Pernah membayangkan gak, apa yang akan kamu lalui kelak? Hal
ini benar-benar tidak pernah terbesit dalam hati. Memang benar, jangan terlena
dengan hal-hal menarik yang membawamu berada di zona nyaman. Terkadang ada pula
orang yang merasa nyaman dengan apa yang dimiliki dan dilakukan sekarang hingga
akhirnya dia lupa untuk beranjak. Segala sesuatu tentunya akan membuatmu nyaman,
akan tetapi kamu lupa bahwa diluar sana ada hal-hal menarik lainnya yang akan
membawamu berada di zona nyaman berikutnya.
Sabtu, 06 September 2014
Senin, 14 Juli 2014
About Pooh and Friends
Dia bernama Pooh. Pooh Naenggolan. Aku membelinya
sekitar 4 bulan lalu di pasar burung Jaya seharga Rp. 275.000. Pada waktu itu
Pooh masihlah kecil jika dibandingkan dengan tubuhnya yang montok seperti
sekarang. Dengan mata masih belum bisa melek
dan kepala yang tampak lebih besar dibanding dengan tubuhnya, ku bawa dia
pulang ke rumah dengan menggunakan tas kertas. Baunya khas. Entahlah, aku tak
dapat menjelaskan seperti apa baunya saat itu. Yang pasti, menusuk hidung dan
membuat kepalaku pusing. Tapi dia lucu. Itu yang membuatku rela untuk
membelinya. ^_^
Sekarang Pooh sudah besar. Makannya lele dan minumnya
susu. Selain itu Pooh sekarang sudah punya banyak fans. Yah, sebut saja begitu. Semenjak dia bisa berlari dan berenang,
ayah sering kali mengajaknya ke sungai untuk bermain air atau mencari yuyu
(kepiting kecil yang ada disungai). Dan dari sanalah, cerita Pooh dan
“teman-temannya” bermula.
Minggu, 08 Juni 2014
Kemanakah Kau Sebenarnya Kemerdekaanku?
“Kata
orang kita telah merdeka. Tapi merdeka untuk siapa? Sudah meratakah kemerdekaan
itu? Ataukah hanya kemerdekaan untuk sebagian yang lain dan tak sepenuhnya”
Sudah hampir 69 tahun
Indonesia merdeka. Mencoba keluar dari kebelengguan setelah sekian ratus tahun
harus merasakan tekanan dibawah kuasa penjajah. Senasib sepenanggungan. Mungkin
begitu awal negaraku ini dibentuk. Lantas, proklamasi telah usai dikumandangkan
lalu benarkah semua rakyat benar-benar merasakan kemerdekaannya? Ataukah hanya “perpindahan
tangan” penguasa saja?
Paksa
Paksa datang. Begitu saja. Tak ada
angin, tak ada hujan, Paksa datang dan memaksaku untuk menerimanya sebagai
teman. Dia memaksa dan mengancamku untuk menurutinya. Semua kemauannya. Tanpa
harus ada pembelaan diri.
Aku dan Paksa bertemu di toilet sekolah
taman kanak-kanak. Dia menyeretku dengan ancaman. Tak ada perlawanan dari
tubuhku yang masih kecil saat itu. Terlalu dini bagiku untuk mengenalnya lebih
jauh. Tapi apa daya, itulah awal kali aku bertemu dengan Paksa.
Langganan:
Postingan (Atom)