Rabu, 11 Desember 2013

Pelayanan Penuh Pertimbangan

Pelayanan Penuh Pertimbangan
“Kesenjangan yang terjadi antara pasien berduit dengan pasien pengguna kartu tidak mampu.”
Kudengar saat itu wabah demam berdarah mulai memasuki kawasan kecamatan Sumbersari tempatku tinggal. Semua warga diperingatkan untuk lebih menjaga kebersihan lingkungan agar tidak ada genangan air yang dijadikan tempat berkembangbiak nyamuk malaria tersebut. Kerja bakti membersihkan lingkungan pun dilakukan demi mencegah adanya penyakit.
Namun musibah tak dapat terelakkan dan masih membayang diingatan sampai saat ini. Musibah ini terjadi sekitar 8 tahun yang lalu. Saat itu adikku, Ryan, masih duduk di Sekolah Dasar. Pagi itu suhu tubuh Ryan mulai panas. Sampai selang beberapa hari panas juga tak kunjung turun. Karena takut terkena wabah demam berdarah yang sedang terjadi, orang tuaku segera membawa Ryan ke puskesmas terdekat.
Melihat kondisinya yang semakin memburuk akhirnya Ryan harus rawat inap beberapa hari di puskesmas. Rawat inap harus dilakukan karena ketidakmauannya untuk menyentuh makanan. Kondisi yang lemas membuat pihak puskesmas segera menyuntikkan infus ke tangannya sebagai ‘pengganti makan’. Beberapa hari berlangsung namun belum juga ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kondisi Ryan akan berangsur membaik. Pernah suatu malam suhu badannya semakin naik dan pihak puskesmas hanya bisa membantu dengan alat seadanya karena keterbatasan alat yang dimiliki. Pihak puskesmas pun akhirnya angkat tangan dan menyarankan agar Ryan dibawa ke rumah sakit negeri di daerahku.
Mau tak mau, Ryan pun segera dipindahkan ke rumah sakit yang dirujuk. Sesampainya disana, ruang anak-anak ternyata full. Tak ada tempat untuknya. Sedang kondisinya sudah semakin lemah. Perawat yang bertugas menyarankan agar Ryan ditempatkan di ruang lantai 1 karena ruang anak-anak sudah tidak dapat menampung. Ruang yang berada di lantai 1 adalah ruang penyakit dalam dan dikhususkan untuk dewasa. Orang tuaku sempat menolak dengan alasan bahwa kondisi Ryan yang sudah parah jangan dicampurkan dengan orang-orang dewasa yang memiliki penyakit dalam. Ditakutkan kondisinya semakin memburuk. Pihak rumah sakit berupaya untuk menyarikan tempat diruang anak-anak.
Akhirnya Ryan mendapatkan satu tempat. Satu tempat tidur dengan ukuran yang kecil jika dibandingkan dengan tubuhnya yang besar. Pilihan itu terpaksa diambil mengingat Ryan harus segera mendapat penanganan. Kulihat kakinya sedikit ditekuk untuk menyesuaikan dengan tempat tidurnya yang kecil itu. Mungkin ada perasaan tak nyaman, tapi tak ada yang bisa dilakukan. Ruangan itu penuh sesak dengan anak-anak yang sedang terbaring sakit. Tak bisa menyalahkan keadaan. Namun tetap tak tega melihatnya tak mendapat fasilitas yang cukup baik.
Untuk mendapatkan tempat tidur yang dianggap layak, setidaknya tidak seperti ini yang kecil dan sedikit melengkung yang dapat membuat punggung orang yang tidur diatasnya akan merasa sakit, keluargaku diminta untuk menungggu hingga ada pasien yang dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit. “Kasurnya gantian ya, Buk.” ucap salah seorang perawat yang sedang magang tersebut dengan lembut seolah mengetahui keinginan kami untuk mendapatkan tempat tidur yang lain yang lebih baik. Dengan kondisi yang demikian mau tak mau keluargaku pun harus menerimanya. Keterbatasan ruangan dan tempat tidur membuat keluargaku harus lebih bersabar lagi menerima kondisi ini.
Akhirnya selang beberapa hari ada seorang pasien yang sudah diperbolehkan pulang. Tanpa menunggu lama Ryan pun langsung dipindahkan ke tempat tidur yang ditinggalkan itu. Tempatnya lebih besar jika dibandingkan dengan sebelumnya. Setidaknya Ryan tak perlu menekuk kakinya lagi.
Karena kurangnya jumlah dokter yang ada di rumah sakit tersebut, pemeriksaan atau pengecekan pasien tidak dilakukan setiap hari. Hanya pada hari-hari tertentu saja. Semisal dua kali seminggu. Pada waktu itu, dokter akan datang memeriksa setiap hari Senin dan Kamis pagi. Entah memang karena jadwalnya demikian ataukah karena jumlah dokter yang ada terbatas sehingga pengecekan terhadap pasien hanya terjadi 2x dalam seminggu.
Selama berada di rumah sakit, setiap saat ada saja perawat yang bertugas mengecek kondisi Ryan. Bukankah memang seperti itulah tugas perawat, yang namanya perawat tugasnya ya merawat. Yang dirawat siapa, ya pasien yang sedang sakit. Karena sakit Ryan yang tak kunjung sembuh, orang tuaku sering menanyakan perkembangan kondisinya kepada perawat yang bertugas mengeceknya.
Sebagai orang tua menurutku wajar jika menanyakan perkembangan kondisi anaknya kepada perawat yang bertugas. Akan tetapi perawat yang bertugas tak semuanya baik dan ramah. Ada salah satu perawat yang terlihat tidak becus dalam menjalankan tugasnya. Saat orang tuaku menanyakan perkembangan Ryan dia malah sewot dengan mengatakan, “Apalagi, Buuuk…!” dengan wajahnya yang tampak tidak ramah dan marah.
Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh perawat yang sedang melakukan magang di rumah sakit tersebut. Perawat magang itu malah lebih dapat bersikap manis dan santun. Perawat tersebut mencoba menenangkan orang tuaku dengan menasihatinya untuk bersabar dan meyakinkan bahwa tak lama lagi Ryan akan sembuh dan segera dapat pulang kerumah.
Sebenarnya orang tuaku sempat tersinggung dengan perlakuan perawat tetap yang bersikap kasar itu. Bagaimana tidak, sebagai orang tua yang anaknya sedang dalam masa penyembuhan hal itu wajar dilakukan untuk mengetahui bagaimana perkembangan kondisi anaknya. Karena sudah beberapa kali dokter yang menangani berjanji bahwa besok Ryan akan segera pulang. Nyatanya janji itu tinggallah janji karena melihat kondisi Ryan yang sering tak stabil. Dengan tidak stabilnya kondisi Ryan, orang tuaku sering menanyakan perkembangannya pada perawat tetap yang bertugas mengeceknya, namun perkataan kasar itulah yang harus diterimanya.
Sebagai perawat tak seharusnya dia bersikap demikian. Bukankah perawat seharusnya melayani pasien dengan baik dan tidak berkata kasar kepada pihak keluarga pasien? Entah perawat tersebut terlalu capek karena banyak urusan yang harus diselesaikan ataukah memang karena perawat tersebut mengetahui keluargaku menggunakan kartu tidak mampu. Gosip yang beredar pada waktu itu mengatakan bahwa adanya gap (kesenjangan) antara pasien pemilik ‘kartu tidak mampu’ dengan pasien yang memang mampu membayar biaya rumah sakit 100%. Kepada keluarga yang tergolong mampu, perawat akan bersikap manis, penuh perhatian  dan selalu menanyakan kabar pasien. Berbeda halnya dengan pasien yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dan lebih memilih menggunakan ‘kartu tidak mampu’ dalam pengobatannya.
Kesenjangan dari segi pelayanan nyatanya masih saja terjadi dan harus dirasakan oleh keluargaku. Tak pelak, antrian dalam pengambilan obat membuat semuanya terasa lengkap. Karena loket yang tersedia hanya satu maka sering kali saat proses pembelian dan pengambilan obat membutuhkan waktu yang cukup lama. Orang tuaku pernah mengurusi pembelian obat tersebut dari jam 8 pagi sampai dengan jam 2 siang. Padahal obat tersebut harus diminum 3x sehari. Antrian yang panjang dan mengular sudah menjadi pandangan yang biasa tiap kali membeli obat.
Apakah memang seperti ini kondisi pelayanan kesehatan yang ada dirumah sakit negeri. Masih banyak yang harus ditambal sulam dalam pelayanannya dalam melayani masyarakat. Penting rasanya jika rumah sakit dapat membenahi dirinya baik dalam fasilitas fisik seperti penambahan luas ruangan untuk anak-anak dan juga penambahan loket pengambilan obat. Selain itu dari segi pelayanan baik rasanya jika perawat yang ada dapat bersikap lebih perhatian kepada pasiennya. Selain itu dokter yang tersedia haruslah ditambah agar pelayanan yang diberikan dapat lebih optimal.


www.blogfpkr.wordpress.com;

Tidak ada komentar: