Kamis, 09 Januari 2014

Tempatku Berpijak

Terlalu naïf jika ku katakan aku tak pernah merasakan kemerdekaan
Tak perlu lagi bambu runcing sebagai bentuk perlawanan bangsa
Tak ada lagi karung goni yang dijadikan pelindung tubuh
Cucuran dan pertumpahan darah telah usai
Riak-riak semangat masih ku dengar untuk dilantunkan
Kesetaraan masih terus dan tetap diperjuangkan
Terlalu naïf jika ku bilang negaraku tak lagi berkuasa
Aku masih punya ribuan pulau atas nama negaraku, Indonesia
Masih ada ratusan suku dan bahasa yang dapat disatukan atas nama Bahasa Indonesia

Mama


Mama…
Namamu ku sebut dalam sanubariku
Dalam detik hening nafas yang berhembus
Dalam lampion-lampion kasih sayang baktiku padamu
Mama…
Ku tahu peluh yang menyelimuti setiap harimu
Demi pendidikan di masa depanku
Terproyeksikan jelas dalam keringatmu

MASUKNYA ‘KUDA TROYA’ DALAM PERUSAHAAN


Ketika Odysseus memimpin tentara Yunani menggunakan sebuah kuda kayu raksasa yang kemudian dikenal dengan sebutan Kuda Troya, adalah cara yang digunakan untuk bisa masuk ke kota bangsa Troy, musuhnya, tanpa perlawanan. Cara ini dipilih untuk kemudian dapat menghancurkan bangsa Troy dari dalam. Strategi yang sama digunakan di dunia bisnis global saat ini. Bedanya, sang Kuda Troya saat ini menyerupa sistem buruh dan outsourcing yang masuk ke pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan dunia maju maupun berkembang dan disambut dengan meriah. Pastinya oleh pengusaha, tapi juga oleh buruh yang mengira itu adalah proses yang biasa dalam bisnis.

Yang Ku Kenal


Maya adalah gadis kembang desa yang banyak disorot oleh kaum adam di desanya. Tak hanya wajahnya yang putih dan mulus, tingkah laku dan sopan santunnya bisa diacungi jempol. Rambutnya hitam dan tergerai sebahu. Selepas SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Maya mulai bekerja di sebuah KUD (Koperasi Unit Desa) di dekat desanya. Ia biasa melayani pelanggan yang datang untuk membeli ATK (Alat Tulis Kantor) atau pun untuk sekedar fotokopi. Waktunya dihabiskan di KUD sampai sore menjelang.
Suatu hari ada pemuda bernama Sugi yang datang untuk membeli sesuatu. Sugi bekerja di salah satu pabrik yang letaknya tak jauh dari tempat Maya bekerja. Sugi masih baru beberapa bulan menginjakkan  kakinya di tempat ini.
“Mbak, beli kertas A4 dan bolpoin ya?” ucap Sugi
Maya pun menoleh ke arah asal suara. Sambil tersenyum ia pun segera mengambil barang yang dipesan oleh Sugi.
“Ya ampun..siapa gadis ini? Rambutnya..tergerai indah. Cantik.” batin Sugi