Malam.
Malam
mulai merajut saat rintik-rintik hujan mulai menampakkan kehadirannya. Sofhie,
begitulah biasa aku dipanggil. Seorang gadis belia berumur 17 tahun yang
menghabiskan 2 tahun belakangan ini untuk setia menunggu di bawah atap genting
yang mulai berlumut. 2 tahun aku sudah setia menunggu.
Disini,
dibawah atap genting ini, 17 tahun lalu aku terlahir dari rahim seorang ibu
paruh baya yang terlunta sendirian. Lemas. Tak berdaya. Persalinan tanpa ada
seorang pun yang mengetahui dan menolong.
Rintik
hujan ini seakan menggiringku kepada kejadian itu. Tapi, sudahlah. Itu sudah 17
tahun yang lalu. cerita yang tak ingin ku ingat lagi. Betapa pedih membayangkan
hidup terlunta sendirian dengan kondisi hamil lalu melahirkan tanpa ada campur tangan
orang lain. Sudahlah. Sudah. Kudongakkan kepala, menatap malam yang masih setia
menemaniku dengan rintik hujan. Menunggu. Menunggu dia datang dan menunggu
hujan reda.
Sebuah
mobil penumpang berhenti tepat di depanku. Seorang laki-laki dengan uban yang
mulai memenuhi kepalanya tampak keluar dari mobil itu. Kerut di wajahnya tak
dapat disembunyikan. Nampak jelas menunjukkan usianya yang tak lagi muda. Hem
lengan panjang yang dipakainya tampak sedikit kebesaran. Kebesaran, bukan. Baju
itu sebenarnya pas untuknya, hanya saja tubuhnya yang mulai kurus dengan tulang
yang begitu melekat erat dengan kulitnya membuat baju yang dipakainya tampak
begitu besar.
“Sudah
lama menunggu?”
Tak perlu
sepatah kata jawaban atas pertanyaan yang telah dilontarkan. Tak berselang
lama, payung berwarna abu-abu ini sudah mulai memayungi dua orang. Menerjang
ditengah-tengah hujan yang lebat. Kami berdua tetap berjalan bersama dalam
keheningan. Tak ada obrolan. Hanya diam.
10 menit
kemudian kami berdua telah sampai di depan sebuah rumah. Entahlah, rumah ini
bisa disebut sebagai rumah atau tidak. Tapi inilah yang kami punya. Tak
beraturan. Tak beratap. Hanya seng-seng yang mulai berkarat dan berlubang yang
mampu kami jadikan sebagai dinding. Tak lupa, kardus hasil dari memulung juga
digunakan untuk membungkus pakaian-pakaian kami agar tidak kotor terkena debu.
Hanya inilah yang kami punya. Sebuah “rumah” dibawah jembatan. Tempat dimana
aku dan ayah selalu berkumpul setiap malam.
Ayah.
Hanya dia
yang aku punya. Tak ada kerabat, tak ada sanak saudara lain. Hidup yang begitu
sepi bukan? Jika anak yang lain memiliki ibu, aku tak ingat kapan terakhir kali
aku melihat ibu. Ayah tak pernah menceritakan bagaimana sosok ibu padaku. Dia
hanya menceritakan padaku bahwa waktu itu dia menemukan mayat seorang ibu paruh
baya yang dalam kondisi telah melahirkan seorang bayi perempuan di bawah atap
genting berlumut. Karena tak tega, dibawalah aku kerumah ini. Rumah tak
beratap. Mungkin memang karena kami tidak memerlukan atap. Untuk apa? Toh kami tidak
akan kehujanan. Masih ada bayang-bayang jembatan yang akan melindungi kami dari
hujan dan dari panasnya matahari siang.
***
Saat
matahari masih malu-malu untuk menunjukkan dirinya, aku sudah bersiap dengan
segala keperluanku. Topi, untuk melindungiku dari panas. Karung berukuran besar
dan tidak ketinggalan “cungkilan”. Cungkilan
terbuat dari besi yang sudah ku bengkokkan ujungnya. Gunanya untuk membantuku
dalam “mengobrak-abrik” sampah. Beginilah profesiku. Seorang pemulung. Sebelum
menjadi kuli di pasar, ayahku juga pemulung. Setiap pagi aku dan ayah mulai
menjadi “santa claus” yang berkeliling mengitari kompleks perumahan yang tak
jauh dari rumahku.
Sampai
suatu pagi, ayah ditawari untuk bekerja pada juragan Asyong yang memiliki toko
Serba Ada di wilayah pasar Kareng. Gajinya lumayan. Sejak saat itu, kami berdua
mulai membagi tugas. Ayah bekerja di pasar sedang aku tetap dengan pekerjaanku
sebagai pemulung.
Aku terus
mencari dionggokan sampah, sesuatu yang kiranya dapat aku jual. Mulai dari
botol plastik, kardus bekas, sampai kertas-kertas yang masih bisa dijual. Bau
menyengat dari tumpukan sampah seakan sudah menjadi teman setiaku setiap hari.
“Bagaimana
tugas matematikamu?” tanya seorang cewek kepada teman disampingnya. Mendengar
obrolan itu, aku langsung menoleh ke asal suara. Entah mengapa, tiap kali tahu
ada anak yang menggunakan seragam sekolah rasanya aku ingin sekali bisa seperti
mereka. Ingin menggunakan seragam yang sama seperti mereka. Setiap pagi sudah
berdandan rapi dan siap berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu.
Sebenarnya
aku gak pernah tahu. Lebih tepatnya aku belum pernah merasakan bagaimana
menjadi mereka. Selama umurku, belum pernah ku merasakan bagaimana rasanya
bersekolah. Ayah bilang sekolah itu mahal. Dan hanya untuk orang mampu saja.
Sedang untuk aku dan ayah, bisa makan sehari sekali saja sudah cukup
menggembirakan.
Pernah
aku bertanya pada ayah, untuk apa sekolah itu? Jawab ayah hanya singkat, agar
pintar. Lalu setelah pintar, bagaimana? Biar mudah mencari kerja. Kalo mudah mencari
kerja, berarti mudah buat nyari makan. Jadi, gak kelaparan. Mendengar jawaban
itu aku hanya mengangguk saja.
Orang
yang bersekolah itu, hanya orang kaya saja. Jadi, orang yang miskin tidak bisa
mengenyam pendidikan alias sekolah. Kalo gak bisa sekolah berarti gak bisa
pintar. Kalo gak bisa pintar berarti gak bisa nyari kerja. Kalo gak bisa nyari
kerja berarti gak bisa makan. Kalo gak makan berarti siap-siap kelaparan.
Aduh..kepalaku pusing memikirkan hal itu. Dalam benakku aku mulai berfikir
mengapa orang susah hidupnya semakin susah, mungkin ini salah satu sebabnya.
Maka dari itu aku ingin sekali bisa bersekolah, siapa tahu saja aku bisa pintar
dan bisa mencari kerja. Dengan begitu aku tidak lagi susah dan sering
kelaparan.
***
Saat
matahari sudah mulai lelah dan ingin terlelap, aku pun demikian. Sore hari
menjadi batas untukku pulang kerumah. Sisa uang kemarin rasanya masih cukup
sekedar untuk membeli beras malam ini. Setelah menanak nasi, ku ambil payung
berwarna abu-abu dari balik pintu. Ku katupkan. Karena malam masih berbintang.
Segera ku berjalan menuju rumah beton beratapkan genting berlumut. Masih
menunggu. Masih setia menunggu.
Malam.
Malam
masih setia menemani dengan bintang disampingnya. Ku sandarkan punggung ke
dinding beton. Menunggu orang yang akan menemaniku pulang bersama. Malam. Dan
masih menunggu.
Tiba-tiba
hujan turun. Segera ku buka payung yang ku bawa. Benar kata pepatah, sedia
payung sebelum hujan. Ku dongakkan kepala melihat langit, mencari kemana
bintang yang menemani malam? Bintang pergi meninggalkan malam dengan angkuhnya.
Meninggalkan rinai hujan sebagai penghapus jejak. Biarlah. Biarlah malam ini
hujan. Kini, hujan menemani malamku. Malam dimana aku masih setia menunggu.
Sebuah
mobil penumpang berwarna biru tua berhenti tepat di depanku. Laki-laki tua
berjaket hitam keluar dari dalam mobil sambil menggunakan topi bundar. Bukan,
dia bukan orang yang aku tunggu. Ku masih berharap, dia akan keluar setelah
orang berjaket tadi. Pintu ditutup dan mobil pun pergi. Meninggalkanku sendiri
dalam dinginnya malam. Dimana dia? Mengapa dia tak kembali malam ini?
Berlalunya mobil membuat harapanku malam ini juga berlalu. Selama 2 tahun aku
menunggunya. Disini, dibawah genting berlumut. Setiap malam. Selama 2 tahun.
Namun dia tak kunjung kembali.

2 komentar:
wooow....
mantab kaka.... ^_^
makasii..
:)
Posting Komentar