Dia bernama Pooh. Pooh Naenggolan. Aku membelinya
sekitar 4 bulan lalu di pasar burung Jaya seharga Rp. 275.000. Pada waktu itu
Pooh masihlah kecil jika dibandingkan dengan tubuhnya yang montok seperti
sekarang. Dengan mata masih belum bisa melek
dan kepala yang tampak lebih besar dibanding dengan tubuhnya, ku bawa dia
pulang ke rumah dengan menggunakan tas kertas. Baunya khas. Entahlah, aku tak
dapat menjelaskan seperti apa baunya saat itu. Yang pasti, menusuk hidung dan
membuat kepalaku pusing. Tapi dia lucu. Itu yang membuatku rela untuk
membelinya. ^_^
Sekarang Pooh sudah besar. Makannya lele dan minumnya
susu. Selain itu Pooh sekarang sudah punya banyak fans. Yah, sebut saja begitu. Semenjak dia bisa berlari dan berenang,
ayah sering kali mengajaknya ke sungai untuk bermain air atau mencari yuyu
(kepiting kecil yang ada disungai). Dan dari sanalah, cerita Pooh dan
“teman-temannya” bermula.