Kamis, 02 April 2015

Si Lincah dan Berisik Pooh


Anda tahu hewan berang-berang? Hewan sejenis musang yang mirip dengan platypus, berbulu coklat dan senang hidup bergerombol di sungai untuk mencari ikan atau yuyu (kepiting sungai). Nah, saya memiliki 1 ekor dirumah. Penasaran dengan keseharian tingkahnya? Jangan khawatir, jika Anda tidak bisa melihat kesehariannya di alam liar, maka disini saya akan menceritakan keseharian dan tingkah lucu dari hewan berhidung pesek ini, Pooh nama berang-berang saya.

Berang-berang termasuk hewan yang hidup berkelompok. Karena tidak memiliki ruang atau lahan yang cukup dirumah dan tidak pula berniat beternak, maka cukuplah 1 ekor saja yang dipelihara dirumah. Ternyata, keputusan untuk memelihara 1 ekor berang-berang ini cukup tepat. Bukan karena susu formulanya yang mahal ataupun harga lele yang tak kunjung turun, melainkan hewan yang satu ini sangatlah berisik. Kamu mungkin bisa membayangkan, hewan yang bersuara menyerupai suara burung ini, “ciiaatt…..ciiiaaatttt…”-nya bisa terdengar hingga pos kampling yang jaraknya sekitar 60 meter dari tempat saya tinggal. Hmm…


Setiap bulannya, Pak RT selalu memberikan jadwal jaga bergantian pada warganya. Dan, dapat ditebak, setiap kali ayah kebagian jaga Pooh selalu ikut menemani. Saat ayah datang menghampiri kandang, Pooh langsung berteriak-teriak kegirangan, seakan tahu kalau ayah akan mengajaknya untuk jaga malam di pos. Setelah tali dikalungkan, Pooh langsung berlari ke arah pagar, kembali ke ayah, ke pagar lagi, lalu ke ayah lagi. Yah begitulah Pooh. Dan tak jarang dia keluar pagar mendahului ayah, jika dilihatnya ayah tidak bergegas pergi.
Sesampainya di pos, saat ayah dan yang lain sedang berbincang-bincang, Pooh tak kehilangan akal. Dia tetap dengan dunianya, yaitu bermain. Benda apa saja yang ada disekelilingnya dia gunakan untuk bermain. Pernah sekali waktu, Pooh bermain dengan sandal Pak RT, alhasil, sandal Pak RT berlubang-lubang tak karuan. Melihat hal tersebut, ayah langsung minta maaf ke Pak RT dan Pooh pun dimarahi. Seakan paham jika dimarahi ayah, Pooh diam tak bergerak, hanya bola matanya saja yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Wajahnya yang longor, semakin longor saja. Lucu. Hehehe ^_^
Ayah seringkali mengajak Pooh dalam berbagai kegiatannya. Pernah waktu itu ayah sedang memperbaiki salah satu sepeda motor yang ada dirumah. Pooh dilepas berkeliaran di teras rumah, tetap tak pernah jauh dari jangkauan ayah. Maklum, Pooh “anak ayah” banget.hehe.. :D Namanya memperbaiki sepeda motor, pastilah ada obeng dan perkakas. Ayah tetap fokus dengan tidak mengalihkan pandangannya. Merasa tidak diperhatikan, Pooh berulah. Pooh langsung masuk ke bawah dengklek (tempat duduk kecil dalam bahasa Jawa) yang sedang diduduki ayah, lalu memasukkan tangannya ke dengklek yang tengahnya berlubang hingga… Ups. Tebak sendiri apa yang terjadi. Saking kagetnya, ayah langsung loncat dan mengejar Pooh. Horee… Pooh pun akhirnya mendapatkan perhatian ayah. :D
Sore hari waktunya kita berkebuuun. ^_^ Sepetak tanah di depan rumah sudah saatnya dibersihkan. Sampah, rumput dan ranting-ranting yang kering dikumpulkan. Pooh yang sudah 2 hari berada dikandang, sekarang dilepas. Tali akan dikalungkan, tapi bukan Pooh kalau tidak membuat heboh. Dia berontak dan lari. Seakan mengajak ayah bermain kucing-kucingan. Ayah kewalahan. Hingga akhirnya ayah hanya berdiri dan diam melihat tingkahnya. Seakan tahu dengan hal tersebut, tiba-tiba Pooh datang menghampiri. Dan tidak butuh waktu lama, tali pun dikalungkan. Ayah berniat mengajaknya untuk membakar ranting-ranting, tapi yang terjadi Pooh terus-menerus berlari mengelilingi pekarangan. Dia terus berlari sambil sekali-kali berhenti untuk mengendus-endus. Barulah sekitar 15 menit kemudian Pooh dapat dikendalikan. Apa karena dia tidak memiliki pusar, makanya tidak punya rasa capek? Ayah sering kali memberitahuku kalau hewan yang tidak punya pusar itu tidak memiliki rasa capek. Dan kini, saya melihatnya sendiri, Pooh bukanlah hewan yang mudah untuk lelah. Saat kamu bergurau dengannya, maka bisa dipastikan kamulah yang lebih dulu mengangkat bendera putih alias menyerah.hehe...
Pooh sangat suka sekali dengan lele. Pooh dapat menghabiskan setengah kilogram lele dalam 3 hari. Setelah lele dicuci bersih, siaplah Pooh untuk makan. “Pooh..” ayah memanggilnya dari balik pintu. Karena sudah hafal dengan suara ayah, Pooh pun membalasnya dengan lengkingannya yang keras. Dia terus berteriak sembari berlari ke sisi kanan dan kiri kandang. Begitu seterusnya. Dia akan terus berteriak sampai menemukan sosok ayah keluar dari balik pintu. Dan jika ayah sudah keluar, jangan harap dia dapat diam. Suaranya akan berubah menjadi erangan berat, terlebih jika dia melihat lele yang dibawa oleh ayah. Pokoknya, berisik sekali.
Saat lele sudah dimasukkan dalam kandang, dia akan langsung merebutnya dan menghadapkan pantatnya ke arah ayah. Seakan berkata, “Ini punyaku, jangan minta!” Yah, mungkin seperti itu maksudnya. J
Dalam satu hari, hanya antara jam 09.00-11.00 pagi saja, kamu tidak akan mendengarnya “berkicau” karena pada jam tersebutlah waktunya Pooh tidur. Setelah mendapatkan sarapannya, dia akan bermain sebentar, lalu terlelap. “Ssstttt….Pooh lagi tidur, jangan berisik,” bisik ayah pada semua orang yang ada dirumah sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Hmm.. Kenapa Pooh serasa istimewa sekali ya, sampai-sampai tidurnya pun jangan sampai ada yang mengganggu, pikirku.
Karena Pooh senang bermain, ayah menyiapkan pipa paralon di dalam kandang untuk tempatnya bersembunyi. Semakin hari, panjang pipa paralon berkurang dan tiap ujung-ujungnya ada bekas gigitan. Karena takut pecahan-pecahan pipa akan menyumbati saluran air yang ada dibawahnya, akhirnya ayah mengganti pipa paralon dengan botol plastik air mineral. Dan…taarrrraa..!! Dia semakin menggila. Botol tak lagi berbentuk. Penyok di sana-sini. Jika suasana mulai sepi dan dia merasa sendiri, Pooh akan menarik perhatian dengan menggigit botol plastik tersebut lalu menggesek-gesekkannya ke teralis kandangnya hingga membuat bunyi gaduh dan berisik. Saya sempat penasaran dengan bagaimana caranya melakukan hal tersebut. Diam-diam, pintu saya buka sedikit. Dari celah pintu saya melihat Pooh sedang menggigit botol kesayangannya dengan posisi berdiri, sembari tangannya memegang teralis kandang agar tidak terjatuh. Untuk membuat bunyi yang gaduh tersebut, Pooh tidak perlu beranjak. Cukup menggigit botol dengan gigi-giginya yang tajam dan memutar-mutar kepalanya ke teralis kandang. Begitu seterusnya sampai dia mulai bosan.

Saat dia sedang mencari perhatian seperti itu, saya berusaha agar keberadaan saya di balik pintu tidak diketahuinya. Jika Pooh tahu, dia akan semakin berteriak dan terus berteriak bermaksud agar saya mau mendekati kandangnya dan menggaruk-garukkan punggungnya sembari terus menemaninya agar dia tidak merasa kesepian lagi. Jika saya sudah berniat masuk ke dalam rumah, Pooh akan terus berteriak dan berdiri dengan tangannya memegang teralis kandang. “Jangan tinggalin aku” wajahnya yang imut seakan menjadi memelas. Namun saya tetap saja melangkahkan kaki dan menutup pintu. Mengetahui pintu ditutup, Pooh akan jungkir balik, salto, gulung-gulung dan mengeluarkan suara yang keras pertanda dia sedang marah. Begitulah Pooh-ku. Menyenangkan sekali, bukan? Saya tidak pernah merasa kesepian saat berada dirumah karena ada Pooh si hdung pesek dan bermulut lebar yang selalu mewarnai hariku. Lain waktu saya akan lebih banyak lagi menceritakan tentang dirinya. Bye. J

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Wah ceritanya menarik sekali mb.. kalau umur 2bln udh bisa makan ikan blm ya?