Kamis, 02 April 2015

Lagi-lagi, Pooh


Hewan kesayanganku berhidung pesek yang bernama Pooh, lagi-lagi membuat ulah. Seperti yang sudah-sudah dia adalah tipikal hewan pencemburu dan butuh belaian alias sangat ingin diperhatikan.
Setiap hari Minggu, di alun-alun kota Jember ada beberapa komunitas yang selalu ingin eksis. Dari komunitas kucing sampai pada komunitas musang. Dan inilah yang dinanti.
Setiap hari Pooh selalu dirumah. Meski kami pernah mengajaknya “berlebaran” di Banyuwangi tahun lalu. Selain sungai yang ada diperumahan depan dan berkeliaran di lahan depan rumah, selebihnya dia selalu tinggal di kandang teras rumah.
Karena merasa kasihan, ayah dan aku berinisiatif untuk mengikutkan Pooh ke komunitas musang yang ada di alun-alun. Tujuannya hanya satu, agar Pooh memiliki teman sejenisnya. Selama ini yang menjadi temannya selalu manusia dan Unyil si kucing mungil yang juga salah satu hewan piaraan dirumahku.

Karena Pooh yang sekarang sudah beranjak dewasa, dia sedikit susah dikendalikan. Senangnya berlari dan main kucing-kucingan dengan ayah. Untuk bisa membawanya ke alun-alun, keranjang kecilnya tahun lalu sudah tidak muat, terpaksa ayah memakaikan kalung pada lehernya dan menggendongnya naik sepeda motor, sedang aku yang menyetir.
Sebenarnya perjalanan dari rumah ke alun-alun tidaklah begitu jauh. Hanya sekitar 15 menit saja. Namun, karena Pooh heboh saat dibonceng, alhasil 15 menit itu serasa sejam. Ndak nyampek-nyampek.
Dengan susah payah aku, ayah dan Pooh akhirnya sampai di alun-alun. Pooh langsung turun dari sepeda dan mulai mengendus-endus. Dia butuh waktu untuk bisa cepat beradaptasi.
Ayah menggiring Pooh untuk dekat dengan komunitas. Awalnya tampak baik-baik saja. Ayah mencoba mengenalkan Pooh dengan berang-berang lain dan musang yang ada di komunitas tersebut. Seakan gayung tersambut, lalu kemudian. . .
“Pak, dia masih ori ya giginya?” tanya salah seorang anggota komunitas yang juga memiliki berang-berang berusia setahun lebih kepada ayah.
“Iya, masih ori semuanya.” jawab ayah.
“Dikasih makan apa, Pak?” Pria bertopi itu kembali bertanya dengan wajah curiga melihat gerak-gerik Pooh yang mulai mendekati berang-berang miliknya.
“Lele mentah. Kalau mateng ‘kan buat orangnya.” jawab ayah dengan nada guyon.
Seakan tahu dengan gelagat tidak baik Pooh, pria tersebut langsung menjauhkan berang-berangnya dari Pooh.
“Takut, Pak. Kalau gigit bisa ancur berang-berang saya.” jelas pria trsebut kepada ayah.
Pooh tidak peduli, dia terus saja mengejar berang-berang dari pria tersebut. Awalnya ayah kira Pooh tertarik berteman dengan berang-berang itu, tapi lama kelamaan setelah diamati, itu bukan gerak-gerik bercanda layaknya Pooh dengan Unyil saat dirumah. Pooh semakin agresif. Dia mulai mendekati semua berang-berang dan musang lainnya yang ada disekitarnya. Tapi tidak ada yang mau mendekatkan hewan miliknya dengan Pooh. Seakan bisa memahami apa yang akan dilakukan Pooh pada hewan kesayangan mereka.
“Pooh, ndak boleh nakal!” ancam ayah dengan nada marah sembari jari telunjuk diarahkan ke wajah Pooh sebelum kehilangan kendali karena kalung leher Pooh mulai lepas.
Aku dan ayah mulai heboh. Khawatir Pooh akan lari dan sulit dikendalikan. Untung ada tali cadangan, pikirku. Kami memang sengaja membawa dua tali karena Pooh selalu banyak akal, pernah suatu ketika tali yang sudah dipasangkan ke lehernya terlepas begitu saja. Entah bagaimana caranya melepaskan. Pernah juga Pooh mematahkan pengikat kalungnya yang terbuat dari besi dengan giginya. Hmm… silakan membayangkannya sendiri.
Kalung cadangan sudah dikeluarkan ayah dari saku, namun ada satu kendala. Bagaimana cara memasangkannya? Jika sudah seagresif ini tingkahnya, sangat sulit memasangkan kalung pada lehernya. Kalung yang pertama, terlepas hingga ke perut. Entahlah.
Aku yang bertugas memasangkan kalung pada leher Pooh sedang ayah yang mengecohnya dengan mengajaknya bercanda. Tapi Pooh tak menggubris. Dia tetap asyik dengan dunianya sendiri. Aku dan ayah kelimpungan.
Aku memerhatikan mulut Pooh terbuka dan mengeluarkan liur. Pertanda dia sedang buas atau kehausan.
“Yah, Pooh kok kayak gitu? Haus paling yah.” kataku pada ayah sembari menyodorkan air dalam botol yang sudah kupersiapkan dari rumah.
“Ndak usah. Dia ndak haus.” jawab ayah.
Setelah beberapa lama, keadaan tidak berubah dan tali kedua belumlah terpasang. Komunitas sedang asyik dengan dunia mereka sendiri dan tidak ada yang membantu kami. Aku sedikit kecewa dengan hal ini. Aku dan ayah berjuang sendirian menangani Pooh yang semakin tak terkontrol.
Akhirnya ayah memberinya minum. Air yang mengalir dari botol hanya dibuat mainan oleh Pooh. Kali ini ayah benar, Pooh tidak haus. Lalu kami mencoba memberinya lele kesukaannya yang kami bawa dari rumah. Badan lele itu pun hanya ‘nyantol’ dimulut. Pooh membawanya kemana-mana.
“Kamu ndak lapar ya,Pooh? Pengen apa?” kata ayah seakan-akan Pooh dapat menjawabnya.
“Eh, kamu ndak boleh nakal.. Kalau Pooh nakal, gak aku ajak kesini lagi loh.” tambahnya.
Yang diajak bicara tak bergeming. Hanya berjalan memutari ayah sambil menggigit lele yang ada dimulutnya, tanpa dikunyah.
Kulihat hape, menunjukkan pukul setengah 10. Ini adalah waktunya Pooh untuk tidur. Pantas saja dia ngambek. Ternyata waktu tidurnya berkurang untuk bisa datang kesini.
“Yah, sekarang jam setengah 10. Ini kan waktunya Pooh bobok.” ucapku pada ayah.
“Oh.. pantesan. Pooh mau pulang? Ngantuk ya? Ayo pulang.. kalau mau pulang, dipasang dulu talinya.” kata ayah pada Pooh.
Seakan paham dengan ucapan ayah, lele yang sedari tadi dia gigit dilepasnya. Dia mulai merengek-rengek di kaki ayah sambil menggosok-gosokkan badannya. Dia mulai manja.
Selang beberapa lama setelah berulang-ulang gagal memasangkan tali dilehernya, Pooh pun bisa dikendalikan. Dilehernya ada 2 tali dan dibadannya ada 1 tali. Entahlah, yang penting tali terpasang dan harapan bisa membawanya pulang ada di depan mata. Hehe
Sebelum pulang, lagi dan lagi Pooh berulah. Dia mendekati semua berang-berang yang ada disana seakan untuk memberi tahu “Awas, saya mau lewat!” Tanpa dikomando, semuanya minggir.
Selain merasa waktu istirahatnya berkurang karena datang ke tempat ini, Pooh juga cemburu karena perhatian orang-orang yang datang tidak hanya untuknya, tidak seperti saat dia main disungai bersama teman-temannya yang hanya memperhatikannya dan mengajaknya bermain balap lari. Anggap saja, disini dia tidak ada “nomornya”.
Pooh menatap berang-berang yang ada diseberangnya, berang-berang tersebut dikerumuni banyak orang dan tidak sedikit yang mengelusnya. Berbeda sekali dengan dirinya yang hanya ditemani oleh ayah dan aku. Dengan cepat Pooh langsung buang muka dan mulai menempel dikaki ayah dengan suaranya yang khas. Pertanda manjanya kumat.
Perjalanan pulangpun tak berlangsung mulus. Entah karena bosan atau tak tahan dengan teriknya matahari, Pooh beberapa kali ingin turun dari sepeda. Ayah akan memarahinya setiap kali dia mulai berontak.
“Pooh, ndak boleh nakal!” sembari telunjuknya dihadapkan ke wajah Pooh.
Hanya ayah yang bisa membuat Pooh menurut. Sesampainya dirumah, tali tak dilepas. Pooh langsung dimasukkan ke kandang. Lele yang sudah disiapkan tak digubrisnya. Dia langsung menuju ‘gombal’ yang menjadi selimutnya dan mulai menyembunyikan badannya. Tak lama, dia pun tertidur. J

Lagi-lagi, Pooh.. J

Tidak ada komentar: