Unknown mengatakan...

makasii..
:)