Pelayanan
Penuh Pertimbangan
“Kesenjangan yang terjadi antara
pasien berduit dengan pasien pengguna kartu tidak mampu.”
Kudengar
saat itu wabah demam berdarah mulai memasuki kawasan kecamatan Sumbersari
tempatku tinggal. Semua warga diperingatkan untuk lebih menjaga kebersihan
lingkungan agar tidak ada genangan air yang dijadikan tempat berkembangbiak
nyamuk malaria tersebut. Kerja bakti membersihkan lingkungan pun dilakukan demi
mencegah adanya penyakit.
Namun
musibah tak dapat terelakkan dan masih membayang diingatan sampai saat ini.
Musibah ini terjadi sekitar 8 tahun yang lalu. Saat itu adikku, Ryan, masih
duduk di Sekolah Dasar. Pagi itu suhu tubuh Ryan mulai panas. Sampai selang
beberapa hari panas juga tak kunjung turun. Karena takut terkena wabah demam
berdarah yang sedang terjadi, orang tuaku segera membawa Ryan ke puskesmas
terdekat.
Melihat
kondisinya yang semakin memburuk akhirnya Ryan harus rawat inap beberapa hari
di puskesmas. Rawat inap harus dilakukan karena ketidakmauannya untuk menyentuh
makanan. Kondisi yang lemas membuat pihak puskesmas segera menyuntikkan infus
ke tangannya sebagai ‘pengganti makan’. Beberapa hari berlangsung namun belum
juga ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kondisi Ryan akan berangsur membaik.
Pernah suatu malam suhu badannya semakin naik dan pihak puskesmas hanya bisa
membantu dengan alat seadanya karena keterbatasan alat yang dimiliki. Pihak
puskesmas pun akhirnya angkat tangan dan menyarankan agar Ryan dibawa ke rumah
sakit negeri di daerahku.
Mau
tak mau, Ryan pun segera dipindahkan ke rumah sakit yang dirujuk. Sesampainya
disana, ruang anak-anak ternyata full.
Tak ada tempat untuknya. Sedang kondisinya sudah semakin lemah. Perawat yang
bertugas menyarankan agar Ryan ditempatkan di ruang lantai 1 karena ruang
anak-anak sudah tidak dapat menampung. Ruang yang berada di lantai 1 adalah
ruang penyakit dalam dan dikhususkan untuk dewasa. Orang tuaku sempat menolak
dengan alasan bahwa kondisi Ryan yang sudah parah jangan dicampurkan dengan
orang-orang dewasa yang memiliki penyakit dalam. Ditakutkan kondisinya semakin
memburuk. Pihak rumah sakit berupaya untuk menyarikan tempat diruang anak-anak.
Akhirnya
Ryan mendapatkan satu tempat. Satu tempat tidur dengan ukuran yang kecil jika
dibandingkan dengan tubuhnya yang besar. Pilihan itu terpaksa diambil mengingat
Ryan harus segera mendapat penanganan. Kulihat kakinya sedikit ditekuk untuk
menyesuaikan dengan tempat tidurnya yang kecil itu. Mungkin ada perasaan tak
nyaman, tapi tak ada yang bisa dilakukan. Ruangan itu penuh sesak dengan
anak-anak yang sedang terbaring sakit. Tak bisa menyalahkan keadaan. Namun
tetap tak tega melihatnya tak mendapat fasilitas yang cukup baik.
Untuk
mendapatkan tempat tidur yang dianggap layak, setidaknya tidak seperti ini yang
kecil dan sedikit melengkung yang dapat membuat punggung orang yang tidur
diatasnya akan merasa sakit, keluargaku diminta untuk menungggu hingga ada
pasien yang dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit. “Kasurnya gantian
ya, Buk.” ucap salah seorang perawat yang sedang magang tersebut dengan lembut
seolah mengetahui keinginan kami untuk mendapatkan tempat tidur yang lain yang
lebih baik. Dengan kondisi yang demikian mau tak mau keluargaku pun harus
menerimanya. Keterbatasan ruangan dan tempat tidur membuat keluargaku harus
lebih bersabar lagi menerima kondisi ini.
Akhirnya
selang beberapa hari ada seorang pasien yang sudah diperbolehkan pulang. Tanpa
menunggu lama Ryan pun langsung dipindahkan ke tempat tidur yang ditinggalkan
itu. Tempatnya lebih besar jika dibandingkan dengan sebelumnya. Setidaknya Ryan
tak perlu menekuk kakinya lagi.
Karena
kurangnya jumlah dokter yang ada di rumah sakit tersebut, pemeriksaan atau
pengecekan pasien tidak dilakukan setiap hari. Hanya pada hari-hari tertentu
saja. Semisal dua kali seminggu. Pada waktu itu, dokter akan datang memeriksa
setiap hari Senin dan Kamis pagi. Entah memang karena jadwalnya demikian
ataukah karena jumlah dokter yang ada terbatas sehingga pengecekan terhadap
pasien hanya terjadi 2x dalam seminggu.
Selama
berada di rumah sakit, setiap saat ada saja perawat yang bertugas mengecek
kondisi Ryan. Bukankah memang seperti itulah tugas perawat, yang namanya
perawat tugasnya ya merawat. Yang dirawat siapa, ya pasien yang sedang sakit. Karena
sakit Ryan yang tak kunjung sembuh, orang tuaku sering menanyakan perkembangan
kondisinya kepada perawat yang bertugas mengeceknya.
Sebagai
orang tua menurutku wajar jika menanyakan perkembangan kondisi anaknya kepada
perawat yang bertugas. Akan tetapi perawat yang bertugas tak semuanya baik dan
ramah. Ada salah satu perawat yang terlihat tidak becus dalam menjalankan tugasnya. Saat orang tuaku menanyakan
perkembangan Ryan dia malah sewot
dengan mengatakan, “Apalagi, Buuuk…!” dengan wajahnya yang tampak tidak ramah
dan marah.
Sikap
yang berbeda ditunjukkan oleh perawat yang sedang melakukan magang di rumah
sakit tersebut. Perawat magang itu malah lebih dapat bersikap manis dan santun.
Perawat tersebut mencoba menenangkan orang tuaku dengan menasihatinya untuk
bersabar dan meyakinkan bahwa tak lama lagi Ryan akan sembuh dan segera dapat
pulang kerumah.
Sebenarnya
orang tuaku sempat tersinggung dengan perlakuan perawat tetap yang bersikap
kasar itu. Bagaimana tidak, sebagai orang tua yang anaknya sedang dalam masa
penyembuhan hal itu wajar dilakukan untuk mengetahui bagaimana perkembangan kondisi
anaknya. Karena sudah beberapa kali dokter yang menangani berjanji bahwa besok
Ryan akan segera pulang. Nyatanya janji itu tinggallah janji karena melihat
kondisi Ryan yang sering tak stabil. Dengan tidak stabilnya kondisi Ryan, orang
tuaku sering menanyakan perkembangannya pada perawat tetap yang bertugas
mengeceknya, namun perkataan kasar itulah yang harus diterimanya.
Sebagai
perawat tak seharusnya dia bersikap demikian. Bukankah perawat seharusnya
melayani pasien dengan baik dan tidak berkata kasar kepada pihak keluarga
pasien? Entah perawat tersebut terlalu capek karena banyak urusan yang harus
diselesaikan ataukah memang karena perawat tersebut mengetahui keluargaku
menggunakan kartu tidak mampu. Gosip yang beredar pada waktu itu mengatakan
bahwa adanya gap (kesenjangan) antara
pasien pemilik ‘kartu tidak mampu’ dengan pasien yang memang mampu membayar
biaya rumah sakit 100%. Kepada keluarga yang tergolong mampu, perawat akan bersikap
manis, penuh perhatian dan selalu menanyakan
kabar pasien. Berbeda halnya dengan pasien yang berasal dari keluarga yang
tidak mampu dan lebih memilih menggunakan ‘kartu tidak mampu’ dalam
pengobatannya.
Kesenjangan
dari segi pelayanan nyatanya masih saja terjadi dan harus dirasakan oleh
keluargaku. Tak pelak, antrian dalam pengambilan obat membuat semuanya terasa
lengkap. Karena loket yang tersedia hanya satu maka sering kali saat proses
pembelian dan pengambilan obat membutuhkan waktu yang cukup lama. Orang tuaku
pernah mengurusi pembelian obat tersebut dari jam 8 pagi sampai dengan jam 2
siang. Padahal obat tersebut harus diminum 3x sehari. Antrian yang panjang dan
mengular sudah menjadi pandangan yang biasa tiap kali membeli obat.
Apakah
memang seperti ini kondisi pelayanan kesehatan yang ada dirumah sakit negeri.
Masih banyak yang harus ditambal sulam dalam pelayanannya dalam melayani
masyarakat. Penting rasanya jika rumah sakit dapat membenahi dirinya baik dalam
fasilitas fisik seperti penambahan luas ruangan untuk anak-anak dan juga
penambahan loket pengambilan obat. Selain itu dari segi pelayanan baik rasanya
jika perawat yang ada dapat bersikap lebih perhatian kepada pasiennya. Selain
itu dokter yang tersedia haruslah ditambah agar pelayanan yang diberikan dapat
lebih optimal.
www.blogfpkr.wordpress.com;

Tidak ada komentar:
Posting Komentar