Reinkarnasi
Lina
Lina seorang gadis mungil yang
sangat menyayangi anjingnya. Dia merasa anjing ataupun hewan lainnya memiliki
rasa layaknya manusia. Dia merasa bahwa hewan juga butuh hidup dan diperlakukan
dengan baik. Hewan juga butuh kasih sayang dari majikannya.
Lina melihat ada sekerumunan orang
yang sedang mengadu anjing pada sebuah lorong gang yang remang. Hal yang sudah
biasa dilakukan oleh warga setempat untuk memperoleh uang tambahan.
Hal ini
dilakukan karena uang dari aduan anjing bisa dibilang menggiurkan.
Lina terenyuh melihat kejadian itu.
Ia tak biasa melihat aduan anjing. Baginya tak ada hewan yang mau untuk diadu.
Manusia tak seharusnya bersikap demikian. Hal yang tak biasa dilihatnya.
Lina mencoba menghentikan kegiatan
yag menurutnya tak biasa itu. Perlakuan kejam pun harus diterimanya. Sambil
terus mencaci maki, orang-orang yang berbadan kekar itupun segera menyeretnya agar
menjauh dari kerumunan dan melemparkannya ke depan gang.
Dilihatnya dari tempat dia berdiri,
darah yang berkucur dari wajah anjing yang sedang beradu itu. Rasa kasian
menyeruap. Anjing itu lambat laun mulai terkapar. Tampak pemiliknya kecewa dan
marah. Uang tak berhasil dia dapatkan sedang anjing yang sudah dilatihnya harus
terkapar dan berdarah.
“Dasar anjing bodoh tak berguna.”
Pemiliknya membopong anjing yang
terluka itu dan mulai menjauh dari kerumunan. Entah apa yang terjadi dengan
anjing itu, Lina pun tak berani menduga. Ia tak diperbolehkan mendekati
kerumunan. Hanya iba yang di dapat. Sambil menahan kesedihan Lina pun
meninggalkan kerumunan meski sesekali menoleh kebelakang.
Tak kuasa dengan apa yang dilihatnya
tadi. Sesampainya dirumah ia hanya bisa menangis sesenggukan di dalam kamarnya.
Sendirian. Ia dapat merasakan apa yang anjing itu rasakan. Bukankah anjing itu juga
punya rasa layaknya manusia.
Melihat kesedihan majikannya, Doggy
langsung menghampiri Lina. Doggy dipelihara oleh Lina sejak 2 tahun yang lalu
saat dia tak sengaja menemukannya di lorong sebuah gang yang gelap dan kotor.
Saat itu Doggy menggonggong lemah sambil terus mengikutinya. Tampaknya dia
kedinginan. Diraih dan dipeluknya anjing mungil itu lalu dibawanya pulang untuk
dimandikan dan diberinya makan. Sejak itu Doggy menjadi teman setianya.
Malam itu Doggy berada disamping Lina
yang berlinang air mata. Melihat kesetiaannya itu, Lina pun memeluknya hingga
malam semakin larut dan mereka kemudian terlelap bersama.
Pagi menjelang, mata Lina terbuka
dan menatap ke langit-langit rumah. Meneropong jauh ke dalam sebuah masa.
Anjing berbulu coklat muda dengan seorang majikan yang mengenakan celana jins
berwarna biru luntur sedang bermain bersama disebuah pekarangan rumah. Tampak
kedekatan dan jalinan antara keduanya.
Anjing muda ini berjenis kelamin
betina. Majikannya sudah merawatnya sejak setahun yang lalu.
“Aku beruntung karena mendapat
majikan yang begitu menyayangiku.” batin si anjing.
Sebelumnya aku berada di dalam
lingkungan yang orang-orangnya sangat kejam. Mereka hanya tahu bahwa anjing
akan menghasilkan uang dengan cara mengikutkannya di dalam sebuah lomba. Uang
yang nantinya di dapat akan digunakan untuk membeli minuman keras ataupun
berpesta. Anjing hanyalah dijadikan alat baginya.
“Kali ini kau harus menang!”
Sambil melemparkanku di dalam
sebuah arena pertarungan. Dihadapanku tampak seekor anjing besar yang beringas.
Rahangnya yang kuat berlumuran air liur. Pertarungan dimulai dan kurasakan
gigitan keras dileherku. Aku membalas tapi tak dapat mengenainya. Beberapa
cakaran pun sempat mampir diwajahku. Gigitan-gigitan itu datang bertubi-tubi
mengenai wajah dan tubuhku. Aku mulai lelah dan tak dapat bertahan. Aku
merasakan susahnya bernafas dan pudarnya pandanganku. Hingga akhirnya…bruk! Aku
pun terjatuh. Masih kurasakan gigitan dan serangan itu meski aku tak dapat
menggerakkan semua badanku. Majikanku mulai mendekatiku. Ditariknya anjing yang
menggigitku. Pertarunngan usai.
Majikanku menggendongku menuju
sebuah tempat lalu melemparkanku pada sebuah lorong yang gelap. “Pergi dan
matilah kau, dasar anjing tak berguna!” Hujan mengguyur dan kurasakan darah
yang mengalir. Hingga keesokan harinya dengan badan yang tak berdaya dan perut
yang kelaparan. Seseorang menemukan dan membawaku pergi jauh dari tempat yang
mengerikan itu.
Aku tak paham. Yang aku tahu saat
mulai membuka mata, aku berada di dalam suatu ruangan dengan tanganku yang
terbalut perban. Semua terasa berbeda dengan yang kurasakan dulu. Makanan pun
sudah disediakannya disampingku. Kulihat sosok itu, menyuruhku makan. Dengan
rasa was-was dan takut, aku hanya menatap menatap yang ada disampingku. Majikan
terdahuluku tak pernah memberikanku makan sebelum melalui proses olahraga untuk
menyiapkanku bertarung. Jika ku ingin makan, semua olahraga yang sudah
disiapkan harus dilaluiku terlebih dahulu. Ketakutanku akan hal itu masih ada
sampai sekarang.
Majikan baruku ini sangat lembut,
dia mengelusku dan menyuruhku untuk makan. “Mungkin kau malu karena
kehadiranku. Baiklah aku akan pergi sejenak agar kau mau menghabiskan
makananmu.” Ia pun keluar. Melihat tak ada lagi yang melihat, dengan lahap aku
mulai menyantap makanan yang ada disampingku sedari tadi.
Tak beberapa lama, ia kembali.
Ia..orang yang memakai celana jins dengan warna biru luntur itu menjadi majikan
baruku. Mengajakku bermain di pekarangan setiap pagi dan sore hari. Awalnya
sedikit sulit bagiku, bermain bola dengan keadaan tanganku yang masih terbalut
perban.
Kuingat hal itu. Betapa baiknya
majikan baruku ini. Ia tak pernah memperlakukanku secara kasar. Tak juga ia
terlambat memberiku makan. Tidak sepertiku dahulu, ketika awal ku dilahirkan
sebagai manusia. Aku begitu senang menyakiti anjingku dan sering kali
mengurungnya tanpa memberinya makan.
Ini, sekarang, disini, dilahirkan
kembali sebagai seorang Lina yang baru. Lina yang dulu, ada pada posisi anjing
itu kini menyadari kesalahannya. Reinkarnasi ini memberikan kesempatan hidup
untuk kedua kalinya yang lebih baik. Doggy..anjing kedua yang pernah Lina
miliki, tak akan pernah disiakan lagi. Tak pernah dia menginginkan untuk
melalui reinkarnasi kembali menjadi seekor anjing sebagai ‘penyadar’ agar
tingkah lakunya menjadi lebih baik di kehidupan mendatang. Reinkarnasi yang
pernah dilaluinya sudah cukup membuatnya membuka mata.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar