Rabu, 08 Januari 2014

Kandasnya Secuil Cinta yang Dibangun


Aku terus memandangi kartu nama yang ada dihadapanku.
“Iya. Tidak. Iya. Tidak. Iya. Tidak. Ah…aku bingung.”
Sebelumnya aku tak pernah tahu kalau kita sama-sama berasal dari Jember. Secara kebetulan aku dan dia dipertemukan di Bali saat itu. Pertemuan yang tak disengaja saat menonton Pagelaran Wayang Rama dan Shinta 10 hari yang lalu masih saja membekas diingatanku. Laki-laki itu.
Dia yang memberikan kartu namanya padaku setelah aku tak sengaja menumpahkan minuman ke pakaiannya. Klasik. Perkenalan layaknya di sinetron saja. Tito Mahendra. Ketua dari Padepokan Maestro. Begitu yang tertera di dalam kartu nama ini.
***
Karena tak kuasa lagi, iseng-iseng akupun mengunjungi tempat Tito yang berada di kompleks perumahan Griya Mangli Jember. Terpampang papan nama besar bertuliskan “Padepokan Maestro” di depan pintu berukiran ular naga bercat kuning. Ku ketuk pintu secara berlahan.
“Cari siapa, mbak?” tanya perempuan muda dengan rambut dikepang dua.
“Mas Tito ada? Saya Nara.” ucapku memperkenalkan diri.
Setelah dipersilakan masuk aku pun duduk di ruang depan. Ruangan 4x6 m ini sebenarnya cukup luas untuk dijadikan ruang tamu. Banyak pernak-pernik yang menghiasi ruangan ini seperti guci-guci kecil dari Cina, kain-kain batik yang disusun menyerupai bentuk burung merak, manekin-manekin yang didandani ala pejuang-pejuang ’45 dan ada juga bendera merah putih yang diletakkan di sudut ruangan ini. Aku tampak kagum. Tak lama, Tito pun muncul dari pintu samping dengan pakaian adat Jawa.
“Eh, Nara. Apa kabar? Akhirnya mampir juga.” sapanya membuka obrolan.
“Owh..ternyata dia masih mengingatku.” bisikku dalam batin.
“Iya mas, lagi ada waktu luang aja. Kalau boleh tahu mengapa memakai baju adat Jawa Timur-an, mas? Lengkap dengan blangkon pula.” selidikku ingin tahu dan mencoba akrab.
“Saya sedang belajar ndalang di belakang. Mau lihat?”
“Boleh.” ucapku dengan bersemangat.
Tampak wayang-wayang dari kulit sapi itu berjejer dengan rapi. Ada Semar, Gareng, Petruk dan juga Shinta.

“Hidup ini sangat singkat. Dan kita layaknya wayang yang menuruti perintah skenario dari sang dalang yakni Yang Maha Kuasa.” ucap Tito dengan tetap memandangi wayang-wayangnya
***
Di hari-hari berikutnya mereka sering keluar bersama dan mengobrol hingga akhirnya ada jalinan asmara diantara mereka. Nara sering menemani Tito saat men-dalang di berbagai pagelaran yang diadakan.
Dalam suatu pagelaran yang diadakan, tak mungkin Tito hanya berdiri sendiri. Dia pun ditemani oleh sinden dan juga para pemain yang bertugas mengiringi jalannya pewayangan dengan memainkan musik seperti gendang, gamelan dll.
Jika diliat dari sorot mata pemain lainnya, tampak rasa tidak suka terhadap Nara. Bisik-bisik tetangga yang didengar, semua itu dikarenakan kedekatannya dengan Tito. Semua pemain tahu bahwa Nyari pesinden Tito sudah memendam rasa terhadap ketuanya dari dulu. Hanya saja perasaan itu tak pernah bersambut. Nyari adalah orang yang lembut dan cantik. Entah mengapa sampai sekarang Tito hanya menganggap Nyari sebatas sindennya. Menurut pemain lainnya, Nyari adalah orang yang pas untuk Tito bukan Nara yang baru sekitar 2 bulan dikenalnya.
***
Melihat keakraban antara Tito dan Nara membuat Nyari sering menyembunyikan kesedihannya hingga pada suatu kesempatan Nyari menemui Nara yang sedang pergi ke kamar mandi.
“Nara. Apa kau tahu bahwa aku begitu mencintai Bang Tito?” Nyari berusaha menceritakan perasaannya kepada Tito melalui Nara.
“Ya, aku tahu. Tapi maaf Nyari, Mas Tito lebih memilihku daripada kamu. Sebaiknya kamu melupakan dia dan move on.” ucap Nara dengan nada kurang menyenangkan kepada Nyari.
“Sudah dua tahun aku memendam rasa padanya. Aku menunggu hingga sekarang. Aku lebih mengenalnya daripada dirimu. Kau orang baru. Sebelum ada dirimu semuanya tampak baik-baik saja. Aku tak rela jika Bang Tito harus bersamamu. Kau tak cocok bersamanya. Akulah yang pantas untuknya. Dan jika aku tak dapat memilikinya, jangan harap kau juga dapat memilikinya!” bentak Nyari dengan penuh amarah.
***
Suatu malam, Tito mengajak Nara pergi ke pantai dengan alasan ingin menikmati pemandangan bintang yang terhampar luas di langit. Padahal malam itu dia memiliki janji dengan pemain lainnya untuk latihan karena Pagelaran Raya akan diadakan 2 hari lagi.
“Bagaimana ini? Handphone-nya tidak aktif. Padahal kita harus latihan. Dia kan ketua, kenapa malah sering ilang akhir-akhir ini?” gerutu salah seorang pemain.
Mendengar hal itu, Nyari curiga. Jangan-jangan mereka sedang pergi berdua. Meninggalkan pemain, meninggalkan pagelaran yang akan diadakan 2 hari lagi. Nyari tampak sedang berfikir kemana kira-kira mereka berdua pergi. Lalu, tiba-tiba Nyari ingat sesuatu. Dia tahu kemana mereka berdua pergi. Secara diam-diam tanpa berpamitan kepada pemain-pemain lainnya dia pun pergi menuju tempat yang diperkirakannya itu.
Di pantai, riak-riak ombak menyentuh pasir-pasir dengan riangnya. Sepi. Keduanya sama-sama menikmati pamandangan pantai sampai akhirnya Nara membuka obrolan. Dia masih penasaran dengan ucapan Nyari beberapa waktu lalu.
“Mas, sebenarnya apa hubunganmu dengan Nyari?” tanyanya dengan penuh hati-hati.
“Mengapa tiba-tiba kau ingin tahu itu? Tumben sekali. Aku tak ada hubungan apapun dengannya.” kilah Tito menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Nara. Dia tak ingin merusak suasana malam ini.
“Apa ada yang tidak ku ketahui Mas?” Nara tetap bertanya.
Karena terus didesak, akhirnya Tito pun menceritakan apa yang terjadi kepada Nara.
“Sebenarnya dulu aku sempat memiliki hubungan dengannya jauh sebelum aku mendirikan padepokan ini. Sampai akhirnya aku tahu dia selingkuh. Aku marah dan memutuskannya, tapi dia tak mau. Dia tetap ingin kembali padaku sampai sekarang. Percayalah Nara, aku tak ada hubungan apa-apa lagi dengan Nyari.” Tito berusaha menjelaskan agar Nara mengerti.
Nara hanya terdiam mendengar penjelasan dari Tito. Tak berapa lama Nara pun pamit untuk ke kamar mandi. Dia ingin membasuh mukanya agar sedikit refresh.
“Mas, sebentar ya? Aku ke belakang dulu.” pamit Nara pada Tito.
Setelah selesai membasuh muka di kamar mandi, Nara pun kembali ke tempat dimana Tito telah menunggunya. Akan tetapi betapa terkejutnya Nara melihat orang yang mencintainya terbujur kaku dengan seutas tali di lehernya. Nara melihat sekeliling. Sekilas ada sosok perempuan berambut panjang yang berlari ke arah semak-semak. Dari keperawakannya sepertinya Nara mengenal sosok itu. Tapi buru-buru ditepisnya.
“Tak mungkin. Tak mungkin dia pelakunya.” bisiknya dalam hati.
***
Keesokan paginya kabar menyebar cepat. Nara pun digelandang ke kantor polisi. Semua prasangka tertuju kepada Nara karena dialah subjek terakhir yang bertemu dengan korban. Teman beserta keluarga korban menyangka Naralah pembunuh Tito karena semalam mereka pergi berdua.
“Percayalah, Pak. Saya tidak membunuh Mas Tito. Setelah dari kamar mandi saya menemukannya tak bernyawa di pantai itu.” Nara berusaha meyakinkan polisi.
“Untuk mengusut kasus ini, dimohon Anda tetap berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.” jelas Sukirman polisi yang bertugas menyelidiki kasus pembunuhan Tito.
Keterangan dari saksi-saksi yang berada di pantai itu mengatakan bahwa benar korban bersama tersangka malam itu. Nara pun membenarkannya. Karena panik, dia tak sengaja memegang tubuh dan tali yang melilit di leher korban sehingga membuat polisi dan keluarga korban yakin bahwa Nara adalah tersangka dari kasus ini karena tak ditemukan sidik jari lain selain sidik jarinya. Keluarga menyangka kalau Nara membunuh Tito karena menginginkan hartanya.
            Nara yakin bahwa Nyarilah yang menjebaknya. Namun pembelaannya tak berarti. Semua bukti dan saksi mengarah padanya. Semua disusun dengan rapi oleh Nyari. Secuil kerajaan cinta yang sempat dibangunnya bersama Tito harus berujung maut. Secuil cinta.

Tidak ada komentar: