Hewan kesayanganku
berhidung pesek yang bernama Pooh, lagi-lagi membuat ulah. Seperti yang
sudah-sudah dia adalah tipikal hewan pencemburu dan butuh belaian alias sangat
ingin diperhatikan.
Setiap hari Minggu,
di alun-alun kota Jember ada beberapa komunitas yang selalu ingin eksis. Dari
komunitas kucing sampai pada komunitas musang. Dan inilah yang dinanti.
Setiap hari Pooh
selalu dirumah. Meski kami pernah mengajaknya “berlebaran” di Banyuwangi tahun
lalu. Selain sungai yang ada diperumahan depan dan berkeliaran di lahan depan
rumah, selebihnya dia selalu tinggal di kandang teras rumah.
Karena merasa
kasihan, ayah dan aku berinisiatif untuk mengikutkan Pooh ke komunitas musang
yang ada di alun-alun. Tujuannya hanya satu, agar Pooh memiliki teman
sejenisnya. Selama ini yang menjadi temannya selalu manusia dan Unyil si kucing
mungil yang juga salah satu hewan piaraan dirumahku.
Karena Pooh yang
sekarang sudah beranjak dewasa, dia sedikit susah dikendalikan. Senangnya
berlari dan main kucing-kucingan dengan ayah. Untuk bisa membawanya ke
alun-alun, keranjang kecilnya tahun lalu sudah tidak muat, terpaksa ayah
memakaikan kalung pada lehernya dan menggendongnya naik sepeda motor, sedang
aku yang menyetir.
Sebenarnya perjalanan
dari rumah ke alun-alun tidaklah begitu jauh. Hanya sekitar 15 menit saja.
Namun, karena Pooh heboh saat dibonceng, alhasil 15 menit itu serasa sejam.
Ndak nyampek-nyampek.
Dengan susah payah
aku, ayah dan Pooh akhirnya sampai di alun-alun. Pooh langsung turun dari
sepeda dan mulai mengendus-endus. Dia butuh waktu untuk bisa cepat beradaptasi.
Ayah menggiring Pooh
untuk dekat dengan komunitas. Awalnya tampak baik-baik saja. Ayah mencoba
mengenalkan Pooh dengan berang-berang lain dan musang yang ada di komunitas
tersebut. Seakan gayung tersambut, lalu kemudian. . .
“Pak, dia masih ori ya giginya?” tanya
salah seorang anggota komunitas yang juga memiliki berang-berang berusia
setahun lebih kepada ayah.
“Iya, masih ori semuanya.” jawab ayah.
“Dikasih makan apa, Pak?” Pria bertopi
itu kembali bertanya dengan wajah curiga melihat gerak-gerik Pooh yang mulai
mendekati berang-berang miliknya.
“Lele mentah. Kalau mateng ‘kan buat
orangnya.” jawab ayah dengan nada guyon.
Seakan tahu dengan gelagat tidak baik
Pooh, pria tersebut langsung menjauhkan berang-berangnya dari Pooh.
“Takut, Pak. Kalau gigit bisa ancur
berang-berang saya.” jelas pria trsebut kepada ayah.
Pooh tidak peduli,
dia terus saja mengejar berang-berang dari pria tersebut. Awalnya ayah kira
Pooh tertarik berteman dengan berang-berang itu, tapi lama kelamaan setelah
diamati, itu bukan gerak-gerik bercanda layaknya Pooh dengan Unyil saat
dirumah. Pooh semakin agresif. Dia mulai mendekati semua berang-berang dan
musang lainnya yang ada disekitarnya. Tapi tidak ada yang mau mendekatkan hewan
miliknya dengan Pooh. Seakan bisa memahami apa yang akan dilakukan Pooh pada
hewan kesayangan mereka.
“Pooh, ndak boleh
nakal!” ancam ayah dengan nada marah sembari jari telunjuk diarahkan ke wajah
Pooh sebelum kehilangan kendali karena kalung leher Pooh mulai lepas.
Aku dan ayah mulai
heboh. Khawatir Pooh akan lari dan sulit dikendalikan. Untung ada tali cadangan,
pikirku. Kami memang sengaja membawa dua tali karena Pooh selalu banyak akal,
pernah suatu ketika tali yang sudah dipasangkan ke lehernya terlepas begitu
saja. Entah bagaimana caranya melepaskan. Pernah juga Pooh mematahkan pengikat
kalungnya yang terbuat dari besi dengan giginya. Hmm… silakan membayangkannya
sendiri.
Kalung cadangan sudah
dikeluarkan ayah dari saku, namun ada satu kendala. Bagaimana cara
memasangkannya? Jika sudah seagresif ini tingkahnya, sangat sulit memasangkan
kalung pada lehernya. Kalung yang pertama, terlepas hingga ke perut. Entahlah.
Aku yang bertugas
memasangkan kalung pada leher Pooh sedang ayah yang mengecohnya dengan
mengajaknya bercanda. Tapi Pooh tak menggubris. Dia tetap asyik dengan dunianya
sendiri. Aku dan ayah kelimpungan.
Aku memerhatikan
mulut Pooh terbuka dan mengeluarkan liur. Pertanda dia sedang buas atau
kehausan.
“Yah, Pooh kok kayak gitu? Haus paling
yah.” kataku pada ayah sembari menyodorkan air dalam botol yang sudah
kupersiapkan dari rumah.
“Ndak usah. Dia ndak haus.” jawab
ayah.
Setelah beberapa
lama, keadaan tidak berubah dan tali kedua belumlah terpasang. Komunitas sedang
asyik dengan dunia mereka sendiri dan tidak ada yang membantu kami. Aku sedikit
kecewa dengan hal ini. Aku dan ayah berjuang sendirian menangani Pooh yang
semakin tak terkontrol.
Akhirnya ayah
memberinya minum. Air yang mengalir dari botol hanya dibuat mainan oleh Pooh.
Kali ini ayah benar, Pooh tidak haus. Lalu kami mencoba memberinya lele
kesukaannya yang kami bawa dari rumah. Badan lele itu pun hanya ‘nyantol’
dimulut. Pooh membawanya kemana-mana.
“Kamu ndak lapar ya,Pooh? Pengen apa?”
kata ayah seakan-akan Pooh dapat menjawabnya.
“Eh, kamu ndak boleh nakal.. Kalau
Pooh nakal, gak aku ajak kesini lagi loh.” tambahnya.
Yang diajak bicara
tak bergeming. Hanya berjalan memutari ayah sambil menggigit lele yang ada
dimulutnya, tanpa dikunyah.
Kulihat hape,
menunjukkan pukul setengah 10. Ini adalah waktunya Pooh untuk tidur. Pantas
saja dia ngambek. Ternyata waktu tidurnya berkurang untuk bisa datang kesini.
“Yah, sekarang jam setengah 10. Ini
kan waktunya Pooh bobok.” ucapku pada ayah.
“Oh.. pantesan. Pooh mau pulang? Ngantuk
ya? Ayo pulang.. kalau mau pulang, dipasang dulu talinya.” kata ayah pada Pooh.
Seakan paham dengan
ucapan ayah, lele yang sedari tadi dia gigit dilepasnya. Dia mulai
merengek-rengek di kaki ayah sambil menggosok-gosokkan badannya. Dia mulai
manja.
Selang beberapa lama
setelah berulang-ulang gagal memasangkan tali dilehernya, Pooh pun bisa
dikendalikan. Dilehernya ada 2 tali dan dibadannya ada 1 tali. Entahlah, yang
penting tali terpasang dan harapan bisa membawanya pulang ada di depan mata.
Hehe
Sebelum pulang, lagi
dan lagi Pooh berulah. Dia mendekati semua berang-berang yang ada disana seakan
untuk memberi tahu “Awas, saya mau lewat!” Tanpa dikomando, semuanya minggir.
Selain merasa waktu
istirahatnya berkurang karena datang ke tempat ini, Pooh juga cemburu karena
perhatian orang-orang yang datang tidak hanya untuknya, tidak seperti saat dia
main disungai bersama teman-temannya yang hanya memperhatikannya dan
mengajaknya bermain balap lari. Anggap saja, disini dia tidak ada “nomornya”.
Pooh menatap
berang-berang yang ada diseberangnya, berang-berang tersebut dikerumuni banyak
orang dan tidak sedikit yang mengelusnya. Berbeda sekali dengan dirinya yang
hanya ditemani oleh ayah dan aku. Dengan cepat Pooh langsung buang muka dan mulai
menempel dikaki ayah dengan suaranya yang khas. Pertanda manjanya kumat.
Perjalanan pulangpun
tak berlangsung mulus. Entah karena bosan atau tak tahan dengan teriknya
matahari, Pooh beberapa kali ingin turun dari sepeda. Ayah akan memarahinya
setiap kali dia mulai berontak.
“Pooh, ndak boleh nakal!” sembari
telunjuknya dihadapkan ke wajah Pooh.
Hanya ayah yang bisa membuat Pooh
menurut. Sesampainya dirumah, tali tak dilepas. Pooh langsung dimasukkan ke
kandang. Lele yang sudah disiapkan tak digubrisnya. Dia langsung menuju ‘gombal’
yang menjadi selimutnya dan mulai menyembunyikan badannya. Tak lama, dia pun
tertidur. J
Lagi-lagi, Pooh.. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar