Aku
terus memandangi kartu nama yang ada dihadapanku.
“Iya. Tidak. Iya.
Tidak. Iya. Tidak. Ah…aku bingung.”
Sebelumnya
aku tak pernah tahu kalau kita sama-sama berasal dari Jember. Secara kebetulan
aku dan dia dipertemukan di Bali saat itu. Pertemuan yang tak disengaja saat menonton
Pagelaran Wayang Rama dan Shinta 10 hari yang lalu masih saja membekas
diingatanku. Laki-laki itu.
Dia yang memberikan kartu namanya padaku setelah aku tak sengaja menumpahkan minuman ke pakaiannya. Klasik. Perkenalan layaknya di sinetron saja. Tito Mahendra. Ketua dari Padepokan Maestro. Begitu yang tertera di dalam kartu nama ini.
Dia yang memberikan kartu namanya padaku setelah aku tak sengaja menumpahkan minuman ke pakaiannya. Klasik. Perkenalan layaknya di sinetron saja. Tito Mahendra. Ketua dari Padepokan Maestro. Begitu yang tertera di dalam kartu nama ini.
***
Karena
tak kuasa lagi, iseng-iseng akupun mengunjungi tempat Tito yang berada di
kompleks perumahan Griya Mangli Jember. Terpampang papan nama besar bertuliskan
“Padepokan Maestro” di depan pintu berukiran ular naga bercat kuning. Ku ketuk
pintu secara berlahan.
“Cari siapa, mbak?” tanya
perempuan muda dengan rambut dikepang dua.
“Mas Tito ada? Saya
Nara.” ucapku memperkenalkan diri.
Setelah
dipersilakan masuk aku pun duduk di ruang depan. Ruangan 4x6 m ini sebenarnya
cukup luas untuk dijadikan ruang tamu. Banyak pernak-pernik yang menghiasi
ruangan ini seperti guci-guci kecil dari Cina, kain-kain batik yang disusun
menyerupai bentuk burung merak, manekin-manekin yang didandani ala
pejuang-pejuang ’45 dan ada juga bendera merah putih yang diletakkan di sudut
ruangan ini. Aku tampak kagum. Tak lama, Tito pun muncul dari pintu samping dengan
pakaian adat Jawa.
“Eh, Nara. Apa kabar?
Akhirnya mampir juga.” sapanya membuka obrolan.
“Owh..ternyata dia
masih mengingatku.” bisikku dalam batin.
“Iya mas, lagi ada
waktu luang aja. Kalau boleh tahu mengapa memakai baju adat Jawa Timur-an, mas?
Lengkap dengan blangkon pula.” selidikku ingin tahu dan mencoba akrab.
“Saya sedang belajar ndalang di belakang. Mau lihat?”
“Boleh.” ucapku dengan
bersemangat.
Tampak wayang-wayang
dari kulit sapi itu berjejer dengan rapi. Ada Semar, Gareng, Petruk dan juga Shinta.
“Hidup ini sangat
singkat. Dan kita layaknya wayang yang menuruti perintah skenario dari sang dalang
yakni Yang Maha Kuasa.” ucap Tito dengan tetap memandangi wayang-wayangnya
***
Di
hari-hari berikutnya mereka sering keluar bersama dan mengobrol hingga akhirnya
ada jalinan asmara diantara mereka. Nara sering menemani Tito saat men-dalang di berbagai pagelaran yang
diadakan.
Dalam
suatu pagelaran yang diadakan, tak mungkin Tito hanya berdiri sendiri. Dia pun
ditemani oleh sinden dan juga para pemain yang bertugas mengiringi jalannya
pewayangan dengan memainkan musik seperti gendang, gamelan dll.
Jika
diliat dari sorot mata pemain lainnya, tampak rasa tidak suka terhadap Nara.
Bisik-bisik tetangga yang didengar, semua itu dikarenakan kedekatannya dengan
Tito. Semua pemain tahu bahwa Nyari pesinden Tito sudah memendam rasa terhadap
ketuanya dari dulu. Hanya saja perasaan itu tak pernah bersambut. Nyari adalah
orang yang lembut dan cantik. Entah mengapa sampai sekarang Tito hanya
menganggap Nyari sebatas sindennya. Menurut pemain lainnya, Nyari adalah orang
yang pas untuk Tito bukan Nara yang baru sekitar 2 bulan dikenalnya.
***
Melihat
keakraban antara Tito dan Nara membuat Nyari sering menyembunyikan kesedihannya
hingga pada suatu kesempatan Nyari menemui Nara yang sedang pergi ke kamar
mandi.
“Nara. Apa kau tahu
bahwa aku begitu mencintai Bang Tito?” Nyari berusaha menceritakan perasaannya kepada
Tito melalui Nara.
“Ya, aku tahu. Tapi
maaf Nyari, Mas Tito lebih memilihku daripada kamu. Sebaiknya kamu melupakan
dia dan move on.” ucap Nara dengan
nada kurang menyenangkan kepada Nyari.
“Sudah dua tahun aku
memendam rasa padanya. Aku menunggu hingga sekarang. Aku lebih mengenalnya
daripada dirimu. Kau orang baru. Sebelum ada dirimu semuanya tampak baik-baik
saja. Aku tak rela jika Bang Tito harus bersamamu. Kau tak cocok bersamanya.
Akulah yang pantas untuknya. Dan jika aku tak dapat memilikinya, jangan harap
kau juga dapat memilikinya!” bentak Nyari dengan penuh amarah.
***
Suatu
malam, Tito mengajak Nara pergi ke pantai dengan alasan ingin menikmati
pemandangan bintang yang terhampar luas di langit. Padahal malam itu dia
memiliki janji dengan pemain lainnya untuk latihan karena Pagelaran Raya akan
diadakan 2 hari lagi.
“Bagaimana ini? Handphone-nya tidak aktif. Padahal kita
harus latihan. Dia kan ketua, kenapa malah sering ilang akhir-akhir ini?”
gerutu salah seorang pemain.
Mendengar
hal itu, Nyari curiga. Jangan-jangan mereka sedang pergi berdua. Meninggalkan
pemain, meninggalkan pagelaran yang akan diadakan 2 hari lagi. Nyari tampak
sedang berfikir kemana kira-kira mereka berdua pergi. Lalu, tiba-tiba Nyari
ingat sesuatu. Dia tahu kemana mereka berdua pergi. Secara diam-diam tanpa
berpamitan kepada pemain-pemain lainnya dia pun pergi menuju tempat yang
diperkirakannya itu.
Di
pantai, riak-riak ombak menyentuh pasir-pasir dengan riangnya. Sepi. Keduanya
sama-sama menikmati pamandangan pantai sampai akhirnya Nara membuka obrolan.
Dia masih penasaran dengan ucapan Nyari beberapa waktu lalu.
“Mas, sebenarnya apa
hubunganmu dengan Nyari?” tanyanya dengan penuh hati-hati.
“Mengapa tiba-tiba kau
ingin tahu itu? Tumben sekali. Aku tak ada hubungan apapun dengannya.” kilah
Tito menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Nara. Dia tak ingin merusak suasana
malam ini.
“Apa ada yang tidak ku
ketahui Mas?” Nara tetap bertanya.
Karena terus didesak,
akhirnya Tito pun menceritakan apa yang terjadi kepada Nara.
“Sebenarnya dulu aku
sempat memiliki hubungan dengannya jauh sebelum aku mendirikan padepokan ini. Sampai
akhirnya aku tahu dia selingkuh. Aku marah dan memutuskannya, tapi dia tak mau.
Dia tetap ingin kembali padaku sampai sekarang. Percayalah Nara, aku tak ada
hubungan apa-apa lagi dengan Nyari.” Tito berusaha menjelaskan agar Nara
mengerti.
Nara hanya terdiam
mendengar penjelasan dari Tito. Tak berapa lama Nara pun pamit untuk ke kamar
mandi. Dia ingin membasuh mukanya agar sedikit refresh.
“Mas, sebentar ya? Aku
ke belakang dulu.” pamit Nara pada Tito.
Setelah
selesai membasuh muka di kamar mandi, Nara pun kembali ke tempat dimana Tito
telah menunggunya. Akan tetapi betapa terkejutnya Nara melihat orang yang mencintainya
terbujur kaku dengan seutas tali di lehernya. Nara melihat sekeliling. Sekilas
ada sosok perempuan berambut panjang yang berlari ke arah semak-semak. Dari keperawakannya
sepertinya Nara mengenal sosok itu. Tapi buru-buru ditepisnya.
“Tak mungkin. Tak
mungkin dia pelakunya.” bisiknya dalam hati.
***
Keesokan
paginya kabar menyebar cepat. Nara pun digelandang ke kantor polisi. Semua prasangka
tertuju kepada Nara karena dialah subjek terakhir yang bertemu dengan korban.
Teman beserta keluarga korban menyangka Naralah pembunuh Tito karena semalam
mereka pergi berdua.
“Percayalah, Pak. Saya
tidak membunuh Mas Tito. Setelah dari kamar mandi saya menemukannya tak
bernyawa di pantai itu.” Nara berusaha meyakinkan polisi.
“Untuk mengusut kasus
ini, dimohon Anda tetap berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih
lanjut.” jelas Sukirman polisi yang bertugas menyelidiki kasus pembunuhan Tito.
Keterangan
dari saksi-saksi yang berada di pantai itu mengatakan bahwa benar korban
bersama tersangka malam itu. Nara pun membenarkannya. Karena panik, dia tak
sengaja memegang tubuh dan tali yang melilit di leher korban sehingga membuat
polisi dan keluarga korban yakin bahwa Nara adalah tersangka dari kasus ini
karena tak ditemukan sidik jari lain selain sidik jarinya. Keluarga menyangka
kalau Nara membunuh Tito karena menginginkan hartanya.
Nara yakin bahwa Nyarilah yang menjebaknya. Namun pembelaannya
tak berarti. Semua bukti dan saksi mengarah padanya. Semua disusun dengan rapi
oleh Nyari. Secuil kerajaan cinta yang sempat dibangunnya bersama Tito harus
berujung maut. Secuil cinta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar