Rabu, 04 Desember 2013

Reinkarnasi Lina



Reinkarnasi Lina




Lina seorang gadis mungil yang sangat menyayangi anjingnya. Dia merasa anjing ataupun hewan lainnya memiliki rasa layaknya manusia. Dia merasa bahwa hewan juga butuh hidup dan diperlakukan dengan baik. Hewan juga butuh kasih sayang dari majikannya.

Lina melihat ada sekerumunan orang yang sedang mengadu anjing pada sebuah lorong gang yang remang. Hal yang sudah biasa dilakukan oleh warga setempat untuk memperoleh uang tambahan.
Hal ini dilakukan karena uang dari aduan anjing bisa dibilang menggiurkan.

Lina terenyuh melihat kejadian itu. Ia tak biasa melihat aduan anjing. Baginya tak ada hewan yang mau untuk diadu. Manusia tak seharusnya bersikap demikian. Hal yang tak biasa dilihatnya.
Lina mencoba menghentikan kegiatan yag menurutnya tak biasa itu. Perlakuan kejam pun harus diterimanya. Sambil terus mencaci maki, orang-orang yang berbadan kekar itupun segera menyeretnya agar menjauh dari kerumunan dan melemparkannya ke depan gang.
Dilihatnya dari tempat dia berdiri, darah yang berkucur dari wajah anjing yang sedang beradu itu. Rasa kasian menyeruap. Anjing itu lambat laun mulai terkapar. Tampak pemiliknya kecewa dan marah. Uang tak berhasil dia dapatkan sedang anjing yang sudah dilatihnya harus terkapar dan berdarah.
“Dasar anjing bodoh tak berguna.”
Pemiliknya membopong anjing yang terluka itu dan mulai menjauh dari kerumunan. Entah apa yang terjadi dengan anjing itu, Lina pun tak berani menduga. Ia tak diperbolehkan mendekati kerumunan. Hanya iba yang di dapat. Sambil menahan kesedihan Lina pun meninggalkan kerumunan meski sesekali menoleh kebelakang.
Tak kuasa dengan apa yang dilihatnya tadi. Sesampainya dirumah ia hanya bisa menangis sesenggukan di dalam kamarnya. Sendirian. Ia dapat merasakan apa yang anjing itu rasakan. Bukankah anjing itu juga punya rasa layaknya manusia.
Melihat kesedihan majikannya, Doggy langsung menghampiri Lina. Doggy dipelihara oleh Lina sejak 2 tahun yang lalu saat dia tak sengaja menemukannya di lorong sebuah gang yang gelap dan kotor. Saat itu Doggy menggonggong lemah sambil terus mengikutinya. Tampaknya dia kedinginan. Diraih dan dipeluknya anjing mungil itu lalu dibawanya pulang untuk dimandikan dan diberinya makan. Sejak itu Doggy menjadi teman setianya.

Malam itu Doggy berada disamping Lina yang berlinang air mata. Melihat kesetiaannya itu, Lina pun memeluknya hingga malam semakin larut dan mereka kemudian terlelap bersama.
Pagi menjelang, mata Lina terbuka dan menatap ke langit-langit rumah. Meneropong jauh ke dalam sebuah masa. Anjing berbulu coklat muda dengan seorang majikan yang mengenakan celana jins berwarna biru luntur sedang bermain bersama disebuah pekarangan rumah. Tampak kedekatan dan jalinan antara keduanya.
Anjing muda ini berjenis kelamin betina. Majikannya sudah merawatnya sejak setahun yang lalu.
“Aku beruntung karena mendapat majikan yang begitu menyayangiku.” batin si anjing.
Sebelumnya aku berada di dalam lingkungan yang orang-orangnya sangat kejam. Mereka hanya tahu bahwa anjing akan menghasilkan uang dengan cara mengikutkannya di dalam sebuah lomba. Uang yang nantinya di dapat akan digunakan untuk membeli minuman keras ataupun berpesta. Anjing hanyalah dijadikan alat baginya.
“Kali ini kau harus menang!”
Sambil melemparkanku di dalam sebuah arena pertarungan. Dihadapanku tampak seekor anjing besar yang beringas. Rahangnya yang kuat berlumuran air liur. Pertarungan dimulai dan kurasakan gigitan keras dileherku. Aku membalas tapi tak dapat mengenainya. Beberapa cakaran pun sempat mampir diwajahku. Gigitan-gigitan itu datang bertubi-tubi mengenai wajah dan tubuhku. Aku mulai lelah dan tak dapat bertahan. Aku merasakan susahnya bernafas dan pudarnya pandanganku. Hingga akhirnya…bruk! Aku pun terjatuh. Masih kurasakan gigitan dan serangan itu meski aku tak dapat menggerakkan semua badanku. Majikanku mulai mendekatiku. Ditariknya anjing yang menggigitku. Pertarunngan usai. 
Majikanku menggendongku menuju sebuah tempat lalu melemparkanku pada sebuah lorong yang gelap. “Pergi dan matilah kau, dasar anjing tak berguna!” Hujan mengguyur dan kurasakan darah yang mengalir. Hingga keesokan harinya dengan badan yang tak berdaya dan perut yang kelaparan. Seseorang menemukan dan membawaku pergi jauh dari tempat yang mengerikan itu.
Aku tak paham. Yang aku tahu saat mulai membuka mata, aku berada di dalam suatu ruangan dengan tanganku yang terbalut perban. Semua terasa berbeda dengan yang kurasakan dulu. Makanan pun sudah disediakannya disampingku. Kulihat sosok itu, menyuruhku makan. Dengan rasa was-was dan takut, aku hanya menatap menatap yang ada disampingku. Majikan terdahuluku tak pernah memberikanku makan sebelum melalui proses olahraga untuk menyiapkanku bertarung. Jika ku ingin makan, semua olahraga yang sudah disiapkan harus dilaluiku terlebih dahulu. Ketakutanku akan hal itu masih ada sampai sekarang.
Majikan baruku ini sangat lembut, dia mengelusku dan menyuruhku untuk makan. “Mungkin kau malu karena kehadiranku. Baiklah aku akan pergi sejenak agar kau mau menghabiskan makananmu.” Ia pun keluar. Melihat tak ada lagi yang melihat, dengan lahap aku mulai menyantap makanan yang ada disampingku sedari tadi. 
Tak beberapa lama, ia kembali. Ia..orang yang memakai celana jins dengan warna biru luntur itu menjadi majikan baruku. Mengajakku bermain di pekarangan setiap pagi dan sore hari. Awalnya sedikit sulit bagiku, bermain bola dengan keadaan tanganku yang masih terbalut perban.
Kuingat hal itu. Betapa baiknya majikan baruku ini. Ia tak pernah memperlakukanku secara kasar. Tak juga ia terlambat memberiku makan. Tidak sepertiku dahulu, ketika awal ku dilahirkan sebagai manusia. Aku begitu senang menyakiti anjingku dan sering kali mengurungnya tanpa memberinya makan.
Ini, sekarang, disini, dilahirkan kembali sebagai seorang Lina yang baru. Lina yang dulu, ada pada posisi anjing itu kini menyadari kesalahannya. Reinkarnasi ini memberikan kesempatan hidup untuk kedua kalinya yang lebih baik. Doggy..anjing kedua yang pernah Lina miliki, tak akan pernah disiakan lagi. Tak pernah dia menginginkan untuk melalui reinkarnasi kembali menjadi seekor anjing sebagai ‘penyadar’ agar tingkah lakunya menjadi lebih baik di kehidupan mendatang. Reinkarnasi yang pernah dilaluinya sudah cukup membuatnya membuka mata.

Tidak ada komentar: