Anda tahu hewan berang-berang? Hewan
sejenis musang yang mirip dengan platypus, berbulu coklat dan senang hidup
bergerombol di sungai untuk mencari ikan atau yuyu (kepiting sungai). Nah, saya
memiliki 1 ekor dirumah. Penasaran dengan keseharian tingkahnya? Jangan
khawatir, jika Anda tidak bisa melihat kesehariannya di alam liar, maka disini
saya akan menceritakan keseharian dan tingkah lucu dari hewan berhidung pesek
ini, Pooh nama berang-berang saya.
Berang-berang termasuk hewan yang hidup berkelompok.
Karena tidak memiliki ruang atau lahan yang cukup dirumah dan tidak pula
berniat beternak, maka cukuplah 1 ekor saja yang dipelihara dirumah. Ternyata,
keputusan untuk memelihara 1 ekor berang-berang ini cukup tepat. Bukan karena
susu formulanya yang mahal ataupun harga lele yang tak kunjung turun, melainkan
hewan yang satu ini sangatlah berisik. Kamu mungkin bisa membayangkan, hewan
yang bersuara menyerupai suara burung ini, “ciiaatt…..ciiiaaatttt…”-nya bisa terdengar
hingga pos kampling yang jaraknya sekitar 60 meter dari tempat saya tinggal.
Hmm…
Setiap bulannya, Pak RT selalu
memberikan jadwal jaga bergantian pada warganya. Dan, dapat ditebak, setiap
kali ayah kebagian jaga Pooh selalu ikut menemani. Saat ayah datang menghampiri
kandang, Pooh langsung berteriak-teriak kegirangan, seakan tahu kalau ayah akan
mengajaknya untuk jaga malam di pos. Setelah tali dikalungkan, Pooh langsung
berlari ke arah pagar, kembali ke ayah, ke pagar lagi, lalu ke ayah lagi. Yah
begitulah Pooh. Dan tak jarang dia keluar pagar mendahului ayah, jika dilihatnya
ayah tidak bergegas pergi.
Sesampainya di pos, saat ayah dan yang
lain sedang berbincang-bincang, Pooh tak kehilangan akal. Dia tetap dengan
dunianya, yaitu bermain. Benda apa saja yang ada disekelilingnya dia gunakan
untuk bermain. Pernah sekali waktu, Pooh bermain dengan sandal Pak RT, alhasil,
sandal Pak RT berlubang-lubang tak karuan. Melihat hal tersebut, ayah langsung
minta maaf ke Pak RT dan Pooh pun dimarahi. Seakan paham jika dimarahi ayah,
Pooh diam tak bergerak, hanya bola matanya saja yang bergerak ke kanan dan ke
kiri. Wajahnya yang longor, semakin longor saja. Lucu. Hehehe ^_^
Ayah seringkali mengajak Pooh dalam berbagai
kegiatannya. Pernah waktu itu ayah sedang memperbaiki salah satu sepeda motor
yang ada dirumah. Pooh dilepas berkeliaran di teras rumah, tetap tak pernah
jauh dari jangkauan ayah. Maklum, Pooh “anak ayah” banget.hehe.. :D Namanya
memperbaiki sepeda motor, pastilah ada obeng dan perkakas. Ayah tetap fokus
dengan tidak mengalihkan pandangannya. Merasa tidak diperhatikan, Pooh berulah.
Pooh langsung masuk ke bawah dengklek
(tempat duduk kecil dalam bahasa Jawa) yang sedang diduduki ayah, lalu memasukkan
tangannya ke dengklek yang tengahnya
berlubang hingga… Ups. Tebak sendiri apa yang terjadi. Saking kagetnya, ayah
langsung loncat dan mengejar Pooh. Horee… Pooh pun akhirnya mendapatkan
perhatian ayah. :D
Sore hari waktunya kita berkebuuun. ^_^
Sepetak tanah di depan rumah sudah saatnya dibersihkan. Sampah, rumput dan
ranting-ranting yang kering dikumpulkan. Pooh yang sudah 2 hari berada
dikandang, sekarang dilepas. Tali akan dikalungkan, tapi bukan Pooh kalau tidak
membuat heboh. Dia berontak dan lari. Seakan mengajak ayah bermain
kucing-kucingan. Ayah kewalahan. Hingga akhirnya ayah hanya berdiri dan diam
melihat tingkahnya. Seakan tahu dengan hal tersebut, tiba-tiba Pooh datang
menghampiri. Dan tidak butuh waktu lama, tali pun dikalungkan. Ayah berniat
mengajaknya untuk membakar ranting-ranting, tapi yang terjadi Pooh terus-menerus
berlari mengelilingi pekarangan. Dia terus berlari sambil sekali-kali berhenti
untuk mengendus-endus. Barulah sekitar 15 menit kemudian Pooh dapat
dikendalikan. Apa karena dia tidak memiliki pusar, makanya tidak punya rasa
capek? Ayah sering kali memberitahuku kalau hewan yang tidak punya pusar itu tidak
memiliki rasa capek. Dan kini, saya melihatnya sendiri, Pooh bukanlah hewan
yang mudah untuk lelah. Saat kamu bergurau dengannya, maka bisa dipastikan
kamulah yang lebih dulu mengangkat bendera putih alias menyerah.hehe...
Pooh sangat suka sekali dengan lele.
Pooh dapat menghabiskan setengah kilogram lele dalam 3 hari. Setelah lele
dicuci bersih, siaplah Pooh untuk makan. “Pooh..” ayah memanggilnya dari balik
pintu. Karena sudah hafal dengan suara ayah, Pooh pun membalasnya dengan
lengkingannya yang keras. Dia terus berteriak sembari berlari ke sisi kanan dan
kiri kandang. Begitu seterusnya. Dia akan terus berteriak sampai menemukan
sosok ayah keluar dari balik pintu. Dan jika ayah sudah keluar, jangan harap
dia dapat diam. Suaranya akan berubah menjadi erangan berat, terlebih jika dia
melihat lele yang dibawa oleh ayah. Pokoknya, berisik sekali.
Saat lele sudah dimasukkan dalam
kandang, dia akan langsung merebutnya dan menghadapkan pantatnya ke arah ayah.
Seakan berkata, “Ini punyaku, jangan minta!” Yah, mungkin seperti itu
maksudnya. J
Dalam satu hari, hanya antara jam 09.00-11.00
pagi saja, kamu tidak akan mendengarnya “berkicau” karena pada jam tersebutlah
waktunya Pooh tidur. Setelah mendapatkan sarapannya, dia akan bermain sebentar,
lalu terlelap. “Ssstttt….Pooh lagi tidur, jangan berisik,” bisik ayah pada
semua orang yang ada dirumah sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir.
Hmm.. Kenapa Pooh serasa istimewa sekali ya, sampai-sampai tidurnya pun jangan
sampai ada yang mengganggu, pikirku.
Karena Pooh senang bermain, ayah
menyiapkan pipa paralon di dalam kandang untuk tempatnya bersembunyi. Semakin
hari, panjang pipa paralon berkurang dan tiap ujung-ujungnya ada bekas gigitan.
Karena takut pecahan-pecahan pipa akan menyumbati saluran air yang ada
dibawahnya, akhirnya ayah mengganti pipa paralon dengan botol plastik air
mineral. Dan…taarrrraa..!! Dia semakin menggila. Botol tak lagi berbentuk.
Penyok di sana-sini. Jika suasana mulai sepi dan dia merasa sendiri, Pooh akan
menarik perhatian dengan menggigit botol plastik tersebut lalu
menggesek-gesekkannya ke teralis kandangnya hingga membuat bunyi gaduh dan
berisik. Saya sempat penasaran dengan bagaimana caranya melakukan hal tersebut.
Diam-diam, pintu saya buka sedikit. Dari celah pintu saya melihat Pooh sedang
menggigit botol kesayangannya dengan posisi berdiri, sembari tangannya memegang
teralis kandang agar tidak terjatuh. Untuk membuat bunyi yang gaduh tersebut,
Pooh tidak perlu beranjak. Cukup menggigit botol dengan gigi-giginya yang tajam
dan memutar-mutar kepalanya ke teralis kandang. Begitu seterusnya sampai dia
mulai bosan.
Saat dia sedang mencari perhatian
seperti itu, saya berusaha agar keberadaan saya di balik pintu tidak
diketahuinya. Jika Pooh tahu, dia akan semakin berteriak dan terus berteriak
bermaksud agar saya mau mendekati kandangnya dan menggaruk-garukkan punggungnya
sembari terus menemaninya agar dia tidak merasa kesepian lagi. Jika saya sudah
berniat masuk ke dalam rumah, Pooh akan terus berteriak dan berdiri dengan
tangannya memegang teralis kandang. “Jangan tinggalin aku” wajahnya yang imut
seakan menjadi memelas. Namun saya tetap saja melangkahkan kaki dan menutup
pintu. Mengetahui pintu ditutup, Pooh akan jungkir balik, salto, gulung-gulung
dan mengeluarkan suara yang keras pertanda dia sedang marah. Begitulah Pooh-ku.
Menyenangkan sekali, bukan? Saya tidak pernah merasa kesepian saat berada
dirumah karena ada Pooh si hdung pesek dan bermulut lebar yang selalu mewarnai
hariku. Lain waktu saya akan lebih banyak lagi menceritakan tentang dirinya.
Bye. J


1 komentar:
Wah ceritanya menarik sekali mb.. kalau umur 2bln udh bisa makan ikan blm ya?
Posting Komentar